Kamis, 01 Maret 2012

[Boyfriend]~~~Be My Girlfriend~~~Final Chap.


~~~Be My Girlfriend~~~

Genre  : Romance
Cast     :
·         Shin Aerie as you
·         Kang Hye Won as Aerie’s friend
·         No Min Woo
·         Jo Young Min
·         Jo Kwang Min

~~~~Aerie’s POV
            Tadi itu hampir saja. Kalau aku terus berada di sana, entah apa jadinya. Aku yakin ia akan memaksaku terus sampai aku berkata ‘iya’. Benar-benar menyesakkan. Untung saja telepon ini menyelamatkanku. Saved by the bell...
            Sekarang apa?
            Aku tak mungkin bisa menghindarinya terus. Tapi jika aku menjawab ‘iya’, maka aku akan terluka lebih daripada ia jika aku menolaknya. Min Woo gak ngerti.....
            Ish...aku seperti orang bodoh saja. Sendirian di taksi ini dan sibuk memikirkan orang yang berpotensi besar melukai hatiku. Aku mengerti sih, tapi bagaimana aku bisa menolaknya? Karena, sepertinya sekarang aku menyukainya. Kuharap belum terlalu parah karena aku harus segera menyingkirkan dia dari hidupku. Aku dan dia mungkin akan terluka, tapi ini yang terbaik.
            Min Woo-ya, mianhae.....na do saranghae....

            ~~~~Min Woo’s POV
            Pergi...nggak,....pergi....nggak
            PERGI!
            Aku gak peduli lagi sekalipun nanti dia mukulin aku atau yang paling ekstrem jika aku harus berhadapan dengan seluruh anggota keluarganya. Aku gak akan mundur! Semangat Min Woo!

            ~~~~Author’s POV
            @Incheon Airport
            Oppa!!!” Aerie menghambur ke dalam pelukan kakak laki-lakinya. Kakaknya itu mengelus puncak kepala Aerie sayang. Adik kecilnya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik.
            “Sudah, sudah.....ayo turun dulu, oppa ingin melihat wajahmu.” Kakaknya – Hee Chul – mengelus pipi Aerie yang selalu bersemu merah. “Kau sangat cantik. Ah, kamu tidak punya namjachingu kan?” selidik kakaknya. Perlu diketahui kalau Hee Chul ini mengidap sister complex yang sudah sangat akut. Ia tak suka ada namja berkeliaran di sekitar adik kesayangannya. Menurutnya tidak ada satu pun orang yang sepadan untuk adiknya ini.
            Oppa sehat? Aku kangen sekali!” Aerie memeluk kakaknya lagi mencoba mengalihkan perhatian. “Kenapa mendadak sekali pulangnya? Aku kaget sekali saat menerima telepon dari oppa.” Untuk saat ini, ia ingin melupakan masalahnya dan Min Woo.
Kakaknya ini sudah tinggal di Jepang bersama nenek mereka yang asli Jepang sejak Aerie masih berusia 4 tahun dan hanya 2 kali saja ia pulang ke Korea sejak tinggal di sana. Sekarang kakaknya adalah Direktur perusahaan keluarga milik Neneknya. Cara mereka berhubungan adalah lewat e-mail. Tak pernah sehari pun Aerie lupa mengirimi kakaknya ini e-mail, dan begitu sebaliknya.
            “Tentu saja sehat. Bagaimana kalau kita makan di restoran dulu. Sebentar lagi sudah waktunya makan malam. Bagaimana?”
            “Oke...” Aerie tersenyum lalu menggelayut manja di lengan kakaknya.

***
            @Restoran
            Aerie biasanya berjalan dengan tegak, tatapan lurus dan dingin, tanpa senyum. Tapi hanya jika bersama Hee Chul saja ia bisa menjadi dirinya yang sebenarnya. Tersenyum saat ia ingin tersenyum dan menangis saat ia sedih. Hae Chul adalah satu-satunya orang yang paling ia sayangi di seluruh dunia. Selama hidupnya hanya Hee Chul saja yang peduli padanya dan tulus menyayanginya. Kalau sampai sekarang ia masih hidup, maka Hee Chul-lah sebabnya.
            Oppa kenapa tiba-tiba datang? Apa akan lama tinggal di sini? Apa oppa tinggal di rumah bersamaku?” Aerie bertanya dengan semangat. Ia ingin selalu ada di sisi oppa-nya. Itu akan membuatnya nyaman. Lihat? Ia bahkan lebih banyak bicara daripada biasanya.
            “Hanya sehari atau dua hari saja. Ada urusan perusahaan yang harus di selesaikan jadi oppa akan menginap di hotel, supaya tidak terlalu jauh. Bagaimana sekolahmu?” Hee Chul menggenggam tangan Aerie yang berada di atas meja. Siapa saja yang melihat mereka pasti akan menganggap mereka sebagai pasangan kekasih.
            “Baik. Mm....aku dapat beasiswa.” Ucap Aerie ragu.
            “Oh ya? Kemana? Eomma dan appa sudah tahu?”
            Ani.... ke Je..pang?” ia menatap Hee Chul untuk melihat reaksinya.
            “Serius?! Sudah kau terima saja! Kalau begitu kan kita bisa bersama-sama setiap hari!”
            Aishh...oppa ini! Bahasa jepangku belum bagus!”
            “Untuk apa ada aku kalau begitu?” cibir kakaknya. “Ah, sebaiknya kita pulang sekarang. Eomma dan appa pasti cemas kalau kau belum pulang jam segini!” ia lalu bangkit dan menarik kopernya.
            Andwae...” bisik Aerie.
            “Apa? Kau bilang sesuatu?” Hee Chul meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
            “Tidak. Sudah, ayo kita pulang.”
           
            ~~~~Min Woo’s POV
            Aku sampai saat matahari sudah tenggelam, aku terlalu buang-buang waktu saat menimbang apa aku harus datang. Tapi ini demi kejelasan statusku. Apa Aerie akan marah kalau aku datang?
            Benar kata Hye Won, rumahnya jauh sekali. Satu kata yang terlintas saat aku melihat rumahnya adalah: mewah. Yah, kalau aku bisa sampai betemu Aerie di pesta waktu itu, pasti ayahnya juga seorang pengusaha.
            Aduh. Kok jadi deg-degan gini? Ya! No Min Woo! Kau harus berani!
            TINGTONG!
            Sudah kupencet belnya. Dead end Min Woo! Kau tidak bisa mundur lagi!
            “Siapa?” sebuah suara menyapaku dari speaker kecil di atas bel.
            “Saya No Min Woo, ingin bertemu dengan Shin Aerie.” Kataku. Dan akhirnya setelah beberapa saat pintu gerbang pun terbuka.
            Aku pun masuk dan terus berjalan menuju pintu utama. Melewati taman yang sangat terawat dan penuh dengan aneka macam bunga dan pohon. Begitu sampai di depan pintu, kepalaku lagi-lagi dipenuhi macam-macam pikiran. Seperti bagaimana reaksi Aerie nanti, apa aku akan di tolak, atau bagaimana langkahku selanjutnya jika ternyata Aerie belum pulang. Kalau sampai harus menunggu dan ngobrol dengan orang tuanya aku rasa itu terlalu horor. Dan kalau aku pulang dan kembali lagi saat Aerie sudah pulang pasti akan buang-buang waktu. Ah....sudahlah! Masa bodo kalau dia marah, atau aku harus diusir orang tuanya pun aku rela deh. Demi Aerie apapun aku lakukan.
            Ketika aku mau membuka pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya. Dan di sanalah, aku melihat Aerie yang duduk manis di sofa ruang tamu yang sangat luas. Kali ini entah mengapa aku merasa bertemu lagi dengan sosok ‘Aerie’ yang lain seperti di pesta. Mungkin aku langsung merasa begitu karena Aerie kali ini juga mengenakan gaun bergaya lolita dan rambutnya juga berubah ikal yang berkesan girly. Dan aku yakin ia memakai make-up. Aneh.
            “Kenapa kau langsung pergi? Apa kau tidak memikirkan perasaanku?” aku langsung ngomel dan berjalan ke arahnya. Tapi Aerie malah diam saja dan hanya tersenyum. Jangan harap hanya dengan senyummu aku bisa ditaklukan, karena aku sudah sangat marah.
            Aerie berdiri lantas menghampiriku. “Kenapa kau selalu marah?” katanya lembut.
            “Karena kau sudah seenaknya! Kau egois! Aku sudah mempersiapkan itu selama berhari-hari, memberanikan diriku untuk menembakmu di hadapan semua murid DOS dan kamu hanya bilang ‘bagus’?” ujarku berapi-api. Lagi-lagi ia hanya tersenyum.
            “Lalu kau datang kemari untuk  tahu jawabanku?” tanyanya sambil tersenyum lagi tapi aku hanya diam, rasanya saat itu juga ingin kubenturkan kepalaku ke tembok saking frustasinya.
            “Sini....kuberitahu jawabannya. Menunduklah....akan ku bisiki....” tanpa sadar aku mengikuti perintahnya, tapi..kok, loh? LOH?
            Dia menCIUMku!

            ~~~~Aerie’s POV
            Oppa hanya mengantarku saja? Tidak mau tinggal di sini?” rajukku entah untuk yang keberapa kalinya. Aku tak mau ia pergi.
            “Tidak bisa....tapi besok kita bisa ketemu lagi kok. Nah, sudah sampai...” kami kemudian turun. Tapi ada sebuah mobil yang aku tahu bukan mobil eomma atau appa terparkir di depan rumah. Tapi kok, sepertinya aku pernah lihat ya?
            “Ah, oppa mengirimu baju. Sepertinya akan cocok sekali kalau kamu yang memakainya. Seharusnya sudah datang sejak tiga hari lalu. Apa kau menyukainya?” Hee Chul membukakan pintu untuk Aerie.
            “Ah...iya. bajunya bagus sekali.” Sekarang aku makin penasaran, siapa yang datang ke rumah kami? Karena pintu rumah terbuka sedikit.
            “Kamu kenapa?” tanya Hee Chul yang menyadari perubahan sikapku. Ia jadi ikut berlari kecil mengikutiku.
            Perasaanku aneh, entah kenapa....
            Aku membuka pintu lebih lebar lagi, dan saat itu aku melihat Min Woo dan seorang cewek sedang berciuman di ruang tamu kami. Min Woo dan Maeri.
            “Kena...pa?” Hee Chul oppa juga ikut terpaku begitu melihat pemandangan yang ada di  hadapan kami.
            Min Woo, dan Maeri...mereka....berciuman?
            Tidak mungkin......     

            ~~~~Min Woo’s POV
            GILA!
            Aerie...kenapa kamu jadi begini~~~?
            Kenapa menciumku sekarang?? apa kamu mencoba meredam amarahku?
            Tapi....aneh. entah mengapa lagi-lagi aku merasa dia bukan Aerie-ku. Siapa? Aerie tak mungkin bersikap begini. Dia itu terlalu alergi pada cowok. Lalu kenapa jadi begini???
            Wua...ada yang datang! Tapi Aerie masih menempel padaku. Bagaimana ini? Untuk melepaskannya...aku, sedikit tidak rela.
            Loh? Itu kan.....AERIE??
            Ada apa sebenarnya dengan ku?? Kenapa jadi berhalusinasi begini?? Kenapa bisa ada dua Aerie??? Argghhhhhhh aku bisa gila!!!

            ~~~~Author’s POV
            Selama sepersekian detik, Aerie membatu di tempatnya. Hingga akhirnya ia berbalik dan berlari ke luar rumah. Hee Chul sempat mengamati dua orang yang entah mengapa sukses membuat adik manisnya berlari seakan dikejar hantu. Anehnya, yeoja itu mengenakan pakaian yang ia kirimkan untuk Aerie. Ia sangat mengenali baju itu, karena ia sendiri yang memilihkannya jadi tak mungkin salah. Sebelum ia sempat memaki mereka berdua, ia sadar bahwa yang terpenting adalah menemuai Aerie yang lari entah ke mana.
            “Aerie...ada apa? Kau baik-baik saja?” Hee Chul menatap khawatir pada Aerie yang sepertinya terisak dibalik telapak tangannya. Aerie hanya diam, duduk di kursi mobil sambil menangkupkan telapak tangannya di wajah.
            Oppa....”

            ~~~~Aerie’s POV
            Sakit...hatiku terasa sangat sakit. Sesak sekali, aku tidak bisa lagi menahannya....
Tapi kenapa? Kenapa harus Maerie? Kenapa???
            Kenapa!!!

            ~~~~Min Woo’s POV
            Ke mana sih dia sebenarnya? Sudah tiga hari ini dia menghilang. Bahkan Hye Won juga tidak tahu di mana ia sebenarnya.
            “Masih tidak ada kabar juga dari Aerie?” tanya Young Min, di sampingnya ada Hye Won yang sekarang makin lengket dengannya. Sudah resmi pacaran sih...bikin BT aja lihatnya.
            “Ya...Hyung, apa cinta selalu begini? Membuat luka dulu sebelum bahagia?” tanya Kwang Min.
            Sialan! Aku mendelik padanya. Tapi ia tidak seperti biasanya, kali ini ia tampak serius. Aneh, apa ia tertular olehku? Jadi ikut-ikutan galau?
            “Sudahlah, jangan ngomong macam-macam.” Balas Young Min.
            Hening lagi....
            Ne.....yeoboseo?” Hye Won menjauh dan berjalan ke dekat pintu. Seseorang baru saja meneleponnya. Sesaat kemudian ia memberi isyarat, ia mau pergi sebentar yang di-iyakan oleh Young Min.
            Sekarang apa?
            Jujur saja, untuk kembali ke rumah itu aku benar-benar tidak berminat. Apalagi ada yeoja itu. Aishhh...aku jadi ingat lagi dengan malam itu.
            “Siapa kamu?! Kamu bukan Aerie kan??” desisku sambil mendorong tubuh yeoja itu. Yang ditanyai malah tersenyum sambil mengelap sudut bibirnya. Menjijikkan sekali. Aku menoleh ke arah pintu, dan jantungku terasa mencelos saat mendengar suara mobil yang menjauh.
            “Sudah terlambat untuk mengejarnya...” ucapnya seakan tahu pikiranku. Lalu dengan santainya ia berjalan ke arah sofa kemudian duduk sambil menyilangkan kaki. “Ayo...duduk di sini.” Ia menepuk sofa di sampingnya.
            Ya!” bentakku, ini benar-benar kelewatan! “Siapa kamu?! Kenapa seenaknya melakukan ‘itu’ padaku?!”
            “Aku?!” tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri. “Ah...namaku Maeri.” Ia tersenyum. Senyum yang sama sekali kubenci. Apaan itu? Tidak ada manis-manisnya!
            “Sudahlah, jangan ngambek begitu. Cowok sepertimu pasti sudah sering ciuman dengan gadis-gadis kan?” ia tertawa kecil. “Lagipula, untuk apa kau mengejar adikku itu? Lebih baik  kau temani aku saja.” Selorohnya.
            MWO????” aku mendelik padanya. “Anggap saja kali ini aku sedak berbaik hati, jadi aku tidak akan memukulmu. Tapi, kau harus menjawab pertanyaanku.”
            “Anything for you...^^” ia tersenyum lagi. Hampir saja aku muntah dibuatnya.
            “Apa, apa kamu yang kutemui waktu itu? Di pesta?” aku langsung mencetuskan hal yang paling ingin aku ketahui setelah sikap Aerie yang kurasa aneh.
            “Bingo!” ia lagi-lagi tersenyum. “Kenapa? Kecantikanku selalu membayangimu?”
            Cih, pede sekali. Maaf saja, Aerie itu ribuan kali lebih cantik dari kamu tahu! Pantas saja Aerie bersikap seperti itu, ternyata memang kami tidak pernah bertemu di pesta. Aih...aku jadi menyesal sekarang. Benar-benar cewek ini....
            “Sudahlah!” aku bergegas pergi.
            “Min Wooya, bersiap-siaplah patah hati.” Pesannya tepat ketika aku membanting pintu.
            Tiba-tiba Hye Won muncul dengan wajah panik, membuat kami semua kaget dan membuyarkan lamunanku.
            “Min Woo­-oppa! Mana Min Woo-oppa?!” katanya panik.
            “ Kenapa?” aku langsung berdiri, “apa itu tadi Aerie?” tebakku. Dan Hye Won mengangguk kuat-kuat, membuatku lega sekaligus khawatir. Ada apa lagi sekarang?
            “Tadi di telepon...” Hye Won tampa kesulitan bicara karena sibuk menahan air mata yang mau keluar, “dia bilang dia akan pergi ke Jepang, sudah di bandara sekarang.”
            MWO???” aku, Young Min dan Kwang Min jerit bersamaan.
            Oppa bagaimana ini? Dia bilang tak akan kembali lagi! Dia bilang selamat tinggal!! Oppa lakukan sesuatu! Aerie....hiks..” Hye Won akhirnya menangis. Young Min merangkulnya dan mencoba menenangkannya.
            “Kenapa kau masih di sini?!” Young Min membentakku. Yah...aku memang kaget sekali, dan bingung harus apa sekarang. “Ini...pakai motorku!” tiba-tiba Young Min melemparkan kunci motornya.
            Komawo...” aku melemparkan senyum lantas melesat pergi.
            Aerie...tunggu aku. Sebentar saja, tunggu aku....
            Aerie, kajima.....

            ~~~~Author’s POV
            “Aerieya, gwenchana?” Hee Chul menepuk pundak adiknya pelan. Sejak beberapa hari lalu adiknya begitu murung. Tapi tak ada cara yang bisa dilakukannya untuk membuatnya tersenyum.
            O, gwenchana...” sahutnya. Apanya yang baik-baik saja? Hee Chul hanya bisa menerima jawaban itu dan diam.
            Oppa...” bisik Aerie, “kapan kita berangkat? Masih lama?”
            Hee Chul melirik jam di pergelangan tangannya. “Sekitar 30 menit lagi.”
            “Oh.” Gumamnya.
            “Aerie...”
            Oppa!” potong Aerie, “sebentar saja. Oppa mau mendengar ceritaku?”
            “Tentu saja.” Jawab Hee Chul. Apapun itu, sebagai kakak, ia siap menampung semua cerita Aerie. “Ceritakan pada oppa...

            ~~~~Aerie’s POV
            Aku tak tahu apa benar tindakanku ini. Tapi, aku ingin menceritakannya agar di Jepang nanti aku bisa memulai hidupku. Seperti memulai awalan yang baru. Tapi, jika aku terus menyimpan cerita ini, aku tak akan bisa lepas dari bayangan masa laluku. Dan bukan itu yang aku harapkan. Untuk bisa mengobati hatiku, untuk bisa menjadi manusia yang baru, untuk melupakan semuanya. Melupakan Min Woo-oppa.....
            Oppa ingat dulu aku pernah ikut les balet?” aku mulai mencoba membuka cerita yang sudah lama terkubur. Hee Chul oppa mengangguk.
            “Tahu kenapa aku berhenti?” dia menggeleng. Yah...aku memang tak pernah cerita tentang ini sebelumnya. Tidak juga pada siapapun. Dan kurasa, sekarang aku harus menceritakannya.
            Itjanha....”
           
            ~~~~Author’s POV
            Mommy....look! I’ve got the throphy!!”  Aerie kecil menghampiri ibunya yang tengah menjaga kakaknya Maeri. Di tangan kecilnya ada sebuah tropi penghargaan dari kontes balet yang baru saja diikutinya. Seharusnya Maeri juga ikut, tapi di hari-hari terakhir menjelang kontes, Maeri jatuh sakit. Sejak lahir Maeri memang bertubuh lemah.
            “Apa itu?” bisik Maeri lemah sambil mencoba bangkit agar bisa melihat lebih jelas tapi malah terjatuh lagi.
            “Maeri! Jangan bangun dulu, tubuhmu masih lemah.” Ibunya memperingatkan tapi malah membuat Maeri menangis kencang.
            “Lihat apa yang sudah kau lakukan pada kakakmu!” bentak ibunya pada Aerie yang cuma bisa diam. Apa salahnya? Ibunya nampak kesal, ditambah lagi Maeri kejang-kejang karena menangis kencang. Sambil menghela napas, ibunya menarik tropi yang ada di tangan Aerie.
            “Biar eomma yang simpan.” Jawab ibunya singkat dan mengibaskan tangannya, menyuruh Aerie pergi.
            Malam harinya Aerie terbangun karena mendengar suara aneh dari dapur. Ia pun turun dari ranjangnya. Sambil mengandap-ngendap ia mencoba melihat siapa atau apa yang sedang berada di dapur.
            Meski dalam gelap, ia bisa mengenalinya. Itu adalah Mommy-nya. Tapi apa yang mau ia lakukan dengan stick baseball itu?
            Dan detik itu juga, Aerie sadar air matanya sudah membanjir.
            Seperti tanpa ampun, mommynya memukulkan stick itu ke tropi milik Aerie yang sudah tak berbentuk lagi di atas meja dapur. Setiap kali stick itu di pukulkan, sebenarnya stick itu sedang menghancurkan hati Aerie. Aerie hanya bisa menangis dan membekap mulutnya, kenapa? Tanyanya dalam hati. Ia tahu mommynya tidak terlalu menyukainya, tapi kenapa? Itu tropi yang ia peroleh dengan susah payah, tropi yang sengaja ia persembahkan untuk kakaknya. Tapi kenapa malah dirusak?
            Sejak saat itu, Aerie berhenti mengikuti les balet. Apa sudah selesai? Tidak juga.
            Ketika perlahan mereka beranjak dewasa, kondisi Maeri pun membaik dan menjadi kesayangan semuanya. Tapi karena diperlakukan begitu istimewa, Maeri malah jadi sombong. Apapun maunya harus terwujud, tak peduli bagaimana caranya. Termasuk jika harus merampas milik orang lain sekalipun itu milik adiknya sendiri. 
            Jika kamar Maeri dipenuhi boneka, maka tidak begitu dengan kamar Aerie. Semua bonekanya dirampas paksa oleh Maeri termasuk boneka yang dikirim dari Jepang oleh Hee Chul. Juga pakaian, jika Maeri memiliki pakaian yang bagus dan sangat cantik, Aerie harus puas dengan baju yang biasa-biasa saja. Itu pun ia sendiri yang membelinya dengan uang saku miliknya. Singkatnya, ia seperti anak tiri di keluarganya, jika tak mau disebut sebagai pembantu.
            Maerie juga-lah alasan tunggal ia pindah sekolah. Di sekolah lamanya, Aerie anak yang sangat pintar dan berprestasi, tapi Maerie yang iri dan dongkol karena dibanding-bandingkan akhirnya melakukan hal yang membuat Aerie sangat sakit hati. Jika hanya sekedar merampas barang-barangnya saja Aerie tak masalah, itu sudah menjadi kebiasaan dan Aerie pun sudah belajar untuk tidak menyukai apapun atau mencintai apapun karena Maerie akan merampasnya dan ia hanya bisa merasa terluka. Tapi saat itu, Aerie merasa benar-benar sakit hati.
            Seharusnya Aerie yang menjadi juara umum, dan Maerie di posisi kedua – itu pun karena Maeri mencontek saat ujian – tapi ia tidak terima dan mengadu pada Mommynya. Dan yang membuat Aerie sakit hati adalah kenyataan bahwa mommynya menyogok pihak terkait agar Maerie-lah yang menjadi juara umum. Saat itu Aerie tak sengaja lewat di depan ruang guru dan mendengar pembicaraan itu. Sungguh aneh kan? Dan itu menyadarkan Aerie bahwa selama ini ia benar-benar tak dipandang, hanya seseorang yang tidak penting. Aerie meradang, dan ia memutuskan untuk pindah saja. Saat mendengar hal itu, mommynya bahkan tidak bertanya mengapa, membuat Aerie lebih sakit hati lagi.
            Dan jika ada acara penting atau acara keluarga, Aerie tidak pernah diajak, seakan mereka hanya mempunyai satu orang putri. Seperti pesta yang digelar di hotel tempat Maerie dan Min Woo bertemu. Setelah mendengar kata-kata Min Woo, Aerie menyimpulkan bahwa yang ditemui Min Woo waktu itu adalah Maerie. Ketika itu, Aerie merasa tidak akan terjadi masalah sekalipun Min Woo menganggap Maerie adalah dirinya. Tapi sekarang tidak lagi.
            Saat menyadari wajahnya memanas dan terasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya saat Min Woo menyatakan perasaannya, Aerie langsung tersadar. Maerie akan melakukan apapun untuk merebut Min Woo karena hal itu akan membuatnya terhibur. Aneh memang, saat melukai saudara sendiri sudah dijadikan ajang hiburan. Saat itu juga Aerie menegaskan batas yang terus menjaganya tetap hidup. Ia harus tetap di daerah amannya, dimana hanya ada dia, tanpa ada satu hal yang disukainya tanpa ada seseorang yang menemaninya. Meskipun Min Woo dan Maerie tidak pernah bertemu pun, Aerie ragu. Maerie selalu menemukan cara untuk menyiksanya. Bukan tak mungkin ia akan mengetahui soal Min Woo dan merebutnya. Jika begitu, rasa sakit Aerie akan terasa berkali-lipat lebih pedih. Jadi ia memutuskan untuk mengenyahkan perasaannya. Perasaan cinta pertamanya.
            Tapi jika Aerie mengingat harapan serta perasaan cinta yang tersirat dari mata Min Woo waktu itu, ia jadi dilanda dilema. Apakah benar yang dilakukannya ini? Bukankah di saat begini ia harus memperjuangkan perasaannya? Sempat ia berpikir untuk jujur pada perasaannya, tapi ia langsung mengurunkan niat itu. Ia takut. Entah mengapa. Mungkin ia takut kalau sebenarnya yang disukai Min Woo adalah Maerie. Atau Min Woo berhasil terpikat oleh Maerie. Maerie itu cantik – sekalipun mereka kembar, ia merasa Maerie lebih cantik – dan bukannya tak mungkin hal itu terjadi.
            Jadi, untuk melindunginya, untuk melindungi Min Woo juga, ia memutuskan untuk menerima beasiswa ke Jepang yang didapatkannya. Dan mungkin akan terus tinggal di sana bersama Hee Chul. Aerie berharap cara itu berhasil membunuh perasaannya yang entah mengapa menjadi mengganas dalam 3 hari saat ia menghindari Min Woo dan berdiam diri di hotel Hee Chul. Ia tercekat saat menyadari betapa ia ingin sekali bertemu Min Woo dan ingatan saat melihat Maerie dan Min Woo berciuman membuat hatinya sakit. Terlebih kenyataan bahwa bayangan Min Woo yang terus hadir dan menerornya membuat jantungnya terus berdebar kencang, ia tak tahu lagi sekarang harus apa?
            Ia ingin melupakan Min Woo. Tidak. Ia HARUS melupakan Min Woo. Tapi, bagaimana bisa jika dengan mengingat namanya saja jantungnya langsung berdegup kencang tak terkendali?

            ~~~~Min Woo’s POV
            Paru-paruku seakan terbakar dan wajahku pasti sudah merah. Tapi itu tidak menghentika kakiku untuk segera sampai di tempat Aerie. Arrrgh......kepalaku seakan mau meledak!
            Aerie! Jangan pergi!

            ~~~~Aerie’s POV
            Begitu aku selesai cerita, Hee Chul-oppa hanya diam sambil menatapku dengan tatapan aneh yang tak bisa kuartikan. Kemudian setelah beberapa saat ia bicara juga.
            “Kenapa kamu tidak cerita pada oppa?” ada amarah yang tertahan, ada air mata yang menggenang dan siap tumpah. Aku mendesah, mengusap punggung tangan oppa lembut.
            “Hanya saat bicara dengan oppa aku merasa normal, merasa disayangi. Aku tak mau merusaknya dengan menceritakan itu semua dan mengingatkanku bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan.” Ujarku pelan. Saat itu juga oppa memelukku erat dan terisak di atas bahuku. Saat dipeluk, aku merasa dadaku sedikit sesak. Sesak karena rasa sakit itu datang lagi dan memancing tangisku.
            Saat oppa melepas pelukannya, aku berusaha memasang wajah yang biasa saja. Aku harap perasaan sakit ini segera berakhir. Tapi, oppa menatapku tajam.
            “Lalu bagaimana dengan Min Woo?” katanya. Aku langsung merasa perutku jungkir-balik saat nama itu disebut.
            “Soal itu...” aku mengalihkan tatapanku, seketika itu juga jantungku mulai berdebar tak terkendali. “Dia pasti akan baik-baik saja.”
            “Jangan begini Aerie. Oppa sama sekali tidak suka. Jangan jadi pengecut.” Kata Hee Chul-oppa, kali ini dengan wajah serius. “Darimana kau tahu dia akan baik-baik saja? Kenapa kamu harus terluka lagi? Kamu bisa memperbaikinya, jadi kenapa harus lari?”
            Aku meledak mendengar itu semua. Tangisku membanjir dan langsung sesenggukan. “Aku tidak bisa oppa...aku takut.”
            “Kau punya oppa sekarang.” katanya mencoba menenangkan. “sekarang pergilah, bilang pada Min Woo apa yang kau rasakan sebenarnya.”
            Aku menatapnya sambil terus menangis. Ia merangkulku sejenak sambil menarikku berdiri.
            “Cinta itu harusnya membuatmu bahagia. Dan bukan begini caranya. Cepat pergi...oppa yakin Min Woo juga sedang menunggumu.” Aku memeluk Heeppa dan mengusap air mataku.
            “Tenang saja...selama kamu jujur pada perasaanmu sendiri, semua akan baik-baik saja.” Oppa tersenyum lagi.
            “Maaf oppa...maaf, aku tidak bisa ikut denganmu.” Gumamku sambil terus mengusap air mata yang tidak juga berhenti mengalir. Ia menggeleng sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya lantas berbalik dan berlari.
            Berlari ke tempat Min Woo.

            ~~~~Author’s POV
            “Aerie!” teriak Min Woo begitu melihat yeoja itu yang juga sedang berlari sepertinya. Beberapa orang menoleh ke arahnya tapi ia tidak peduli. Aerie seketika itu langsung menghentikan larinya, menoleh, dan melihat orang yang sangat ingin ditemuinya sekarang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya berdiri.
            Min Woo – anehnya – malah membeku di tempatnya. Padahal setengah mati ia ingin menggerakkan kakinya agar bisa ke tempat Aerie. Tapi begitu melihat Aerie, seluruh saraf di tubuhnya seakan tak berfungsi.
            Tapi tidak mengapa, karena detik itu  juga Aerie-lah yang berlari ke arahnya dan akhirnya menubruk tubuhnya keras.
            “Min Woo...!” kata Aerie dengan kelegaan luar biasa. Dan tiba-tiba saja, air matanya kembali membanjir.
            “Kenapa? Ada apa denganmu?” tanya Min Woo khawatir sambil melepaskan pelukan Aerie agar ia bisa melihat wajahnya. Mata Aerie sudah merah dan bengkak, ujung hidungnya pun memerah.
            Mianhae....jeongmal mianhae...!!” ucap Aerie sesenggukan. “Aku tahu aku salah! Seharusnya aku tidak pergi! Maaf!”
            “Tenanglah...bicara yang jelas.” Kata Min Woo khawatir.
            “Maeri...” gumam Aerie, membuat mata Min Woo terbelalak. “Dia...sejak dulu, dia selalu merebut semua milikku. Tapi, aku tidak bisa melawannya. Sejak dulu, aku tidak pernah menyukai apapun karena Maeri akan merebutnya dariku. Aku takut untuk merasa terluka, jadi aku selalu merelakan apapun yang ia rebut dariku....”
            Jantung Min Woo mencelos, jadi itu alasannya.
            “Tapi, hanya kamu, yang tidak rela kulepaskan. Sampai kapanpun.....”
            Min Woo menatap mata Aerie, dan tanpa sadar, ia meneteskan air mata.

            ~~~~Min Woo’s POV
            Aku memeluknya erat. Sangat erat. Sekarang aku bahkan bisa menghirup aroma tubuhnya yang beraroma jeruk. Ini nyata, aku bisa merasakan tangannya yang melingkar di pinggangku.
Aerie....tolong jangan pergi lagi. Jangan menghilang dari hidupku.

~~~~Aerie’s POV
Aku senang sekali. Rasanya semua beban di atas pundakku menghilang entah kemana. Sekarang hanya ada aku dan Min Woo. Semuanya terasa begitu indah.
Ia memelukku erat sekali, aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang berdebar kencang.
Tapi, lama kelamaan, aku mendengar suara yang entah berasal dari mana. Sekarang terdengar makin jelas. Sepertinya aku pernah mendengarnya......

Niga animyeon andwae
neo eobsin nan andwae
na ireoke haru handareul tto illyeoneul
na apado joha
nae mam dachyeodo joha nan
geurae nan neo hanaman saranghanikka..........

            Aku melirik dari balik lengan Min Woo dan aku melihat Hee Chul-oppa berdiri bersandar di pilar dekat kami dengan i-pod yang disetel dengan volume full. Matanya menatap kami tajam, ia menyeringai. Koperku dan kopernya tergeletak manis di dekat kakinya. Mataku melebar setelah sadar dari euforia dipeluk Min Woo lantas mendorong namja itu hingga ia melepaskan pelukannya.
            “Kau kenapa?” Min Woo kaget lalu mengikuti arah pandangan mataku.
            “Min Wooya?” tanya Hee Chul-oppa dengan senyuman yang sangat mencurigakan. Ia berjalan mendekat lantas mengitari Min Woo seakan menilainya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sedangkan Min Woo hanya diam sambil menatap oppa aneh.
            Oppa....kenapa masih...?” aku tak berani melanjutkan ucapanku begitu melihat matanya menatapku tajam. Aku benar-benar lupa kalau oppa itu sister complex akut! Gara-gara tadi oppa kelihatan meyakinkan banget sih pas nyuruh aku nyamperin Min Woo.  Semoga aja, Min Woo gak diapa-apain.
           
            ~~~~Author’s POV
            “Kamu yang namanya Min Woo?” tanya Hee Chul dengan tatapan galak. Ditambah rambut panjangnya yang diikat seperti seorang samurai menambah kesan sangar. Cocok juga kalau dipanggil yakuza.
            “Iya.” Jawab Min Woo. Ia sudah menduga kalau Hee Chul adalah kakak Aerie. Hye Won yang bilang kalau Aerie punya satu kakak laki-laki. Sebenarnya ia sedikit ngeri kalau melihat Hee Chul yang seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tapi ternyata rasa cintanya sedikit membantu agar kakinya tetap berdiri tegak.
            Oppa...” Aerie baru hendak mendekat tapi Hee Chul menatapnya tajam.
            “Diam dulu. Oppa ada urusan dengannya.” Tandas Hee Chul sambil menepuk bahu Min Woo.
            “Ada apa?” tanya Min Woo. Setengah mati menahan perasaan.
            “Kau serius dengan adikku?” tanya Hee Chul tajam sambil bersedekap.
            “Tentu saja!” Min Woo setengah teriak.
            “Kalau begitu, kau harus tahu persyaratannya.”
            Aerie membelalak, “oppa, apa-apaan sih?” tapi Hee Chul berhasil membuatnya diam dengan tatapannya.
            “Pertama, kau harus bisa menjaga adikku. Sedikitnya, kau harus bisa taekwondo dan karate. Kedua, sekali kau membuatnya menangis, atau mengeluh atau terluka atau apapun itu yang tidak pernah kubiarkan terjadi, maka kau.....TAMAT!” Hee Chul mendekatkan wajahnya, menatap mata Min Woo seakan ingin menusuknya dengan pisau. “Arraso?!” bentaknya.
            “NE!” Min Woo refleks menjawab. Aerie yang tadi begitu cemas malah jadi ingin tertawa melihat ekspresi Min Woo.
            “Jadi, apa yang bisa kau lakukan?” tanya Hee Chul lagi.
            “Ah...” Min Woo bingung, selain dance ia tidak bisa beladiri. Bagaimana ini?
            “Kau bisa Judo?” Hee Chul bertanya seakan mereka sedang latihan militer.
            Min Woo menggeleng.
            “Taekwondo?” Min Woo menggeleng lagi.
            “Karate?” lagi-lagi Min Woo menggeleng.
            Hee Chul mendengus. Lalu dengan tatapan terkejamnya ia menatap Min Woo.
            “Mulai besok, selama seminggu full, mulai pulang sekolah selama 4 jam, kau akan kulatih sampai aku merasa kau cukup mampu menjaga adikku. Mengerti?!”
            MWOOO?????” Aerie dan Min Woo bertatapan dan meneguk ludah masing-masing.
            Aerie melempar pandangan prihatin pada Min Woo. Bagaimana kalau kakaknya nanti kelewatan dan Min Woo ‘lewat’. TIDAKKKK.....!!
            Min Woo tersenyum. “Yasudahlah Aerie....tenang saja. Begini-begini aku kuat kok.” Aerie jadi terharu mendengarnya.
            “Kita lihat saja besok.” Potong Hee Chul dingin.
            Min Woo dan Aerie bertatapan.
            Sepertinya hubungan mereka tak akan berjalan semulus yang mereka kira. Dan besok, cinta mereka diuji. Sanggupkah Min Woo membuktikan perasaannya pada Hee Chul? Semoga saja kali ini Min Woo tidak meninggalkan Aerie seperti Aerie yang pergi. Dan semoga saja, Min Woo bisa lulus tes tanpa ada tulang yang patah atau gegar otak.

Read More..