~~~Be My Girlfriend~~~
Genre : Romance
Cast :
·
Shin Aerie as you
·
Kang Hye Won as Aerie’s friend
·
No Min Woo
·
Jo Young Min
·
Jo Kwang Min
~~~~Aerie’s
POV
Tadi itu hampir saja. Kalau aku
terus berada di sana, entah apa jadinya. Aku yakin ia akan memaksaku terus
sampai aku berkata ‘iya’. Benar-benar menyesakkan. Untung saja telepon ini
menyelamatkanku. Saved by the bell...
Sekarang apa?
Aku tak mungkin bisa menghindarinya
terus. Tapi jika aku menjawab ‘iya’, maka aku akan terluka lebih daripada ia
jika aku menolaknya. Min Woo gak ngerti.....
Ish...aku seperti orang bodoh saja.
Sendirian di taksi ini dan sibuk memikirkan orang yang berpotensi besar melukai
hatiku. Aku mengerti sih, tapi bagaimana aku bisa menolaknya? Karena,
sepertinya sekarang aku menyukainya. Kuharap belum terlalu parah karena aku harus
segera menyingkirkan dia dari hidupku. Aku dan dia mungkin akan terluka, tapi
ini yang terbaik.
Min Woo-ya, mianhae.....na do
saranghae....
~~~~Min Woo’s POV
Pergi...nggak,....pergi....nggak
PERGI!
Aku gak peduli lagi sekalipun nanti
dia mukulin aku atau yang paling ekstrem jika aku harus berhadapan dengan
seluruh anggota keluarganya. Aku gak akan mundur! Semangat Min Woo!
~~~~Author’s POV
@Incheon
Airport
“Oppa!!!”
Aerie menghambur ke dalam pelukan kakak laki-lakinya. Kakaknya itu mengelus
puncak kepala Aerie sayang. Adik kecilnya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis
cantik.
“Sudah, sudah.....ayo turun dulu, oppa ingin melihat wajahmu.” Kakaknya –
Hee Chul – mengelus pipi Aerie yang selalu bersemu merah. “Kau sangat cantik.
Ah, kamu tidak punya namjachingu kan?” selidik kakaknya. Perlu diketahui
kalau Hee Chul ini mengidap sister complex yang sudah sangat akut. Ia tak suka
ada namja berkeliaran di sekitar adik
kesayangannya. Menurutnya tidak ada satu pun orang yang sepadan untuk adiknya
ini.
“Oppa
sehat? Aku kangen sekali!” Aerie memeluk kakaknya lagi mencoba mengalihkan
perhatian. “Kenapa mendadak sekali pulangnya? Aku kaget sekali saat menerima
telepon dari oppa.” Untuk saat ini,
ia ingin melupakan masalahnya dan Min Woo.
Kakaknya ini sudah tinggal di Jepang bersama
nenek mereka yang asli Jepang sejak Aerie masih berusia 4 tahun dan hanya 2
kali saja ia pulang ke Korea sejak tinggal di sana. Sekarang kakaknya adalah
Direktur perusahaan keluarga milik Neneknya. Cara mereka berhubungan adalah
lewat e-mail. Tak pernah sehari pun Aerie lupa mengirimi kakaknya ini e-mail,
dan begitu sebaliknya.
“Tentu saja sehat. Bagaimana kalau
kita makan di restoran dulu. Sebentar lagi sudah waktunya makan malam.
Bagaimana?”
“Oke...” Aerie tersenyum lalu menggelayut
manja di lengan kakaknya.
***
@Restoran
Aerie biasanya berjalan dengan
tegak, tatapan lurus dan dingin, tanpa senyum. Tapi hanya jika bersama Hee Chul
saja ia bisa menjadi dirinya yang sebenarnya. Tersenyum saat ia ingin tersenyum
dan menangis saat ia sedih. Hae Chul adalah satu-satunya orang yang paling ia
sayangi di seluruh dunia. Selama hidupnya hanya Hee Chul saja yang peduli
padanya dan tulus menyayanginya. Kalau sampai sekarang ia masih hidup, maka Hee
Chul-lah sebabnya.
“Oppa
kenapa tiba-tiba datang? Apa akan lama tinggal di sini? Apa oppa tinggal di rumah bersamaku?” Aerie
bertanya dengan semangat. Ia ingin selalu ada di sisi oppa-nya. Itu akan membuatnya nyaman. Lihat? Ia bahkan lebih banyak
bicara daripada biasanya.
“Hanya sehari atau dua hari saja.
Ada urusan perusahaan yang harus di selesaikan jadi oppa akan menginap di hotel, supaya tidak terlalu jauh. Bagaimana
sekolahmu?” Hee Chul menggenggam tangan Aerie yang berada di atas meja. Siapa
saja yang melihat mereka pasti akan menganggap mereka sebagai pasangan kekasih.
“Baik. Mm....aku dapat beasiswa.”
Ucap Aerie ragu.
“Oh ya? Kemana? Eomma dan appa sudah
tahu?”
“Ani.... ke Je..pang?” ia menatap Hee
Chul untuk melihat reaksinya.
“Serius?!
Sudah kau terima saja! Kalau begitu kan kita bisa bersama-sama setiap hari!”
“Aishh...oppa ini! Bahasa jepangku belum bagus!”
“Untuk
apa ada aku kalau begitu?” cibir kakaknya. “Ah, sebaiknya kita pulang sekarang. Eomma dan appa pasti cemas kalau kau belum pulang jam segini!” ia lalu bangkit
dan menarik kopernya.
“Andwae...” bisik Aerie.
“Apa?
Kau bilang sesuatu?” Hee Chul meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
“Tidak.
Sudah, ayo kita pulang.”
~~~~Min Woo’s POV
Aku sampai saat matahari sudah tenggelam, aku terlalu
buang-buang waktu saat menimbang apa aku harus datang. Tapi ini demi kejelasan
statusku. Apa Aerie akan marah kalau aku datang?
Benar kata Hye Won, rumahnya jauh sekali. Satu kata yang
terlintas saat aku melihat rumahnya adalah: mewah. Yah, kalau aku bisa sampai
betemu Aerie di pesta waktu itu, pasti ayahnya juga seorang pengusaha.
Aduh. Kok jadi deg-degan gini? Ya! No Min Woo! Kau harus berani!
TINGTONG!
Sudah kupencet belnya. Dead end Min Woo! Kau tidak bisa
mundur lagi!
“Siapa?” sebuah suara menyapaku dari speaker kecil di
atas bel.
“Saya No Min Woo, ingin bertemu dengan Shin Aerie.” Kataku.
Dan akhirnya setelah beberapa saat pintu gerbang pun terbuka.
Aku pun masuk dan terus berjalan
menuju pintu utama. Melewati taman yang sangat terawat dan penuh dengan aneka
macam bunga dan pohon. Begitu sampai di depan pintu, kepalaku lagi-lagi
dipenuhi macam-macam pikiran. Seperti bagaimana reaksi Aerie nanti, apa aku
akan di tolak, atau bagaimana langkahku selanjutnya jika ternyata Aerie belum
pulang. Kalau sampai harus menunggu dan ngobrol dengan orang tuanya aku rasa
itu terlalu horor. Dan kalau aku pulang dan kembali lagi saat Aerie sudah
pulang pasti akan buang-buang waktu. Ah....sudahlah! Masa bodo kalau dia marah,
atau aku harus diusir orang tuanya pun aku rela deh. Demi Aerie apapun aku
lakukan.
Ketika aku mau membuka pintu,
tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya. Dan di sanalah, aku melihat
Aerie yang duduk manis di sofa ruang tamu yang sangat luas. Kali ini entah
mengapa aku merasa bertemu lagi dengan sosok ‘Aerie’ yang lain seperti di
pesta. Mungkin aku langsung merasa begitu karena Aerie kali ini juga mengenakan
gaun bergaya lolita dan rambutnya juga berubah ikal yang berkesan girly. Dan
aku yakin ia memakai make-up. Aneh.
“Kenapa kau langsung pergi? Apa kau
tidak memikirkan perasaanku?” aku langsung ngomel dan berjalan ke arahnya. Tapi
Aerie malah diam saja dan hanya tersenyum. Jangan harap hanya dengan senyummu
aku bisa ditaklukan, karena aku sudah sangat marah.
Aerie berdiri lantas menghampiriku.
“Kenapa kau selalu marah?” katanya lembut.
“Karena kau sudah seenaknya! Kau
egois! Aku sudah mempersiapkan itu selama berhari-hari, memberanikan diriku
untuk menembakmu di hadapan semua murid DOS dan kamu hanya bilang ‘bagus’?”
ujarku berapi-api. Lagi-lagi ia hanya tersenyum.
“Lalu kau datang kemari untuk tahu jawabanku?” tanyanya sambil tersenyum
lagi tapi aku hanya diam, rasanya saat itu juga ingin kubenturkan kepalaku ke
tembok saking frustasinya.
“Sini....kuberitahu jawabannya.
Menunduklah....akan ku bisiki....” tanpa sadar aku mengikuti perintahnya,
tapi..kok, loh? LOH?
Dia menCIUMku!
~~~~Aerie’s POV
“Oppa
hanya mengantarku saja? Tidak mau tinggal di sini?” rajukku entah untuk
yang keberapa kalinya. Aku tak mau ia pergi.
“Tidak bisa....tapi besok kita bisa
ketemu lagi kok. Nah, sudah sampai...” kami kemudian turun. Tapi ada sebuah
mobil yang aku tahu bukan mobil eomma atau
appa terparkir di depan rumah. Tapi
kok, sepertinya aku pernah lihat ya?
“Ah, oppa mengirimu baju. Sepertinya akan cocok sekali kalau kamu yang
memakainya. Seharusnya sudah datang sejak tiga hari lalu. Apa kau menyukainya?”
Hee Chul membukakan pintu untuk Aerie.
“Ah...iya. bajunya bagus sekali.”
Sekarang aku makin penasaran, siapa yang datang ke rumah kami? Karena pintu
rumah terbuka sedikit.
“Kamu kenapa?” tanya Hee Chul yang
menyadari perubahan sikapku. Ia jadi ikut berlari kecil mengikutiku.
Perasaanku aneh, entah kenapa....
Aku membuka pintu lebih lebar lagi,
dan saat itu aku melihat Min Woo dan seorang cewek sedang berciuman di ruang
tamu kami. Min Woo dan Maeri.
“Kena...pa?” Hee Chul oppa juga ikut terpaku begitu melihat
pemandangan yang ada di hadapan kami.
Min Woo, dan
Maeri...mereka....berciuman?
Tidak mungkin......
~~~~Min Woo’s POV
GILA!
Aerie...kenapa kamu jadi begini~~~?
Kenapa menciumku sekarang?? apa kamu
mencoba meredam amarahku?
Tapi....aneh. entah mengapa
lagi-lagi aku merasa dia bukan Aerie-ku. Siapa? Aerie tak mungkin bersikap
begini. Dia itu terlalu alergi pada cowok. Lalu kenapa jadi begini???
Wua...ada yang datang! Tapi Aerie
masih menempel padaku. Bagaimana ini? Untuk melepaskannya...aku, sedikit tidak
rela.
Loh? Itu kan.....AERIE??
Ada apa sebenarnya dengan ku??
Kenapa jadi berhalusinasi begini?? Kenapa bisa ada dua Aerie??? Argghhhhhhh aku
bisa gila!!!
~~~~Author’s POV
Selama sepersekian detik, Aerie
membatu di tempatnya. Hingga akhirnya ia berbalik dan berlari ke luar rumah.
Hee Chul sempat mengamati dua orang yang entah mengapa sukses membuat adik
manisnya berlari seakan dikejar hantu. Anehnya, yeoja itu mengenakan pakaian yang ia kirimkan untuk Aerie. Ia
sangat mengenali baju itu, karena ia sendiri yang memilihkannya jadi tak
mungkin salah. Sebelum ia sempat memaki mereka berdua, ia sadar bahwa yang
terpenting adalah menemuai Aerie yang lari entah ke mana.
“Aerie...ada apa? Kau baik-baik
saja?” Hee Chul menatap khawatir pada Aerie yang sepertinya terisak dibalik
telapak tangannya. Aerie hanya diam, duduk di kursi mobil sambil menangkupkan
telapak tangannya di wajah.
“Oppa....”
~~~~Aerie’s POV
Sakit...hatiku terasa sangat sakit.
Sesak sekali, aku tidak bisa lagi menahannya....
Tapi
kenapa? Kenapa harus Maerie? Kenapa???
Kenapa!!!
~~~~Min Woo’s POV
Ke mana sih dia sebenarnya? Sudah
tiga hari ini dia menghilang. Bahkan Hye Won juga tidak tahu di mana ia
sebenarnya.
“Masih tidak ada kabar juga dari
Aerie?” tanya Young Min, di sampingnya ada Hye Won yang sekarang makin lengket
dengannya. Sudah resmi pacaran sih...bikin BT aja lihatnya.
“Ya...Hyung, apa cinta selalu begini? Membuat luka dulu sebelum bahagia?”
tanya Kwang Min.
Sialan! Aku mendelik padanya. Tapi
ia tidak seperti biasanya, kali ini ia tampak serius. Aneh, apa ia tertular
olehku? Jadi ikut-ikutan galau?
“Sudahlah, jangan ngomong
macam-macam.” Balas Young Min.
Hening lagi....
“Ne.....yeoboseo?”
Hye Won menjauh dan berjalan ke dekat pintu. Seseorang baru saja
meneleponnya. Sesaat kemudian ia memberi isyarat, ia mau pergi sebentar yang
di-iyakan oleh Young Min.
Sekarang apa?
Jujur saja, untuk kembali ke rumah
itu aku benar-benar tidak berminat. Apalagi ada yeoja itu. Aishhh...aku
jadi ingat lagi dengan malam itu.
“Siapa kamu?! Kamu bukan Aerie
kan??” desisku sambil mendorong tubuh yeoja
itu. Yang ditanyai malah tersenyum sambil mengelap sudut bibirnya. Menjijikkan
sekali. Aku menoleh ke arah pintu, dan jantungku terasa mencelos saat mendengar
suara mobil yang menjauh.
“Sudah terlambat untuk
mengejarnya...” ucapnya seakan tahu pikiranku. Lalu dengan santainya ia
berjalan ke arah sofa kemudian duduk sambil menyilangkan kaki. “Ayo...duduk di
sini.” Ia menepuk sofa di sampingnya.
“Ya!”
bentakku, ini benar-benar kelewatan! “Siapa kamu?! Kenapa seenaknya melakukan
‘itu’ padaku?!”
“Aku?!” tanyanya sambil menunjuk
wajahnya sendiri. “Ah...namaku Maeri.” Ia tersenyum. Senyum yang sama sekali
kubenci. Apaan itu? Tidak ada manis-manisnya!
“Sudahlah, jangan ngambek begitu.
Cowok sepertimu pasti sudah sering ciuman dengan gadis-gadis kan?” ia tertawa
kecil. “Lagipula, untuk apa kau mengejar adikku itu? Lebih baik kau temani aku saja.” Selorohnya.
“MWO????”
aku mendelik padanya. “Anggap saja kali ini aku sedak berbaik hati, jadi
aku tidak akan memukulmu. Tapi, kau harus menjawab pertanyaanku.”
“Anything for you...^^” ia tersenyum
lagi. Hampir saja aku muntah dibuatnya.
“Apa, apa kamu yang kutemui waktu
itu? Di pesta?” aku langsung mencetuskan hal yang paling ingin aku ketahui
setelah sikap Aerie yang kurasa aneh.
“Bingo!” ia lagi-lagi tersenyum.
“Kenapa? Kecantikanku selalu membayangimu?”
Cih, pede sekali. Maaf saja, Aerie
itu ribuan kali lebih cantik dari kamu tahu! Pantas saja Aerie bersikap seperti
itu, ternyata memang kami tidak pernah bertemu di pesta. Aih...aku jadi
menyesal sekarang. Benar-benar cewek ini....
“Sudahlah!” aku bergegas pergi.
“Min Wooya, bersiap-siaplah patah hati.” Pesannya tepat ketika aku
membanting pintu.
Tiba-tiba Hye Won muncul dengan
wajah panik, membuat kami semua kaget dan membuyarkan lamunanku.
“Min Woo-oppa! Mana Min Woo-oppa?!”
katanya panik.
“ Kenapa?” aku langsung berdiri,
“apa itu tadi Aerie?” tebakku. Dan Hye Won mengangguk kuat-kuat, membuatku lega
sekaligus khawatir. Ada apa lagi sekarang?
“Tadi
di telepon...” Hye Won tampa kesulitan bicara karena sibuk menahan air mata
yang mau keluar, “dia bilang dia akan pergi ke Jepang, sudah di bandara
sekarang.”
“MWO???”
aku, Young Min dan Kwang Min jerit bersamaan.
“Oppa
bagaimana ini? Dia bilang tak akan kembali lagi! Dia bilang selamat tinggal!! Oppa lakukan sesuatu! Aerie....hiks..”
Hye Won akhirnya menangis. Young Min merangkulnya dan mencoba menenangkannya.
“Kenapa kau masih di sini?!” Young
Min membentakku. Yah...aku memang kaget sekali, dan bingung harus apa sekarang.
“Ini...pakai motorku!” tiba-tiba Young Min melemparkan kunci motornya.
“Komawo...”
aku melemparkan senyum lantas melesat pergi.
Aerie...tunggu aku. Sebentar saja,
tunggu aku....
Aerie, kajima.....
~~~~Author’s POV
“Aerieya, gwenchana?” Hee Chul
menepuk pundak adiknya pelan. Sejak beberapa hari lalu adiknya begitu murung.
Tapi tak ada cara yang bisa dilakukannya untuk membuatnya tersenyum.
“O,
gwenchana...” sahutnya. Apanya yang baik-baik saja? Hee Chul hanya bisa menerima
jawaban itu dan diam.
“Oppa...”
bisik Aerie, “kapan kita berangkat? Masih lama?”
Hee Chul melirik jam di pergelangan
tangannya. “Sekitar 30 menit lagi.”
“Oh.” Gumamnya.
“Aerie...”
“Oppa!”
potong Aerie, “sebentar saja. Oppa mau
mendengar ceritaku?”
“Tentu saja.” Jawab Hee Chul. Apapun
itu, sebagai kakak, ia siap menampung semua cerita Aerie. “Ceritakan pada oppa...”
~~~~Aerie’s POV
Aku tak tahu apa benar tindakanku ini.
Tapi, aku ingin menceritakannya agar di Jepang nanti aku bisa memulai hidupku.
Seperti memulai awalan yang baru. Tapi, jika aku terus menyimpan cerita ini,
aku tak akan bisa lepas dari bayangan masa laluku. Dan bukan itu yang aku
harapkan. Untuk bisa mengobati hatiku, untuk bisa menjadi manusia yang baru,
untuk melupakan semuanya. Melupakan Min Woo-oppa.....
“Oppa
ingat dulu aku pernah ikut les balet?” aku mulai mencoba membuka cerita
yang sudah lama terkubur. Hee Chul oppa mengangguk.
“Tahu kenapa aku berhenti?” dia
menggeleng. Yah...aku memang tak pernah cerita tentang ini sebelumnya. Tidak
juga pada siapapun. Dan kurasa, sekarang aku harus menceritakannya.
“Itjanha....”
~~~~Author’s
POV
“Mommy....look!
I’ve got the throphy!!” Aerie kecil
menghampiri ibunya yang tengah menjaga kakaknya Maeri. Di tangan kecilnya ada
sebuah tropi penghargaan dari kontes balet yang baru saja diikutinya.
Seharusnya Maeri juga ikut, tapi di hari-hari terakhir menjelang kontes, Maeri
jatuh sakit. Sejak lahir Maeri memang bertubuh lemah.
“Apa itu?” bisik Maeri lemah sambil
mencoba bangkit agar bisa melihat lebih jelas tapi malah terjatuh lagi.
“Maeri! Jangan bangun dulu, tubuhmu
masih lemah.” Ibunya memperingatkan tapi malah membuat Maeri menangis kencang.
“Lihat apa yang sudah kau lakukan
pada kakakmu!” bentak ibunya pada Aerie yang cuma bisa diam. Apa salahnya?
Ibunya nampak kesal, ditambah lagi Maeri kejang-kejang karena menangis kencang.
Sambil menghela napas, ibunya menarik tropi yang ada di tangan Aerie.
“Biar eomma yang simpan.” Jawab ibunya singkat dan mengibaskan tangannya,
menyuruh Aerie pergi.
Malam harinya Aerie terbangun karena
mendengar suara aneh dari dapur. Ia pun turun dari ranjangnya. Sambil
mengandap-ngendap ia mencoba melihat siapa atau apa yang sedang berada di
dapur.
Meski dalam gelap, ia bisa
mengenalinya. Itu adalah Mommy-nya. Tapi apa yang mau ia lakukan dengan stick
baseball itu?
Dan detik itu juga, Aerie sadar air
matanya sudah membanjir.
Seperti tanpa ampun, mommynya
memukulkan stick itu ke tropi milik Aerie yang sudah tak berbentuk lagi di atas
meja dapur. Setiap kali stick itu di pukulkan, sebenarnya stick itu sedang
menghancurkan hati Aerie. Aerie hanya bisa menangis dan membekap mulutnya,
kenapa? Tanyanya dalam hati. Ia tahu mommynya tidak terlalu menyukainya, tapi
kenapa? Itu tropi yang ia peroleh dengan susah payah, tropi yang sengaja ia
persembahkan untuk kakaknya. Tapi kenapa malah dirusak?
Sejak saat itu, Aerie berhenti
mengikuti les balet. Apa sudah selesai? Tidak juga.
Ketika perlahan mereka beranjak
dewasa, kondisi Maeri pun membaik dan menjadi kesayangan semuanya. Tapi karena
diperlakukan begitu istimewa, Maeri malah jadi sombong. Apapun maunya harus
terwujud, tak peduli bagaimana caranya. Termasuk jika harus merampas milik
orang lain sekalipun itu milik adiknya sendiri.
Jika kamar Maeri dipenuhi boneka,
maka tidak begitu dengan kamar Aerie. Semua bonekanya dirampas paksa oleh Maeri
termasuk boneka yang dikirim dari Jepang oleh Hee Chul. Juga pakaian, jika
Maeri memiliki pakaian yang bagus dan sangat cantik, Aerie harus puas dengan
baju yang biasa-biasa saja. Itu pun ia sendiri yang membelinya dengan uang saku
miliknya. Singkatnya, ia seperti anak tiri di keluarganya, jika tak mau disebut
sebagai pembantu.
Maerie juga-lah alasan tunggal ia
pindah sekolah. Di sekolah lamanya, Aerie anak yang sangat pintar dan
berprestasi, tapi Maerie yang iri dan dongkol karena dibanding-bandingkan
akhirnya melakukan hal yang membuat Aerie sangat sakit hati. Jika hanya sekedar
merampas barang-barangnya saja Aerie tak masalah, itu sudah menjadi kebiasaan
dan Aerie pun sudah belajar untuk tidak menyukai apapun atau mencintai apapun
karena Maerie akan merampasnya dan ia hanya bisa merasa terluka. Tapi saat itu,
Aerie merasa benar-benar sakit hati.
Seharusnya Aerie yang menjadi juara
umum, dan Maerie di posisi kedua – itu pun karena Maeri mencontek saat ujian –
tapi ia tidak terima dan mengadu pada Mommynya. Dan yang membuat Aerie sakit
hati adalah kenyataan bahwa mommynya menyogok pihak terkait agar Maerie-lah
yang menjadi juara umum. Saat itu Aerie tak sengaja lewat di depan ruang guru
dan mendengar pembicaraan itu. Sungguh aneh kan? Dan itu menyadarkan Aerie
bahwa selama ini ia benar-benar tak dipandang, hanya seseorang yang tidak penting.
Aerie meradang, dan ia memutuskan untuk pindah saja. Saat mendengar hal itu,
mommynya bahkan tidak bertanya mengapa, membuat Aerie lebih sakit hati lagi.
Dan jika ada acara penting atau
acara keluarga, Aerie tidak pernah diajak, seakan mereka hanya mempunyai satu
orang putri. Seperti pesta yang digelar di hotel tempat Maerie dan Min Woo
bertemu. Setelah mendengar kata-kata Min Woo, Aerie menyimpulkan bahwa yang
ditemui Min Woo waktu itu adalah Maerie. Ketika itu, Aerie merasa tidak akan
terjadi masalah sekalipun Min Woo menganggap Maerie adalah dirinya. Tapi
sekarang tidak lagi.
Saat menyadari wajahnya memanas dan
terasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya saat Min Woo menyatakan
perasaannya, Aerie langsung tersadar. Maerie akan melakukan apapun untuk
merebut Min Woo karena hal itu akan membuatnya terhibur. Aneh memang, saat
melukai saudara sendiri sudah dijadikan ajang hiburan. Saat itu juga Aerie
menegaskan batas yang terus menjaganya tetap hidup. Ia harus tetap di daerah
amannya, dimana hanya ada dia, tanpa ada satu hal yang disukainya tanpa ada
seseorang yang menemaninya. Meskipun Min Woo dan Maerie tidak pernah bertemu
pun, Aerie ragu. Maerie selalu menemukan cara untuk menyiksanya. Bukan tak
mungkin ia akan mengetahui soal Min Woo dan merebutnya. Jika begitu, rasa sakit
Aerie akan terasa berkali-lipat lebih pedih. Jadi ia memutuskan untuk
mengenyahkan perasaannya. Perasaan cinta pertamanya.
Tapi jika Aerie mengingat harapan
serta perasaan cinta yang tersirat dari mata Min Woo waktu itu, ia jadi dilanda
dilema. Apakah benar yang dilakukannya ini? Bukankah di saat begini ia harus
memperjuangkan perasaannya? Sempat ia berpikir untuk jujur pada perasaannya,
tapi ia langsung mengurunkan niat itu. Ia takut. Entah mengapa. Mungkin ia
takut kalau sebenarnya yang disukai Min Woo adalah Maerie. Atau Min Woo
berhasil terpikat oleh Maerie. Maerie itu cantik – sekalipun mereka kembar, ia
merasa Maerie lebih cantik – dan bukannya tak mungkin hal itu terjadi.
Jadi, untuk melindunginya, untuk
melindungi Min Woo juga, ia memutuskan untuk menerima beasiswa ke Jepang yang
didapatkannya. Dan mungkin akan terus tinggal di sana bersama Hee Chul. Aerie
berharap cara itu berhasil membunuh perasaannya yang entah mengapa menjadi
mengganas dalam 3 hari saat ia menghindari Min Woo dan berdiam diri di hotel
Hee Chul. Ia tercekat saat menyadari betapa ia ingin sekali bertemu Min Woo dan
ingatan saat melihat Maerie dan Min Woo berciuman membuat hatinya sakit.
Terlebih kenyataan bahwa bayangan Min Woo yang terus hadir dan menerornya
membuat jantungnya terus berdebar kencang, ia tak tahu lagi sekarang harus apa?
Ia ingin melupakan Min Woo. Tidak.
Ia HARUS melupakan Min Woo. Tapi, bagaimana bisa jika dengan mengingat namanya
saja jantungnya langsung berdegup kencang tak terkendali?
~~~~Min Woo’s POV
Paru-paruku seakan terbakar dan
wajahku pasti sudah merah. Tapi itu tidak menghentika kakiku untuk segera sampai
di tempat Aerie. Arrrgh......kepalaku seakan mau meledak!
Aerie! Jangan pergi!
~~~~Aerie’s POV
Begitu aku selesai cerita, Hee Chul-oppa hanya diam sambil menatapku dengan
tatapan aneh yang tak bisa kuartikan. Kemudian setelah beberapa saat ia bicara
juga.
“Kenapa kamu tidak cerita pada oppa?” ada amarah yang tertahan, ada air
mata yang menggenang dan siap tumpah. Aku mendesah, mengusap punggung tangan oppa lembut.
“Hanya saat bicara dengan oppa aku merasa normal, merasa
disayangi. Aku tak mau merusaknya dengan menceritakan itu semua dan
mengingatkanku bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan.” Ujarku pelan. Saat
itu juga oppa memelukku erat dan
terisak di atas bahuku. Saat dipeluk, aku merasa dadaku sedikit sesak. Sesak
karena rasa sakit itu datang lagi dan memancing tangisku.
Saat oppa melepas pelukannya, aku berusaha memasang wajah yang biasa
saja. Aku harap perasaan sakit ini segera berakhir. Tapi, oppa menatapku tajam.
“Lalu bagaimana dengan Min Woo?”
katanya. Aku langsung merasa perutku jungkir-balik saat nama itu disebut.
“Soal itu...” aku mengalihkan
tatapanku, seketika itu juga jantungku mulai berdebar tak terkendali. “Dia
pasti akan baik-baik saja.”
“Jangan begini Aerie. Oppa sama sekali tidak suka. Jangan jadi
pengecut.” Kata Hee Chul-oppa, kali
ini dengan wajah serius. “Darimana kau tahu dia akan baik-baik saja? Kenapa
kamu harus terluka lagi? Kamu bisa memperbaikinya, jadi kenapa harus lari?”
Aku meledak mendengar itu semua.
Tangisku membanjir dan langsung sesenggukan. “Aku tidak bisa oppa...aku takut.”
“Kau punya oppa sekarang.” katanya mencoba menenangkan. “sekarang pergilah,
bilang pada Min Woo apa yang kau rasakan sebenarnya.”
Aku menatapnya sambil terus
menangis. Ia merangkulku sejenak sambil menarikku berdiri.
“Cinta itu harusnya membuatmu
bahagia. Dan bukan begini caranya. Cepat pergi...oppa yakin Min Woo juga sedang menunggumu.” Aku memeluk Heeppa dan mengusap air mataku.
“Tenang saja...selama kamu jujur
pada perasaanmu sendiri, semua akan baik-baik saja.” Oppa tersenyum lagi.
“Maaf oppa...maaf, aku tidak bisa ikut denganmu.” Gumamku sambil terus
mengusap air mata yang tidak juga berhenti mengalir. Ia menggeleng sambil
tersenyum. Aku membalas senyumannya lantas berbalik dan berlari.
Berlari ke tempat Min Woo.
~~~~Author’s POV
“Aerie!” teriak Min Woo begitu
melihat yeoja itu yang juga sedang
berlari sepertinya. Beberapa orang menoleh ke arahnya tapi ia tidak peduli.
Aerie seketika itu langsung menghentikan larinya, menoleh, dan melihat orang
yang sangat ingin ditemuinya sekarang hanya berjarak beberapa meter saja dari
tempatnya berdiri.
Min Woo – anehnya – malah membeku di
tempatnya. Padahal setengah mati ia ingin menggerakkan kakinya agar bisa ke
tempat Aerie. Tapi begitu melihat Aerie, seluruh saraf di tubuhnya seakan tak
berfungsi.
Tapi tidak mengapa, karena detik
itu juga Aerie-lah yang berlari ke
arahnya dan akhirnya menubruk tubuhnya keras.
“Min Woo...!” kata Aerie dengan
kelegaan luar biasa. Dan tiba-tiba saja, air matanya kembali membanjir.
“Kenapa? Ada apa denganmu?” tanya
Min Woo khawatir sambil melepaskan pelukan Aerie agar ia bisa melihat wajahnya.
Mata Aerie sudah merah dan bengkak, ujung hidungnya pun memerah.
“Mianhae....jeongmal
mianhae...!!” ucap Aerie sesenggukan. “Aku tahu aku salah! Seharusnya aku
tidak pergi! Maaf!”
“Tenanglah...bicara yang jelas.”
Kata Min Woo khawatir.
“Maeri...” gumam Aerie, membuat mata
Min Woo terbelalak. “Dia...sejak dulu, dia selalu merebut semua milikku. Tapi,
aku tidak bisa melawannya. Sejak dulu, aku tidak pernah menyukai apapun karena
Maeri akan merebutnya dariku. Aku takut untuk merasa terluka, jadi aku selalu
merelakan apapun yang ia rebut dariku....”
Jantung Min Woo mencelos, jadi itu
alasannya.
“Tapi, hanya kamu, yang tidak rela
kulepaskan. Sampai kapanpun.....”
Min Woo menatap mata Aerie, dan
tanpa sadar, ia meneteskan air mata.
~~~~Min Woo’s POV
Aku memeluknya erat. Sangat erat.
Sekarang aku bahkan bisa menghirup aroma tubuhnya yang beraroma jeruk. Ini
nyata, aku bisa merasakan tangannya yang melingkar di pinggangku.
Aerie....tolong jangan pergi
lagi. Jangan menghilang dari hidupku.
~~~~Aerie’s POV
Aku senang sekali. Rasanya
semua beban di atas pundakku menghilang entah kemana. Sekarang hanya ada aku
dan Min Woo. Semuanya terasa begitu indah.
Ia memelukku erat sekali, aku
bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang berdebar kencang.
Tapi, lama kelamaan, aku
mendengar suara yang entah berasal dari mana. Sekarang terdengar makin jelas.
Sepertinya aku pernah mendengarnya......
Niga
animyeon andwae
neo eobsin nan andwae
na ireoke haru handareul tto illyeoneul
na apado joha
nae mam dachyeodo joha nan
geurae nan neo hanaman saranghanikka..........
neo eobsin nan andwae
na ireoke haru handareul tto illyeoneul
na apado joha
nae mam dachyeodo joha nan
geurae nan neo hanaman saranghanikka..........
Aku melirik dari balik lengan Min
Woo dan aku melihat Hee Chul-oppa
berdiri bersandar di pilar dekat kami dengan i-pod yang disetel dengan volume
full. Matanya menatap kami tajam, ia menyeringai. Koperku dan kopernya
tergeletak manis di dekat kakinya. Mataku melebar setelah sadar dari euforia
dipeluk Min Woo lantas mendorong namja itu
hingga ia melepaskan pelukannya.
“Kau kenapa?” Min Woo kaget lalu
mengikuti arah pandangan mataku.
“Min Wooya?” tanya Hee Chul-oppa dengan
senyuman yang sangat mencurigakan. Ia berjalan mendekat lantas mengitari Min
Woo seakan menilainya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sedangkan Min Woo
hanya diam sambil menatap oppa aneh.
“Oppa....kenapa
masih...?” aku tak berani melanjutkan ucapanku begitu melihat matanya menatapku
tajam. Aku benar-benar lupa kalau oppa itu
sister complex akut! Gara-gara tadi oppa kelihatan
meyakinkan banget sih pas nyuruh aku nyamperin Min Woo. Semoga aja, Min Woo gak diapa-apain.
~~~~Author’s POV
“Kamu yang namanya Min Woo?” tanya
Hee Chul dengan tatapan galak. Ditambah rambut panjangnya yang diikat seperti
seorang samurai menambah kesan sangar. Cocok juga kalau dipanggil yakuza.
“Iya.” Jawab Min Woo. Ia sudah
menduga kalau Hee Chul adalah kakak Aerie. Hye Won yang bilang kalau Aerie
punya satu kakak laki-laki. Sebenarnya ia sedikit ngeri kalau melihat Hee Chul
yang seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tapi ternyata rasa cintanya sedikit
membantu agar kakinya tetap berdiri tegak.
“Oppa...”
Aerie baru hendak mendekat tapi Hee Chul menatapnya tajam.
“Diam dulu. Oppa ada urusan dengannya.” Tandas Hee Chul sambil menepuk bahu Min
Woo.
“Ada apa?” tanya Min Woo. Setengah
mati menahan perasaan.
“Kau serius dengan adikku?” tanya
Hee Chul tajam sambil bersedekap.
“Tentu saja!” Min Woo setengah
teriak.
“Kalau begitu, kau harus tahu
persyaratannya.”
Aerie membelalak, “oppa, apa-apaan sih?” tapi Hee Chul
berhasil membuatnya diam dengan tatapannya.
“Pertama, kau harus bisa menjaga
adikku. Sedikitnya, kau harus bisa taekwondo dan karate. Kedua, sekali kau membuatnya
menangis, atau mengeluh atau terluka atau apapun itu yang tidak pernah
kubiarkan terjadi, maka kau.....TAMAT!” Hee Chul mendekatkan wajahnya, menatap
mata Min Woo seakan ingin menusuknya dengan pisau. “Arraso?!” bentaknya.
“NE!” Min Woo refleks menjawab.
Aerie yang tadi begitu cemas malah jadi ingin tertawa melihat ekspresi Min Woo.
“Jadi, apa yang bisa kau lakukan?”
tanya Hee Chul lagi.
“Ah...” Min Woo bingung, selain dance ia tidak bisa beladiri. Bagaimana
ini?
“Kau bisa Judo?” Hee Chul bertanya
seakan mereka sedang latihan militer.
Min Woo menggeleng.
“Taekwondo?” Min Woo menggeleng
lagi.
“Karate?” lagi-lagi Min Woo
menggeleng.
Hee Chul mendengus. Lalu dengan
tatapan terkejamnya ia menatap Min Woo.
“Mulai besok, selama seminggu full,
mulai pulang sekolah selama 4 jam, kau akan kulatih sampai aku merasa kau cukup
mampu menjaga adikku. Mengerti?!”
“MWOOO?????”
Aerie dan Min Woo bertatapan dan meneguk ludah masing-masing.
Aerie melempar pandangan prihatin
pada Min Woo. Bagaimana kalau kakaknya nanti kelewatan dan Min Woo ‘lewat’.
TIDAKKKK.....!!
Min Woo tersenyum. “Yasudahlah
Aerie....tenang saja. Begini-begini aku kuat kok.” Aerie jadi terharu
mendengarnya.
“Kita lihat saja besok.” Potong Hee
Chul dingin.
Min Woo dan Aerie bertatapan.
Sepertinya hubungan mereka tak akan
berjalan semulus yang mereka kira. Dan besok, cinta mereka diuji. Sanggupkah
Min Woo membuktikan perasaannya pada Hee Chul? Semoga saja kali ini Min Woo
tidak meninggalkan Aerie seperti Aerie yang pergi. Dan semoga saja, Min Woo
bisa lulus tes tanpa ada tulang yang patah atau gegar otak.