My Supa Luv
Author : CherryMintAzzule.
Cast :
·
Ahn Daniel
·
Lee Chunji
·
Han Jeany
·
Hwang Ji Ni
Genre : Romance.
Rating : T.
Length : Oneshoot.
@Ahn Electronical Corp.
“Ya...tidak usah.” Seorang namja sibuk menginstruksikan sesuatu lewat ponselnya. Ia menatap ke
luar jendela, dimana salju berguguran dari langit. “Biarkan saja mereka. Cukup
ikuti mereka saja dari jauh. Arra?”
Orang yang ada di ujung telepon sana menyanggupi dan
pembicaraan pun berakhir.
“Jeany Han...” namja
itu berdiri di depan jendela sambil meletakkan telapak tangannya di
permukaan kaca yang dingin. “Dasar kau gadis nakal!” ia menyeringai.
@ Lotte World.
BIP!
Sebuah sms masuk ke ponselnya dan membuat namja itu terpaksa mengalihkan
pandangannya.
‘Musun iri isseoseo?
Kau lihat orangku di sana?’
Namja itu mengetik.
‘Mereka sedang antre untuk naik roller coaster. Iya, aku
lihat beberapa. Kau kirim berapa orang? Aku lihat 5 orang.’ Terkirim.
BIP!
‘Cih, ia tidak pernah mau saat kuajak kesana. 10 orang.’
“Mwo??? 10
orang??!!” namja itu terbelalak,
beberapa orang di sekitarnya menatap aneh. Ia mengetik lagi.
‘Sudahlah. Besok saja kita bicarakan lagi.’
BIP! Balasan datang dengan cepat.
‘OK.’
“Hwang Ji Ni...” gumam namja itu sambil menarik tepi topinya agar lebih rendah. “Lihat
saja nanti.”
@ OTW to Andromeda SHS.
“Kau masih pusing?” Ji Ni menatap temannya khawatir.
Jeany mendelik lantas menghembuskan napas berat.
“Hanya orang gila yang nekat naik roller coaster saat
salju turun! Cukup sekali itu saja! ARRA?!”
Ji Ni tertawa garing. Kemarin mereka pergi ke Lotte World
bersama Yeon Jae oppa. Dan Jeany
terpaksa ikut naik roller coaster padahal ia takut ketinggian. Jadi bukannya
tanpa alasan ia paling malas kalau diajak ke taman hiburan, karena pasti ada
saja yang mau naik roller coaster. Jika biasanya orang jadi histeris ketika
naik roller coaster, Jeany malah jadi diam membatu sambil mencengkram belt-nya erat-erat dan menutup matanya
rapat-rapat.
Just for information,
Yeon Jae adalah tetangga Ji Ni. Sebelumnya ia tinggal di Daegu sebelum akhirnya
pindah ke Seoul saat ia diterima di SU. Dan akhir-akhir ini hubungan mereka
menghangat. Padahal mereka biasanya hanya bertegur sapa saja saat berpapasan di
jalan.
“Omona! Aku
lupa, buku catatanku dipinjam Tae Rin, aku harus mengambilnya sebelum bel!” Ji
Ni menepuk dahinya kesal. “Aku duluan ya?” ia lantas berlari begitu Jeany
mengangguk sambil tersenyum kecil.
Masih beberapa blok lagi sebelum ia sampai ke AS. Dan ia
paling tidak suka lari-lari. Setelah berjalan beberapa langkah, Jeany merasa
ada yang menguntitnya. Ia berusaha melihat ke belakang tanpa kentara, dan ia
mendapati 5 orang berjas dan berkacamata serba hitam yang tampaknya bermaksud
tak baik padanya karena hanya ada ia saja di jalan itu.
Dan ia (terpaksa) mulai berlari.
Seperti sudah ia duga, kelima orang itu ikut mengejarnya.
Dan ketika paru-parunya seakan terbakar, ia menyadari kalau jumlah orang yang
mengejarnya bertambah. Seakan mereka muncul dari balik tiap benda setelah
bersembunyi dibaliknya. Dan lagi-lagi orang-orang itu muncul dan menghadang
jalannya ketika ia berniat berbelok dan akhirnya ia terpaksa terus lari ke
jalan raya di ujung gang.
Ia merasa kakinya pegal ketika akhirnya ia hampir
mencapai jalan raya di depannya. Dan tepat saat ia mau melabas jalan raya itu,
sebuah mobil berhenti secara tiba-tiba di hadapannya dengan suara rem yang
berdecit.
Refleks, Jeany mengerem larinya. Lantas mendongak untuk
melihat wajah pengemudi gila itu. Ia bisa saja tertabrak!
Pintu mobil itu mengayun terbuka dan sebuah kepala
menyembul keluar.
“Cepat naik.” Kata Niel dengan sikap otoriternya.
“Oh! Jadi kamu biang keladinya!” Jeany mendesis, menyadari
hal yang harusnya sudah bisa ia duga. “Kau nyaris membunuhku tahu!”
Niel menatap yeojachingu-nya
dengan tatapan dingin yang biasa. “Sudahlah, cepat naik. Diluar dingin sekali
kan?”
“Na shireo!!”
bentak Jeany. Niel mendecak kesal menghadapi sikap yeojachingu-nya yang keras kepala itu. Ia lantas keluar dari mobil,
sambil melepas jaket tebalnya. Orang-orang berjas hitam di belakang Jeany
langsung membungkuk hormat. Jeany menatap pemandangan itu dengan kesal,
wajahnya bukan lagi merah karena berlari tadi, tapi juga marah.
“Sudah kubilang disini dingin.” Niel memakaikan jaketnya
pada Jeany yang masih memasang wajah kesalnya yang membuat Niel ingin mencubit
pipinya, atau menciumnya kalau boleh. Lantas ia menggandeng tangan Jeany ke
mobilnya yang dibalas dengan perlawanan sengit.
“Aku sudah bilang! Aku tidak mau ikut mobilmu! Aku bisa
jalan sendiri ke sekolah!” Jeany berusaha keras melepaskan cengkaman tangan
Niel di pergelangan tangannya, tapi malah membuat pergelangan tangannya jadi
lebih sakit.
“Kata siapa kita mau ke sekolah?” ujar Niel dingin. Dan
dengan satu hentakan kencang dan kuat ia berhasil membuat Jeany naik ke
mobilnya. Dan secara otomatis pintu mobil terkunci sehingga Jeany tidak bisa
kabur.
“Lepas!” Jeany menghentakkan tangannya. Niel akhirnya
melepaskannya dan memerintahkan mobil agar jalan.
“Turunkan aku!” Jeany mendelik ke arah Niel. Tapi namjachingu-nya itu acuh saja. Saking
marahnya, Jeany sampai tidak bisa teriak karena rasa marahnya seakan menyumbat
tenggorokannya. “Turunkan aku!” desisnya lagi.
Akhirnya Niel menoleh, tapi bukan untuk meluluskan
perintah Jeany. Tapi Niel malah menarik tanganya yang sakit itu lalu
mengamatinya. Pergelangan tangannya merah, tapi sudah tidak terlalu sakit.
“Maaf caraku kasar.” Katanya datar. “Tapi kalau kamu
menurut, kan tidak akan jadi begini.” Jeany membelalak. Memangnya siapa yang
memulai?!
“Turunkan aku!” Jeany menatap tajam Niel tepat di
matanya. Jarak mereka kini begitu dekat. Dan ia tidak akan gentar sekalipun
lawannya adalah pewaris tunggal Ahn Electronical Corp. yang terkenal itu.
“Tidak akan. Hari ini aku khusus meluangkan waktuku
seharian untukmu. Kau harus menemaniku.” Ia menjauhkan wajahnya dan kembali ke
posisinya.
“Memangnya aku peduli??” Jeany rasanya ingin menjenggut
rambut Niel yang ikal.
Niel menoleh lagi. Kali ini dengan tatapan yang Jeany
tahu disebut ‘evil sight’. Untuk yang satu ini, Jeany sedikit takut juga. Dan
akhirnya ia hanya bisa menunduk dalam-dalam. Memberontak juga percuma rasanya.
Tapi tiba tiba ia merasakan sebuah tangan menyentuh
pipinya lembut. Sontak ia mendongak. Tangan itu terasa hangat, atau mungkin
karena pipinya yang dingin? Ia tidak tahu. Dan dalam hati merutuki diri kenapa
malah jadi membatu begini. Padahal biasanya mulutnya setajam silet.
“Kenapa belok ke sini?” Jeany mengalihkan pembicaraan
sebisanya dan untungnya, nyambung. Coba kalau dia bilang ‘kok kakek kamu jualan
baso?’, kan gak nyambung!
Mobil berbelok ke pom bensin di pinggir jalan raya. Dan
bergerak masuk menuju bagian selatannya.
“Cepat ganti bajumu dengan yang ini.” Niel menyodorkannya
tas hitam yang entah muncul dari mana. “Kamu bisa ganti di Toilet atau kamu mau
ganti di sini?”
“Untuk apa?” Jeany bingung.
“Sudahlah, tak ada waktu untuk mendebatku. Cepat turun
dan ganti bajumu. Mengerti?!” Niel membuka kunci otomatis mobil itu. “Dan
jangan coba-coba untuk kabur.”
Akhirnya Jeany menuruti perintah Niel sambil terus
bertanya-tanya dalam hati akan kemana Niel membawanya. Dan tiba-tiba ia
teringat kalau hari itu ia ada ulangan yang terpaksa tidak diikutinya berkat
Niel. Hancur sudah predikatnya sebagai siswi teladan.
“Memangnya kita mau ke mana?” tanya Jeany lagi begitu ia
masuk ke mobil.
Niel tersenyum tipis (mungkin menyeringai?). “Lotte
World.”
Jeany langsung ingin muntah.
@ A.S, kelas 2-B
Ji Ni tidak bisa konsen dengan soal di hadapannya. Ia
sibuk berasumsi dimanakah gerangan sahabatnya. Jeany bukan jenis siswi nakal
yang nekat bolos saat ulangan begini. Tiba-tiba saja Ji Ni ingin menangis.
Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?
Akhirnya begitu bel jam istirahat pertama berbunyi, Ji NI
langsung mengontak ponsel Jeany. Sialnya, nomor itu sedang tidak aktif. Ji Ni
akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Niel, pacar Jeany. Sekalipun kecil
kemungkinan Niel tahu. Cowok itu lebih banyak gak tahunya ketimbang taunya,
padahal Jeany dan dia sudah pacaran 3 bulan lebih.
Kelas mereka cukup jauh, sekalipun masih di lantai yang
sama. Tapi ketika di lorong, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Chunji tampak asik dengan beberapa siswi yang
mengerumuninya. Tiba-tiba saja Ji Ni merasa kesal sekali. Sekalipun mereka
sepakat untuk rehat, bukan berarti dia boleh bermesraan dengan cewek lain.
Status mereka kan masih pacaran!
Tapi demi Jeany, ia terus melangkah dengan kepala tegak.
Tepat ketika ia melintas di hadapan Chunji dan dayang-dayangnya, tangannya
ditarik oleh namja itu.
“Mau kemana?” tanyanya disertai senyuman.
“Bukan urusan kamu. Urus saja mereka.” Ji Ni mengangguk
ke arah siswi-siswi yang bubar teratur begitu melihatnya.
“Kok begitu sih? Jawab aku, kamu mau kemana?” Chunji
pantang menyerah. Ji NI menatapnya sesaat, menimbang apa sebaiknya ia cerita?
Mungkin Chunji tahu di mana Jeany.
“Jeany tidak masuk sekolah, padahal tadi kami berangkat
bareng sebelum aku meninggalkannya. Tapi ia tidak datang juga.” Ji Ni akhirnya
menceritakan yang terjadi. “Nomornya tidak aktif. Aku mau bertanya pada Niel,
mungkin dia tahu.”
Chunji menyeringai. “TENTU saja ia tahu.” Ji Ni
mengerutkan dahi.
“Mereka sedang kencan sekarang, sudah, jangan kau ganggu.
Lebih baik kau temani aku saja. Bagaimana? Sudahlah jangan marah terus....”
“Aku serius!” kata Ji Ni kesal. Jeany tidak mungkin
membolos hanya untuk kencan saja.
“Aku juga. Bagaimana? Sore ini mau nonton gak?” Chunji
memasang wajah polosnya.
Ji Ni berdecak kesal lantas memutar tubuhnya 180 derajat
dan pergi meninggalkan namjachingu-nya.
Chunji hanya menatap punggung Ji Ni diiringi tawa.
@ Lotte World
“Tidak. 1000x kau bilang begitu, jawabannya tetap
tidak!!” Jeany menatap Niel seakan mau membunuhnya.
“Kau takut?” Niel menyeringai. Dalam hati, ia sedikit
kesal. Kenapa Jeany tidak mau naik roller coaster bersamanya. Bahkan mereka ada
di sini pun berkat usaha keras Niel. Sejujurnya, ini cukup menyakitkan.
“Iya!” tukas Jeany, lantas berbalik dan meninggalkan Niel
yang segera mengejarnya.
“Ya! Kau
ini....” Niel menahan tangan kanan Jeany. “Bisakah kau bersikap sedikit manis
denganku?”
“Sudahlah! Aku mau pulang!!!” Jeany menghentakkan kakinya.
Pertengkaan kecil mereka mulai membuat orang-orang menatap aneh. Terpaksa, ia
harus memelankan sedikit suaranya.
Niel mendengus. Ia menatap Jeany dan akhirnya mengalah.
Tapi, bukannya ia akan mengantarnya pulang. Hari ini adalah hari yang langka, jadi
ia tidak mau menyia-nyiakannya dengan bertengkar seharian.
“Ayo ikut aku.” Niel menarik Jeany dari tempat itu.
“Hei!! Lepas!”
Niel terus menarik Jeany seakan ia adalah troli dan
berpura-pura tuli sepanjang jalan.
@ Ji Ni’s room
Ponsel Jeany masih tidak bisa dihubungi dan sekarang yang
bisa dilakukannya hanyalah menunggu sambil memeluk gulingnya. Padahal ia sangat
ingin bercerita tentang hari ini.
Hari ini....ia merasa Chunji makin berubah. Atau mungkin,
ini adalah dirinya yang sebenarnya? Ia masih ingat kata-kata Jeany saat ia
bilang akan menyatakan perasaannya pada Chunji.
“Jaeneun
nallariya...”
Mungkin Jeany memang benar. Mungkin saat itu ia dibutakan
oleh cinta sesaatnya. Tapi, kenapa Chunji mau menerimanya dan bertahan
dengannya selama 5 bulan ini? Kalau benar ia playboy, hubungan mereka mungkin
tidak akan bertahan lebih dari sebulan.
Ji Ni rasa, ia bisa gila.
Sambil menatap langit-langit kamarnya, ia kembali
mengingat saat itu. Saat ia menyatakan perasaanya pada Chunji.
“ Aku...sudah lama menyukai Chunji-oppa...” ucap Ji Ni waktu itu pada Chunji di Gym. Chunji adalah
anggota tim atletik sekolah, dan setiap hari ia latihan di Gym. Tentu saja
dengan dikerubungi oleh para suporter wanitanya.
“Aku?” Chunji menunjuk dadanya. Ji Ni hanya bisa
mengangguk sambil menatap ujung sepatunya.
Hening...
“Terima kasih!” kata Chunji akhirnya, membuat Ji Ni
mendongak lantas mengecup pipi Chunji sekilas lalu berlari meninggalkannya.
Langsung saja seisi Gym dipenuhi sorakan orang-orang. Sedangkan Jeany yang ikut
mengantar hanya bisa geleng-geleng kepala.
Hanya seperti itu. Dan hari-hari setelahnya mereka hidup
bahagia. Ji Ni tidak melihat satu pun tingkah Chunji yang bisa di kategorikan
sebagai playboy. Chunji juga tidak pernah marah saat Jeany memaksa ikut saat
mereka kencan. Lalu, kenapa sekarang ia berubah?
Awalnya, ia melihat Chunji jalan dengan seorang cewek
padahal katanya ia sedang ada urusan keluarga. Mereka juga tidak terlihat
mesra, maka Ji Ni memutuskan untuk tidak mempersalahkannya. Kali ke dua, ia
melihatnya lagi, kali ini malah dengan dua orang cewek sekaligus. Jeany yang
saat itu bersamanya nyaris mendatangi Chunji dan memukulnya. Tapi Ji Ni memilih
untuk pulang dan menangis sampai pagi. Dan, kejadian serupa terulang sampai 3
kali tanpa Chunji pernah mengklarisifaksi. Sampai akhirnya Ji Ni sendiri yang
memutuskan kalau mereka harus ‘rehat’ sejenak.
Padahal...padahal....ia sangat sayang, padahal.....
Apa karena Chunji tidak menganggapnya pacar? Saat itu, ia
cuma bilang terima kasih saja. Dan sampai sekarang ia tidak pernah bilang kalau
ia memiliki perasaan yang sama.
Lalu, selama ini ia dianggap apa?
@ xXx Resto
“Ya...?” Chunji menempelkan ponsel ke telinganya dan
menahannya dengan bahu sementara ia terus mengepel lantai.
“Oh...begitu....” gumam Chunji lagi dengan suara yang
dipelankan. Kalau bosnya mendengar, ia bisa dipecat. “Yasudah, aku tidak mau
ganggu kalian. Selamat bersenang-senang...” godanya.
“Chunji!” teriak seseorang dari dalam.
“Ya Bos!!” secepat kilat ia menyelipkan ponsel ke dalam
kantung seragamnya lantas berjalan ke dapur.
@ Niel’s home.
Terdengar
suara pintu diketuk dan kemudian pintu itu terayun membuka. Niel.
Jeany
langsung berdiri lantas menatapnya tajam.
“Kupikir kau
sudah tidur...” kata Niel sambil mendekat ke arah Jeany.
“Bagaimana
aku bisa tidur sedangkan di luar sana semua anggota keluargaku sedang
mencariku?” desis Jeany. Niel hanya diam lantas membaringkan tubuhnya di
ranjang dengan kaki menjulur ke lantai.
“Aku sudah
meminta izin, kau tidak perlu takut.”
“Sekali lagi
kau melakukan ini, tamat riwayatmu!” ancam Jeany.
Niel
menoleh, manatapnya dengan tatapan dingin yang biasa, tapi entah kenapa rasanya
sedikit berbeda...lebih lembut, atau sesuatu semacam itu. “Apa kau senang hari
ini?”bisiknya.
Jeany
mengerjap – tanda kalau ia jadi gugup – dan seketika membisu. Padahal ia sudah
bersiap ngomel tapi kata-kata itu hilang entah ke mana karena tatapan Niel itu.
Dan lagi-lagi ingatannya saat di Lotte World muncul dan bergantian menyerang
syarafnya.
Saat Jeany
masih juga ‘terbang di awang-awang’ Niel bangkit lantas memeluk Jeany. Singkat,
tidak terlalu erat, tapi efeknya......dahsyat!
Jeany merasa
lututnya melumer. Sebelumnya mereka tidak pernah berpelukan, Niel juga tidak
pernah menggandeng tangannya (karena lebih sering menariknya) atau bersikap
romantis lainnya. Sejak mereka jadian, yang lebih karena pemaksaan, Jeany tidak
pernah menganggap Niel sebagai pacarnya. Atau sesuatu yang spesial selain itu.
Di matanya, Niel adalah cowok arogan yang suka memaksa, dan menyebalkan. Kalau
bukan karena titel ‘pengganggu’ yang disebabkan karena hobinya mengikuti kencan
Ji Ni dan Chunji, ia tidak mungkin mau berpacaran dengan Niel.
Niel
mencengkram kedua bahunya lembut. Tatapan matanya masih selembut tadi, yang
membuat Jeany malu untuk bisa menatapnya. Sekalipun Niel bukan orang yang
disukainya, tapi diperlakukan seprti ini oleh seorang cowok tetap saja membuat
jantungnya tak keruan.
“Terima
kasih sudah mau menemaniku seharian ini. Aku sangat senang.” Katanya. Jeany
merasa pipinya memanas. Tapi ia tidak mau terlihat seperti seorang cewek yang
mudah lumer di hadapan cowok, apalagi yang seperti Niel. Akhirnya ia mendongak.
Yah...keputusanya
agak salah sih, karena reaksi berikutnya adalah ia merasa seluruh tulang
tubuhnya berubah seringan kapas karena ia merasa limbung. Niel terlihat...dia
terlihat...ah! Jeany tidak tahu harus menyebutnya apa...tapi, jantungnya
berdetak lebih kencang. Tuhan, ada apa dengan dirinya?
“Bisa kau
keluar sekarang?” kata Jeany akhirnya, “aku mau tidur.” Yang sangat ia sesali,
suaranya terdengar sangat ketus. Padahal ia bermaksud untuk mengusir Niel
secara halus...tapi kalau seperti tadi, apa bedanya dengan membentak? Bodoh!
Niel tertawa
kecil, “iya....” Tangannya mengacak puncak kepala Jeany yang langsung kena
pukul. “Ternyata kamu masih sama.” Tambahnya lagi lalu pergi dan meninggalkan
Jeany yang langsung jatuh terduduk begitu pintu ditutup.
@ Andromeda SHS
“Jeany!!” Ji Ni langsung menarik sahabatnya itu saat
Jeany muncul di ambang pintu. “Eh, boneka apa itu?”
Jeany tersenyum lebar, lantas menunjukkan bonekanya di
depan mata Ji Ni. Sebuah boneka lebah yang sangaaaat besar berwarna oranye dengan
strip hitam seperti lebah sungguhan dan sepasang antena di kepalanya.
“Dari siapa?” Ji Ni menyentuh bulu boneka itu yang sangat
halus, dan melupakan tujuan awalnya.
“Niel.” Jawab Jeany polos sambil memeluk bonekanya. Jeany
suka boneka, apalagi yang berwarna oranye, karena itu warna favoritnya.
“Haaah?” Ji Ni menaikan sebelah alis, lantas
mencubit-cubit pipi Jeany. “Serius dari Niel? Kok bisa sih??? Oh iya! Kemarin
kamu kemana??????????” Ji Ni histeris.
“Ssshh...jangan berisik. Sini, aku kasih tau...” Jeany
menarik Ji Ni ke kursi mereka di pojok kelas. Tapi baru saja Jeany mau membuka
mulut, bel masuk berbunyi. Terpaksa mereka menundanya.
Tapi begitu jam istirahat, Jeany langsung diseret Ji Ni
ke taman belakang kelas. Jeany juga ikut membawa si Bee, saking sukanya ia
dengan boneka itu.
“Jadi...” Ji Ni menatap Jeany penasaran, siap untuk
mendengarkan. Jeany mengelus bonekanya sebelum akhirnya bercerita.
@ Lotte World. Senin.
Niel menarik tangan Jeany dan membawanya ke sebuah cafe.
Ia memesan dua gelas capuccino hangat dan membiarkan Jeany menatapnya dengan
tatapan membunuh. Ia tahu, ia terlalu sering memaksa. Tapi, hanya ini cara yang
ia tahu, yang mempan untuk Jeany.
Mereka akhirnya duduk dalam diam, menyesap capuccino
masing-masing sambil menatap ke luar jendela. Melihat orang berlalu lalang.
Meski sebenarnya, Niel terus mencuri-curi pandang ke arah Jeany.
Pipi Jeany bersemu merah karena kedinginan dan tiba-tiba
ia ingin menyentuhnya lagi seperti saat di mobil tadi. Begitu dingin dan
lembut. Ah, tidak, tidak....apa sih yang dipikirkannya? Babo!
Niel masih mengamati yeojachingu-nya
yang sepertinya tidak sadar sedang diperhatikan. Sesekali, Jeany menyesap
minumannya dan menatap ke luar. Ia pasti tidak sadar kalau gerakannya itu
terlihat sangat menggoda bagi Niel. Rambut Jeany yang berwarna hitam dan ikal
ditutupi oleh topi rajut yang sangat lucu. Sekeliling lehernya dibalut oleh
muffler berwarna oranye, warna kesukaan Jeany. Niel memilih sendiri pakaian
yang dipakai Jeany, dan merasa tidak menyesal karena Jeany terlihat benar-benar
manis...
“Aku mau ke toilet sebentar,” Jeany tiba-tiba bangkit dan
langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Niel.
Niel menatap punggung Jeany sampai hilang di balik tembok
pembatas. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan bicara beberapa kata. Sesaat
kemudian, salah satu anak buahnya datang sambil membawa boneka lebah yang
sangat besar. Niel menyuruhnya pergi, lantas meletakkan boneka itu di atas
meja.
Jeany masih belum kembali, ia akhirnya memutuskan untuk
ke kasir, membayar minuman mereka. Saat itulah ia melihat Jeany muncul dengan
tampang bingung melihat ada boneka besar yang duduk manis di meja mereka.
Setelah yakin kalau meja mereka belum di tempati oleh orang lain, Jeany
langsung menarik keluar ponselnya lalu asyik ber-selca ria dan membuat
pose-pose lucu. Niel yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli. Ia memang
sengaja membelikannya boneka, tapi ia tidak tahu kalau ia akan begitu
menyukainya.
“Ayo pergi.” Niel menarik muffler Jeany.
Jeany akhirnya menurut sambil memeluk erat bonekanya.
Niel tidak mau bilang boneka itu darinya, dan Jeany sendiri memang sudah tau
itu dari Niel. Maka sepanjang jalan mereka hanya diem-dieman. Niel sibuk
memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya sedangkan Jeany yang ada di
belakangnya meneruskan kegiatan selca-nya.
Setelah muter-muter gak jelas, Jeany akhirnya angkat
bicara.
“Aku capek. Sebenarnya kau mencari apa?”
Tapi Niel malah diam saja dan menarik Jeany ke sebuah
photo Box.
“Foto? Dari tadi kau mencari ini?”
“Sudah, diam saja.” Kata Niel sambil sibuk memencet
tombol-tombol dengan cepat. “Kemari,” Niel menarik Jeany agar lebih merapat.
Jeany yang asli mau menolak jadi ciut nyalinya saat Niel lagi-lagi mengeluarkan
‘evil sight’-nya.
Satu foto. Jeany berdiri canggung disamping Niel sambil
memeluk bonekanya yang nyaris menutupi tubuhnya. Foto kedua...Niel tau-tau
melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Jeany, membuatnya lebih merapat ke
tubuhnya. Dan Jeany bisa merasakan debaran jantungnya dan jantung Niel di
punggungnya. Berdetak kencang....
Begitu keluar dari foto Box itu, Niel jadi lebih pendiam
dan memutuskan untuk pulang. Pulang ke rumahnya. Jeany hanya bisa pasrah karena Niel jadi jauh lebih
menyeramkan saat ia tidak bicara.
@ Rumah keluarga Ahn.
Jeany pikir, saat mereka tiba di rumah super mewah Niel,
mereka akan di sambut para pelayan yang berbaris rapi di pintu utama, tapi tidak
ada siapapun. Saat mereka memasuki ruang tamu, ia meihat seorang pria sedang
membaca koran sore sambil meminum teh ginseng.
“Aku pulang,” kata Niel. Tangan Niel yang satunya menarik
Jeany mendekat ke pria itu yang langsung menurunkan koran nya dan meletakkannya
ke atas meja.
“Ini siapa?” tanya pria itu sambil berdiri. Wajahnya
serius mengamati Jeany dari kepala sampai kaki. Kemudian ia berteriak,
“Sayanggggg.......lihat, putra kita membawa seorang gadis!!”
Jeany langsung melongo apalagi tiba-tiba seorang wanita
paruh baya muncul dari sebuah pintu masih mengenakan celemek, bahkan ia
membawa-bawa sendok kayu.
“Omona....neomu
yeppoda!!!” ibu Niel histeris. Jeany merasa makin asing, dan merasa mereka
salah rumah.
“Menurutku juga begitu sayangku....akhirnya anak kita
membawa seorang gadis ke rumah!!!” ayah Niel tampak terharu. Wajahnya langsung
berubah berser-seri.
“Siapa mereka?” bisik Jeany. Sedangkan dua orang di
hadapannya sibuk memuji betapa cantiknya ia dan betapa lucu boneka dalam
pelukannya.
“Siapa?” Niel mendesis. “Tentu saja orang tuaku.”
Jeany melongo parah. “Kau pernah tes DNA? Yakin mereka
orang tuamu?” tanya Jeany spontan yang dibalas dengan tatapan dingin Niel.
“Ayo kita ke ruang keluarga, kita minum teh. Bagaimana
sayang?” Ayah Niel menatap istrinya.
“Benar, ah, sekalian saja makan malam di sini...sebentar
lagi masakannya matang.” Sahut ibu Niel tak kalah semangat.
Akhirnya sampai waktu makan malam, Jeany terpaksa duduk
di ruang keluarga Niel. Menemani ayah Niel mengobrol. Ternyata ayahnya jauuuuuh
berbeda dengan anaknya. Entah datang dari mana sifat buruk Niel itu. Ayah Niel
juga menunjukkan foto-foto Niel ketika masih bayi plus cerita-cerita lucu saat Niel kecil.
Niel sendiri hanya bisa mendengus kesal. Karena tiap kali
ia mau menarik foto-foto itu ayahnya langsung memukul tangannya. Mau tak mau,
Jeany tertawa melihat pemandangan itu.
Jeany terpaksa ikut makan malam di rumah Niel sambil
berharap kalau ia akan dipulangkan setelah itu. Jeany pikir, mereka akan makan
makanan mewah sekelas hidangan restoran ternama, tapi yang ada hanya makanan
rumahan yang biasa. Rasanya lezat sih.
“Apa kau satu sekolah dengan Niel?” tanya ibu Niel ceria
sambil menuangkan minum untuk Jeany.
“Iya...Niel kakak kelasku.” Sahut Jeany sekenanya. Di
sampingnya, Niel duduk membisu sambil menikmati makan malamnya.
“Sudah berapa lama kalian berpacaran?”
Jeany nyaris tersedak, segera setelah makanannya tertelan
ia meneguk habis minumannya. “Maaf...” gumamnya.
“Ayah, Ibu, bisakah kalian berhenti mananyainya? Kami
sudah tiga bulan pacaran, dan mungkin tiga tahun dari sekarang kami akan
menikah. Apa itu cukup?” Niel akhirnya angkat bicara.
“Wah...bagus itu. Ayah tidak harus khawatir mencarikanmu
istri.” Ayah Niel tersenyum senang sambil meneruskan makannya.
“Barusan kau bilang apa? Kau mau mati? Kenapa bilang kita
akan menikah??” bisik Jeany.
“Sudahlah, yang penting mereka diam.” Kata Niel acuh.
Jeany makin yakin kalau Niel sudah tertukar di rumah sakit.
“Jeany, bagaimana kalau kau menginap di sini? Mau kan?”
Ibu Niel menatap Jeany penuh harap.
“Tapi...aku belum meminta izin...”
“Nanti akan kutelepon orang tuamu.” Sahut Niel. Jeany
mendelik, ah...kenapa hari ini buruk sekali baginya??
Dan, sekali lagi Jeany tidak bisa menolak. Tapi akhirnya
ia tahu apa kesamaan Niel dan orang tuanya, keduanya sama-sama pemaksa!
@ Andromeda SHS.
“Kenapa kau bisa punya pengalaman seru begitu? Lalu apa
sekarang kau menyukai Niel-oppa?” Ji
Ni menatap Jeany iri.
“Molla...lagipula
kami jadian juga bukan karena cinta. Ingat kan?” Jeany mendengus.
Tiga bulan lalu...tiba-tiba Niel muncul di depan pintu
kelasnya. Tanpa ba-bi-bu, Niel bilang ia harus mau jadi pacarnya kalau tak mau
digusur dari posisi teman Ji Ni. Niel bilang, kalau mereka pacaran, ia bisa
ikut Ji Ni kencan dengan Chunji tanpa disebut sebagai pengganggu. Mau tak mau,
Jeany setuju. Saat itu Niel juga bilang kalau ia terpaksa. Jadi hubungan mereka
benar-benar tanpa dasar cinta.
“Bagaimana denganmu dan Chunji?” tanya Jeany sambil
memeluk bonekanya.
Ji Ni menceritakan semuanya tanpa dikurangi. Dan betapa
ia merasa begitu nelangsa. Jeany menyarankan agar mereka putus, dan mungkin Ji
Ni bisa pacaran dengan Yeon Jae. Tapi Ji Ni bilang ia juga tida tahu bagaimana
perasaannya ke Yeon Jae. Akhirnya Jeany tidak bisa bilang apa-apa lagi.
@ Gym.
“Kenapa kau terus menyiksa diri begini? Kenapa tidak datangi saja dia dan
bilang kalau kau menyukainya?” Chunji menatap Niel heran. Niel acuh sambil
terus mendrible bola dan melakukan lay up shoot.
“Kau sendiri? Kau juga menyiksa diri sendiri. Aku tahu
kau sangat ingin melihat Ji Ni memakai pita biru itu kan?” Niel mengelap
keringatnya dengan punggung tangan.
Di sekolah mereka, sudah menjadi tradisi bagi cewek-cewek
yang sudah punya pacar untuk memakai pita biru sebagai pengganti dasi. Atau
pita merah bagi mereka yang sudah menyatakan perasaan dan sedang menunggu
jawaban. Sayangnya Jeany dan Ji Ni tidak
turut serta dalam pelestarian tradisi ini.
“Aku tidak mengerti kenapa Ji Ni tidak memakai pita itu
juga, kami sudah pacaran lima bulan dan
tidak seharipun ia memakai pita biru. Aku sudah sengaja bersikap sedikit
‘nakal’ tapi reaksinya standar saja...” Chunji tersenyum sedih. “Dan sekarang
dia malah lebih dekat dengan cowok brengsek itu.”
“Aku juga tidak suka.” Niel duduk di samping Chunji.
“Kurasa cowok itu punya maksud buruk.”
“Ah, iya. Bagaimana kemarin?” Chunji menyenggol bahu Niel
sambil tersenyum nakal. Niel tersenyum tipis dan mulai bercerita.
@ Taman Kota. Minggu.
Ji Ni melirik arlojinya. Sudah lewat beberapa menit dari waktu yang
dijanjikan. Hari ini ia dan Yeon Jae-oppa
berencana untuk pergi nonton.
“Ji Ni-ya...maaf
membuatmu menunggu. Tadi aku ada urusan dadakan. Maaf ya?” Yeon Jae tiba-tiba
sudah berdiri di sebelahnya.
“Gwenchana...ayo
kita pergi.” Ji Ni tersenyum manis. Ia merasa ingin melupakan Chunji...itulah
kenapa ia menerima ajakan Yeon Jae. Mungkin sebentar lagi mereka kan putus. Dan
mungkin ia bisa menyukai Yeon Jae.
Sekalipun sama-sama romantis, Yeon Jae lebih peduli
padanya. Ji Ni merasa ia tidak akan menolak kalau Yeon Jae mangajaknya pacaran,
sekalian saja ia balas dendam pada Chunji.
“Kajja...” Yeon
Jae menggandeng tangannya. Ji Ni tersenyum dan balas menggenggam tangan Yeon
Jae.
@ Andromeda SHS.
Sudah seminggu berlalu dan tahun baru tinggal tiga hari lagi. Hari ini
Jeany terpaksa pulang sendiri lagi karena Ji Ni lagi-lagi ada janji dengan Yeon
Jae. Sebenarnya Jeany tidak setuju dengan keputusan temannya itu. Ini sama saja
menyiksa diri sendiri. Dan juga menyiksanya. Kalau Ji Ni putus dengan Chunji,
maka tak ada alasan lagi baginya untuk terus pacaran dengan Niel kan? Dan itu
melegakan sekali.
“Jeany...!!”
Jeany menoleh. Loh, Yeon Jae?
Jeany menghampiri Yeon Jae yang berdiri di dekat pintu
gerbang. “Bukannya...”
“Iya, aku memang tadinya mau pergi dengan Ji Ni. Tapi
sebenarnya aku butuh pertolongan. Bisa kau bantu aku?” Yeon Jae tersenyum
manis.
“Apa?” tanya Jeany polos.
“Ikut denganku...”
Jauh dari sana, sepasang mata menatap Jeany dan Yeon Jae
yang pergi dengan motor dengan tatapan berkilat. Niel menggebrak mejanya dan
membuat Chunji terlonjak kaget.
“Kau ini kenapa?” Chunji meggerutu.
Niel tidak menjawab dan langsung berlari meninggalkan
Chunji.
@ Mall.
“Hyung tidak
perlu menggandengku...” tolak Jeany halus sambil mencoba melepaskan genggaman Yeon Jae.
“Di sini sangat ramai, aku takut kau terpisah.”
“Memangnya kita mau apa di sini? Membeli hadiah?”
Yeon Jae tersenyum, “Tepat sekali! Aku mau membelikan
sesuatu tapi aku tidak tahu apa kesukaannya.”
“Untuk Ji Ni ya?” tanya Jeany langsung. Yeon Jae hanya
menjawab dengan senyuman tipis.
@ Jeany’s Home.
“Sebentar....!!!” teriak Jeany, tapi suara gedoran di pintu rumahnya malah
terdengar makin kencang.
“Niel...?” heran Jeany begitu melihat siapa yang datang.
Jangan-jangan tadi Niel melihatnya pergi dengan Yeon Jae. Ottokhae?? Tapi, kenapa ia harus khawatir? Mereka kan cuma pacaran
bohongan!
Niel merangsek masuk dan merapatkan tubuh Jeany ke
tembok, menguncinya sehingga ia tidak bisa bergerak.
“Ya! Neo wae gurae?” bentak Jeany. Niel menatapnya tajam, satu
tangannya mencengkram pergelangan tangan Jeany, memakunya ke tembok. Tangannya
yang lain memagari sisi kiri tubuhnya. Kalau saja ibunya melihat ini, pasti
langsung pingsan.
“Kuberitahu kau sekali ini
saja.” Kata Niel penuh penekanan. “Jauhi namja
sialan itu kalau kau bukan gadis murahan yang mau saja digandeng
kemana-mana.”
Jeany melotot, siap
membalas perkataan Niel. Tapi tiba-tiba Niel melepaskan kurungannya dan
melangkah keluar tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
“Dasar gila!” Jeany
berteriak, wajahnya merah padam. Tangannya juga ikut melempar pot kecil yang
sedang sial berada di dekatnya, sayang meleset.
“Aku benci kamu!” teriak
Jeany lagi sebelum Niel hilang dari pandangan.
@ Andromeda
SHS.
Jeany melempar tasnya
kesal, masih teringat kejadian kemarin.
“Jeany...coba tebak??” Ji
Ni tiba-tiba muncul. Wajahnya cerah.
“Yeon Jae mangajakmu
keluar malam tahun baru nanti?” kata Jeany acuh. Senyum di wajah Ji Ni menguap
seketika.
“Kenapa kau bisa tahu?” ia
cemberut.
“Hal seperti itu mudah
untuk ditebak.” Ucap Jeany asal. “Apa itu yang kau pakai?” ia menunjuk tangan
Ji Ni.
“Jam!!! Yeon Jae-oppa yang belikan!!!” pamernya dengan
senyum lebar.
Jeany mengeutkan alis.
Kemarin ia dan Yeon Jae kan pergi ke toko perhiasan... kenapa malah jam?
“Ah iya, katanya kau boleh
ikut malam tahun baru nanti.” Kata Ji Ni sambil terus mengagumi jamnya.
“Oh...boleh juga.” Jeany
tersenyum menggoda.
“Kau ini...masa jadi
bertiga?”
“Iya...nanti aku akan
‘menghilangkan’ diri sendiri. Tidak usah takut begitu..” Jeany mencubit pipi Ji
Ni.
“Yei...Jeany memang temanku
yang paling baik!!”
“Soal Chunji bagaimana?”
Jeany nyeletuk. Dan tiba-tiba kesal karena ikut teringat tentang Niel.
“Mungkin aku akan
memutuskannya.” Bisik Ji Ni. Jeany mendesah dan menelungkupkan wajahnya di atas
meja. Tidur.
@ Jeany’s
Room
“Yeoboseo?” Jeany mengangkat teleponnya
malas. “Mwo???” jeritnya beberapa
saat kemudian.
“Iya...aku sudah mutusin
Chunji.” Ujar Ji Ni kalem di ujung telepon sana, sedikit terdengar isak tangis.
“Serius...?”
“Iya, kenapa?”
Jeany menghela napas. “Ani...sudah, sekarang kamu istirahat
saja.”
Ji Ni patuh dan menutup
teleponnya. Sedangkan Jeany tiba-tiba terserang insomnia. Ia beringsut ke dekat
meja di samping ranjang. Membuka lacinya dan mengamati kotak kecil berhias
pita. Sebuah hadiah yang ia beli saat pergi ke mall dengan Yeon Jae. Sekarang
ia tidak tahu harus diapakan hadiah itu. Tapi, ada masalah yang lebih gawat
lagi.
Dia...dia merasa mulai
menyukai Niel! Di saat ia harusnya memutuskan namja itu! Dan sekarang, saat yang sudah lama ia tunggu, akhirnya
datang! Tapi....
@ Andromeda
SHS.
Hari
terakhir sebelum libur...
Bukan hanya Ji Ni yang
muncul dengan wajah sembab, Jeany juga kurang tidur. Semalam, setelah
menghabiskan waktu berjam-jam dan berganti posisi dari berdiri, duduk, tiduran,
sampai meringkuk di pojok kamar, akhirnya Jeany meng-sms Niel tepat pukul 2
pagi.
Ia berpendapat, rasa
sukanya pasti masih ‘kuncup’ dan bukan hal besar untuk meratakannya dengan
tanah. Sudah pasti Niel tidak – atau belum – membalas smsnya. Tapi, entah
mengapa ada bagian dalam diri Jeany yang merasa menyesal. Dan pagi ini berubah
menjadi rasa takut.
“Besok malam jadi pergi
dengan Yeon Jae?” Jeany berbisik pelan pada Ji Ni yang merebahkan kepalanya di
atas meja.
“Iya...” jawab Ji Ni
lemas.
“Kenapa sih, bukannya kamu
seneng putus sama Chunji?” Jeany menepuk bahu Ji Ni pelan.
“Molla...”
“Aish...dasar kau ini!” Jeany akhirnya memilih diam dan tenggelam
dalam lamunannya sendiri. Bagaimana dengannya sendiri?
Ia jadi ingat dengan
rumah, dan betapa nyamannya kalau ia bisa tidur di kamarnya...dengan semua
boneka, Mimi, Leo, dan si Bee...Bee, Oranye...Niel...Lotte World....Roller
Coaster....Niel....tangan Niel...suara Niel....aroma tubuh Niel......
Kenapa malah Niel yang ia
ingat??!!
Jeany marah pada dirinya
sendiri dan memukulkan tangannya ke meja.
Dan yang ada, ia teringat
dengan Niel lagi.... benar-benar payah!
@ Jeany’s
Room.
Malam tahun
baru........sepi. Di kamarnya, dia hanya bisa bergelung dengan selimut sambil
menatap kotak berpita di tangannya.
Niel tidak membalas
smsnya. Tidak juga muncul di sekolah. Kenapa sih?? Kesalnya dalam hati.
Berkali-kali ia ingin meng-sms, tapi buat apa? Dia yang mulai, kok. Dan siapa
tahu sebenarnya Niel juga lega mereka putus dan ga mau repot ngebales smsnya.
Salah sendiri!!
“Jeany....!!” terdengar
suara seorang namja memanggi dari
luar. Segera Jeany membuka jendela kamarnya dan memandang ke jalanan di bawah.
Dia kira Niel, taunya Yeon
Jae dan sepdanya... bukannya dia sudah bilang tidak mau ikut? “Kenapa? Mana Ji
Ni?”
“Bisakah kau ikut? Aku
butuh bantuanmu lagi...mau kan??” mohonnya ditambah senyum manis.
“Aku sedang malas keluar.
Terlalu dingin.” Jeany beralasan. Lagipula malam tahun baru tahun ini adalah
yang terburuk, merusak mood-nya habis-habisan.
“Jebal....??” ia memohon lagi. Jeany merasa tidak punya pilihan, dan
akhirnya turun dengan tergesa bercampur marah.
“Gomawo...nanti kukasih hadiah deh.” Yeon Jae menaiki sepedanya
sedangkan Jeany duduk di belakangnya.
“Sudahlah...cepat jalan!”
ketus Jeany.
“SIP!!” Yeon Jae mengayuh
sepedanya menuju pusat kota.
@ Incheon
Airport.
Niel dengan
tergesa mencoba menghubungi ponsel Jeany tapi tidak ada yang mengangkat. Begitu
turun dari pesawat, ia langsung mengecek ponselnya dan mendapati sms dari Jeany
yang dikirim dua hari lalu saat ia sedang menemani appanya kunjungan kerja ke Macau. Dan isi sms itu makin membuatnya
tak karuan. Saat ke luar negeri, ia memang meninggalkan Ponselnya dan
menggunakan ponsel yang lain. Dan sekarang ia benar-benar menyesal tidak
menyatakan perasaannya sebelum ia pergi dan juga tidak pamit.
“Halo? Chunji?” ia
menelepon Chunji dan yang ada ia jadi makin putus asa. “Kau...putus?” lalu
terdiam.
“Ya!! Dasar babo!! Kau
tahu akibatnya kan? Jeany juga minta putus nih!! Apa?dia tidak mengangkat
teleponku...kamu ini bagaimana sih! Yasudah, aku ke tempatmu!”
“Mau kemana Niel? Ah, ajak
Jeany ke rumah ya? Sekarang kan malam tahun baru!” seru Ayahnya dari belakang.
“Iya...sekarang aku akan
menjemputnya!” desisnya dan berlari meninggalkan ayahnya yang kebingungan.
@ xXx Resto
“Aku sibuk melayani
pelanggan...kau tunggu sebentar ya, aku pikirkan cara bagaimana kita bisa
ngobrol.” Chunji meletakkan segelas Latte, lantas pergi. Memang restoran sedang
ramai sekali.
Niel menikmati lattenya
dalam diam, tangannya sibuk menghubungi ponsel Jeany. Sedangkan ada dua tamu
restoran yang baru saja masuk.
“Di mana Ji Ni?” tanya
Jeany sambil sedikit melonggarkan mufflernya. Yeon Jae tersenyum tipis lantas
menariknya ke sebuah meja di ujung. Salju di luar mulai turun semakin lebat,
semoga saja tidak sampai jadi badai.
Mereka duduk, dan menunggu
pelayan datang.
Tiba-tiba Yeon Jae
meletakkan kotak beludru di hadapan Jeany, kotak yang ia kenal.
“Ini apa?” Jeany
mengernyit.
“Buka saja.”
Kalung...kalung yang Jeany
beli bersama Yeon Jae beberapa waktu lalu. Tapi kenapa belum diberikan ke Ji
Ni?
“Ini kalung untuk Ji Ni
kan?” tanya Jeany polos.
Yeon Jae menggeleng pelan.
“Untukmu.”
“Hah?” Yeon Jae pasti
bercanda, pikir Jeany.
“Kalung itu untukmu. Aku
membelinya untukmu.” Jelasnya.
“Bukan...ini untuk Ji Ni, Kau kan mau menembaknya?” Jeany makin
bingung. “Seharusnya sekarang kan kalian kencan dan kau memberikan kalung ini
padanya....di mana Ji Ni?” tanya Jeany seketika. Kalau Yeon Jae bersamanya,
bagaimana dengan Ji Ni?
“Ah...aku sudah
membatalkan janji dengannya. Kurasa terlalu jahat memintanya datang hanya untuk
ini. Menembakmu di hadapannya rasanya kurang tepat. Jadi kubatalkan saja....”
Yeon Jae menjelaskan tanpa dosa.
“Tunggu...menembakku?? kenapa malah aku?” Jeany merasa
ada yang salah.
“Selama ini aku
menyukaimu. Apa kau tidak merasa? Yah...memang agak sulit mendekatimu jadi aku
mendekatimu lewat Ji Ni. Jadi bagaimana?” Yeon Jae menatap Jeany dengan senyum
yang sekarang membuat Jeany muak. Ingin rasanya Jeany memukulnya. Ia ingat
betapa Ji Ni bercerita dengan senangnya tentang Yeon Jae, sikap Yeon Jae
padanya, kata-kata yang diucapkan Yeon Jae...semua tentang Yeon Jae! Tapi
sekarang.......tapi, sejam lalu Ji Ni bilang ia sudah berangkat ke tempat
janjiannya dengan Yeon Jae!
“Tapi tadi Ji Ni
meneleponku dan bilang kalau ia sudah berangkat ke tempat kalian janjian....”
“Kurasa ia sedikit keras
kepala, kan?”
Jeany bangkit, siap untuk
menampar Yeon Jae. Tapi, orang lain sudah mendahuluinya.
Chunji, dengan segenap
tenaganya menarik baju Yeon Jae dan menghantamnya dengan tinju hingga Yeon Jae
menjerit kesakitan. Disusul oleh tinju lagi, dan tendangan, semua yang bisa
membuat Yeon Jae terluka.
Jeany terbelalak, juga
para pengunjung restoran lainnya. Akhirnya Yeon Jae memberi perlawanan, tapi
Chunji tidak menyerah dan keduanya berkelahi hingga membuat meja di sekitar
berantakan dan tamu yang duduk di situ menghindar sejauh-jauhnya.
“Brengsek!!” Chunji duduk
di atas tubuh Yeon Jae dan meninju wajahnya berkali-kali. “Ji Ni...teganya kau
padanya! Dia yeojachingu-ku...!!”
raungnya.
Tidak ada yang bisa Jeany
lakukan selain diam mematung. Bebeapa tamu mencoba melerai, tapi mundur lagi
karena Chunji seperti orang kesetanan.
“Chunji! Cukup!” tiba-tiba
Niel muncul. Saking seriusnya ia dengan ponselnya, ia jadi tidak memperhatikan
kalau ada perkelahian.
“Cukup!” Niel menarik
Chunji menjauh. Dan mata Niel bertemu dengan Jeany yang juga menatapnya dengan
sorot mata kaget.
Manager restoran datang
dengan wajah murka lalu menyuruh Chunji dan Yeon Jae untuk ke ruangannya. Niel
yang tiba-tiba menjadi ‘wasit’ ikut
masuk dan Jeany yang tidak tahu harus apa hanya diam dan melihat para pelayan
lain membereskan kerusakan yang terjadi.
Beberapa saat kemudian
Jeany yang menunggu di luar restoran melihat Chunji muncul, sekarang tanpa
mengenakan seragam karyawannya yang tadi Jeany lihat.
“Chunji...” panggil Jeany,
Chunji menoleh, tampak marah. Membuat Jeany sedikit takut, tapi ada yang lebih
penting.
“Chunji...kurasa Ji Ni
sekarang masih menunggu Yeon Jae di air mancur di pusat kota....bisakah kau
ikut kesana? Aku khawatir sekali.” Mata Jeany mulai menitikkan air mata. Ia
tidak percaya bahwa ia adalah penyebab semua ini. Mungkin Ji Ni akan marah
kalau tahu tentang ini semua.
“Terima kasih...” ujar
Chunji, membuat Jeany mendongak. “Sudahlah...kenapa menangis? Ini bukan salahmu
kan? Ini salah si Yeon Jae brengsek itu...” Chunji menghapus air mata Jeany
dengan jarinya. Ia tidak marah....dan malah tersenyum. Sisa darah mengering
nampak di leher dan kerah bajunya.
“Kau juga brengsek kalau
coba melakukan hal yang sama padanya...” ucap sebuah suara. Tangan orang itu
menarik tangan Chunji yang tadi menghapus air mata Jeany. “Cepat pergi
sana...apa kau butuh mobil?”
Jeany menatap Niel yang
dibalas dengan tatapan dingin Niel sekilas. Dan rasanya ia mau menangis
lagi....
“Tidak...itu dekat dari
sini. Aku akan naik sepedaku saja.” Lalu Chunji menghilang setelah sebelumnya
mencubit pipi Jeany.
“Hei!” hardik Niel tapi
Chunji hanya tertawa saja.
“Chunji!” panggil Jeany,
ia harusnya juga ikut!
Tiba-tiba sebuah tangan
menariknya ke sebuah mobil. “Masuk.” Perintah Niel. Jeany tidak punya pilihan
selain menurut saja.
Niel ikut masuk. Dan
mereka duduk dalam diam selama hampir 5 menit. Sepertinya keduanya tidak
berniat untuk saling bicara.
Jeany seperti duduk di
atas kompor. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Dia begitu khawatir
pada JI Ni...apa dia baik-baik saja? Apa Chunji sudah menemukannya? Ia harusnya
ikut! Yeon Jae brengsek!!! Dan kenapa sekarang ia malah ada di sini?? Apa sih
yang selama ini dilakukannya?? Niel dan dia...kanapa jadi membingungkan
begini??
Jeany menangkupkan
tangannya di wajah, karena ia sudah tidak bisa menahan tangisnya. Ia marah pada
dirinya sendiri karena sudah memperumit keadaan. Sekarang, Niel yang sangat
dirindukannya hanya berjarak satu raihan tangan dan ia terlalu takut untuk
bilang ‘jangan pergi lagi’ atau ‘aku cinta kamu’. Ia tak tahu harus apa?
“Neo wae gurae?” Niel mendekat ke arah Jeany. Sebenarnya sudah sejak
tadi ia ingin merangkul Jeany kalau saja ia tidak ingat dengan sms itu. “Kau
kenapa...?” Niel bertanya lagi, kali ini lebih lembut.
Jeany menggeleng dan air
matanya turun makin deras. Suara Niel...membuatnya merasa bodoh, entah mengapa.
Dadanya sesak....
Niel mencoba menarik tangan
Jeany. “Uljima...Jeany-ah”
“Mianhae....” isak Jeany.
Niel jadi bingung sendiri
harus bagaimana. Jeany menangis di hadapannya dan ia bahkan terlalu takut untuk
mengusap air matanya. Jeany tidak menginginkan dirinya... Jeany tidak
membutuhkan dirinya.
“Uljima...” hanya itu yang bisa Niel ucapkan.
Hening...dan hanya
terdengar suara isak tangis Jeany. Mendengarnya membuat Niel gila...ia tidak
pernah mau mendengar Jeany menangis.
“Saranghae...”
@ Pusat
Kota.
Ji Ni merasa hancur. Yeon
Jae serius dengan ucapannya. Ia pikir Yeon Jae bercanda saat bilang kalau
mereka tidak ada urusan lagi dan ia tidak perlu datang di telepon tadi. Ia
merasa bodoh...ia merasa ingin menangis. Chunji pasti akan menertawakannya
kalau melihat keadaannya sekarang. apa yang didapatnya sekarang setelah
berdandan selama 2 jam lebih? Tidak ada.
Ji Ni melangkah gontai
menuju halte. Ia mau mengadu ke Jeany, mau menangis sejadi-jadinya.
“Ji Ni?”
Suara Chunji....
“Syukurlah aku
menemukanmu.” Chunji turun dari atas sepednya. “Kau kenapa?”
Ji Ni tahu seharusnya ia
lari saja, karena ia sudah tidak punya muka untuk bertemu Chunji. Tapi ia tidak
bisa, dan yang ia lakukan adalah menghambur memeluk Chunji.
“Chagi-ya....neo wae gurae?” tanya Chunji lembut. Ia bahkan masih
memanggilnya chagi....pikir JI NI,
dan tangisnya meledak.
“Hua....Chunji....Hiks...hiks...”
tangis Ji Ni. Chunji menepuk punggungnya lembut.
“Iya....aku mengerti kau
menyesal aku sudah tahu masalahnya, jadi kau tidak usah cerita lagi. Sudah,
sudah....” ucap Chunji. “Ngomong-ngomong, tadi aku baru saja menghajar Yeon
Jae. Apa itu membuatmu senang?”
Ji Ni mendongak. Sudah
tidak menangis lagi.
“Jinja-yo?”
“Yap...” Chunji menarik Ji
Ni duduk di pinggir air mancur.
Kalau boleh jujur...mereka
adalah pasangan yang aneh. Sejujurnya, mereka sudah putus, tapi malah saat
sudah putus begini mereka malah akur.
“Chunji...” panggil Ji Ni
serak.
“Ne, chagi?”
“Mianhae...aku sudah bersikap buruk.” Ji Ni memulai pengakuan
dosanya. “Kau cuek sekali, jadi aku sengaja ingin membuatmu cemburu. Tapi kau
masih saja begitu, aku kesal, jadi aku memutuskanmu. Tapi kurasa aku tidak
pernah menyukai Yeon Jae, aku cuma memikirkanmu.”
“Dan kau juga tidak dapat
Yeon Jae...malangnya kau.” Chunji nyengir.
“Kenapa kau bisa mengahajar
Yeon Jae brengsek itu?” Ji Ni jadi kesal mengingatnya.
“Ia datang dengan
Jeany...”
“Dengan Jeany?!” potong Ji
Ni.
“Dengar dulu....mereka
datang ke restoran tempatku bekerja. Yeon Jae menembak Jeany, dan aku mendengarnya
menyebut-nyebut namamu. Katanya, ia hanya memperalatmu saja. Ya sudah, kuhajar
saja dia. Kau tahu? Kurasa ada giginya yang patah.” Chunji tertawa tapi kemudian meringis karena
bibirnya yang robek tertarik.
Ji Ni diam sejenak menatap
Chunji. Apa Chunji masih menyukainya? Dan ia melihat noda darah kering di leher
Chunji dan kerah bajunya. Ia merabanya dengan tangannya.
“Aku memang tidak menarik
ya?” gumam Ji Ni.
“Bicara apa kau?” Chunji
tiba-tiba menjadi serius.
“Ah, kau bilang restoran
tempatmu bekerja? Kau bekerja?” Ji Ni tiba-tiba teringat ucapan Chunji.
Keluarga Chunji cukup kaya, dan seharusnya Chunji tidak kesulitan dalam hal
keuangan.
Chunji menatap Ji Ni
dalam-dalam. “Kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa membuatku menghajar orang
di restoran sampai membuatku kehilangan pekerjaan dan tetap mencintaimu
sekalipun kau berkhianat?”
“Hei, aku juga melihatmu
jalan dengan wanita lain!” Ji Ni protes.
“Aku melakukannya dengan
alasan yang sama sepertimu.” Chunji merapikan poni Ji Ni.
“Kapan aku tidak peduli
padamu?” JI Ni mengerucutkan bibir. “Kau belum jawab pertanyaanku tadi! Kenapa
kau bekerja?”
“Kenapa kau tidak pernah
memakai pita biru?” tanya Chunji, sukses membuat Ji Ni melongo parah.
“Itu...” Ji Ni diam.
“Jawab dulu itu, baru akan
kujawab pertanyaanmu.” Kata Chunji.
“Kau tidak bilang kau suka
aku.” Aku Ji Ni.
Chunji mengernyit. “Jinja-yo? Kurasa aku sudah bilang itu.”
“Belum...dan aku terus
menunggu. Jadi aku tidak bisa memakai pita biru itu. Aku takut sebenanya kau
tidak suka padaku sedangkan aku sudah ke-pd-an dan memakai pita itu.” Ji Ni
menghela napas.
“Aku juga menunggu kau
memakai pita itu. Kupikir kau tidak menganggapku sebagai pacarmu.” Aku Chunji.
Mereka berdua
tertawa. Tiba-tiba Chunji berjongkok
dihadapannya dan mengeluarkan sebuah kotak.
“Sekarang aku yang akan
mengatakannya. Jadi jawab yang jelas ya?”
Ji Ni tersenyum.
“Saranghae Ji Ni-ya....maukah
kau jadi yeojachinguku?” Chunji
membuka kotak itu. Ada sebuah cincin yang diikat dengan pita berwarna biru,
menjadi kalung.
“Na do saranghae...” balas Ji Ni.
Chunji berdiri lagi. “Oke
deh kalo begitu....pakai ini ya.” Chunji mengalungkannya ke Ji Ni. “ Cincin ini
100% hasil jerih payahku. Saat kau menembakku dulu, aku langsung memutuskan
untuk membelikanmu sesuatu. Sesuatu yang kudapat atas kerja kerasku sendiri.
Dan sekarang rasanya tidak sia-sia.”
Ji Ni menitikkan air mata.
“Aku jadi ingin Jeany ada di sini...”
“Jangan. Nanti dia
mengganggu.” Sahut Chunji. “Wah, cantik sekali.”
Ji Ni meraba cincin itu.
“Dia juga jadi kerepotan. Saat kita pacaran, ia terpaksa pacaran dengan Niel.”
“Ah, soal yang satu
itu...” Chunji duduk di samping Ji Ni. “Niel mungkin tidak pernah bilang, tapi
sebenarnya ia menyukai Jeany sejak lama.”
“HAH??” Ji Ni melongo
parah.
“Mungkin sekarang mereka
juga sedang berduaan.” Chunji nyengir.
“Aku tidak mengerti cara
pikir laki-laki...” kata Ji Ni, Chunji tertawa mendengarnya lantas merangkul
bahu Ji Ni erat.
@ Mobil Niel
(?)
Niel diam. Yang barusan
itu cukup jelas. Jeany bilang ‘saranghae’.
Ini bukan karena rambutnya yang terlalu panjang dan menutupi telinganya sampai
membuatnya salah dengar kan?
Jeany menangis makin
keras. Niel bingung.
“Jeany-ah...uljima....” lagi-lagi hanya itu
yang keluar dari mulutnya. Mungkin benar ia cuma salah dengar.
“Saranghae...” kali ini Jeany mendongak menatap Niel. Matanya
bengkak, dan air mata masih terus menglir. “Maaf aku baru bilang sekarang...”
Niel tahu ia sudah melongo
parah.
“Tidak apa-apa kalau kau
tidak menerima perasaanku. Aku hanya merasa harus mengatakannya, aku sudah
tidak bisa menahannya.” Kata Jeany dengan suara serak.
Niel masih diam. Teralu
tekejut dengan pengakuan dadakan ini.
“Sebaiknya aku pulang,”
jeany berbalik, mencoba membuka pintu mobil masih sambil menangis.
Niel menarik tangan Jeany
dan memeluk Jeany erat-erat. Jeany diam. Sedikit berharap kalau Niel ingin
mengucapkan sesuatu yang bisa membuatnya berhenti menangis.
“Kau bisa dengar?” bisik
Niel. “Kau bisa dengar suara jantungku?”
Jeany diam, mendengarkan
debaran jantung Niel. Cepat...terlalu cepat untuk orang yang hanya duduk saja.
“Na do saranghae Jeany-ah...”
bisik Niel.
Harapannya tidak terkabul,
ucapan Niel malah membuatnya menangis makin kencang.
“Ya! Aku bilang aku suka padamu, kenapa malah menangis? Kau ini!”
Niel berdecak kesal, tapi menolak melepaskan pelukannya. Ini pertama kalinya ia
memeluk Jeany. Dan rasanya...sangat menyenangkan.
“Aku...terlalu senang,”
Jeany sesenggukan. “Aku sangat senang.” Ujarnya lagi.
“Jadi, aku abaikan saja
sms-mu itu ya?”
Jeany mendorong Niel
sampai melepas pelukannya.
“SMS itu...aku menyesal
mengirimkannya. Maaf...aku tidak bermaksud begitu. Ji Ni dan Chunji putus, dan
aku merasa tidak seharusnya kita pacaran. Aku pikir kau pasti terbebani
olehku.” Kata Jeany cepat.
“Sekarang kau tahu itu
tidak perlu.” Niel menarik Jeany merapat ke arahnya. “Sudah kubilang, aku ini
berbeda.”
“Kapan kau bilang itu?”
Jeany mengernyit.
Niel diam dan menghapus
sisa-sisa air mata di pipi Jeany dengan tangannya. “Aku mengatakannya pada
diriku sendiri. Seberapapun kerasnya kau menolakku, pada akhirnya kau akan
kembali. Ya kan? Cintaku sulit ditolak. Lagipula, siapa yang bisa mencintaimu
lebih daripada aku? Siapa yang bisa memberikanmu sesuatu lebih dari aku? Aku
ini lebih hebat dari siapapun.”
Jeany mengerucutkan bibir,
kenapa ia bisa menyukai namja sombong
seperti ini. Ah iya, itu karena bibirnya....kadang Jeany suka memperhatikannya,
matanya juga. Tatapannya dingin tapi menyimpan kehangatan. Kata-katanya,
mungkin ia tidak pintar merayu tapi ia tidak pernah bohong. Atau suaranya yang
bisa menaikkan kecepatan detak jantungnya....ternyata ia menyukainya lebih dari
yang ia duga. Menyadari itu, Jeany tersenyum sendiri.
“Wae...? kau sudah gila?” Niel mencubit pipinya.
“Iya...aku sampai bisa
mencintai orang sepertimu. Apa bukan gila namanya?” balas Jeany.
“Aku sial sekali, dicintai
orang gila....”
“Oh, jadi begitu
menurutmu?” Jeany pura-pura kesal.
“Aku bercanda, jangan
marah....ne, chagi?” Niel menyibak poni
Jeany yang menutupi dahinya.
“Chagi?” ulang Jeany dengan suara dibuat-buat.
“Kau juga sudah harus
mulai memanggilku oppa, coba, kau
bisa tidak?” ujar Niel kalem
“Siapa bilang aku mau?”
Jeany berdecak. “Harapanmu telalu tinggi.”
“Kenapa? Masih belum
bisa?” Niel acuh dengan jawaban Jeany. “Yasudah, nanti juga kau sendiri yang
akan memanggilku seperti itu. Kau sendiri yang ingin. Lihat saja.”
“Kenapa PD sekali?” Jeany
merasa Niel benar-benar sombongers
sejati.
“Kan sudah kubilang,
aku...”
“Berbeda? Iya, kau sudah
bilang.” Potong Jeany kalem.
Hening lagi.
“Jeany...” panggil Niel,
Jeany mendongak, menatap Niel dengan matanya yang bengkak.
“Kurasa akan jadi hambatan
kalau aku tidak bilang sekarang.” kata Niel, membuat Jeany bingung. “Saranghae...”
Jeany
tersenyum, senyum yang sanggup membuat seluruh tubuh Niel menjadi hangat. “Na do saranghae.”
Niel tersenyum, siap
memeluk Jeany lagi.
“Sekalipun kau suka kasar,
egois, bossy, menyebalkan, dan pemaksa....” sambung Jeany dengan wajah tanpa
dosa, sukses membuat Niel kesal.
“Ya!!! Kau mau mati?!” Niel memukul kepala Jeany.
“Auw...!! kan benar kau
kasar!!” Jeany balas memukul Niel.
“Makanya, jangan
menyebalkan!”
“Coba lihat siapa yang
bicara!” cibir Jeany.
Niel mendesah, ini tidak
akan ada habisnya kalau ia terus membalas kata-kata Jeany. Ia menatap yeojachingnya, dan untuk sedetik ia
merasa lega. Sekarang ia bisa dengan bangga memamerkan hubungan mereka.
“Hei? Kenapa peluk-peluk
begini?” protes Jeany begitu Niel memeluknya erat-erat.
Niel diam saja. Ia
berjanji ini terakhir kalinya ia bersikap memaksa, selanjutnya, ia akan mencoba
tidak egois atau menyebalkan, apapun yang membuat Jeany tidak suka. Tapi untuk
sekarang, ia hanya ingin memeluk Jeany erat-erat. Memeluk yeojachingu-nya.
“Hei...halo??? bisa
lepaskan aku? Hei!” Jeany masih terus menggerutu. Niel tersenyum lantas
mengeratkan lagi pelukannya.
Saranghae Jeany-ah....
Diluar mobil,
salju mulai turun. Menyelimuti seluruh kota dengan warna putih.
HAPPY NEW YEAR!!