Sabtu, 23 Juni 2012

My Supa Luv


My Supa Luv
Author            : CherryMintAzzule.
Cast                 :
·         Ahn Daniel
·         Lee Chunji
·         Han Jeany
·         Hwang Ji Ni

Genre              : Romance.
Rating             : T.
Length                        : Oneshoot.

@Ahn Electronical Corp.
            “Ya...tidak usah.” Seorang namja sibuk menginstruksikan sesuatu lewat ponselnya. Ia menatap ke luar jendela, dimana salju berguguran dari langit. “Biarkan saja mereka. Cukup ikuti mereka saja dari jauh. Arra?”
            Orang yang ada di ujung telepon sana menyanggupi dan pembicaraan pun berakhir.
            “Jeany Han...” namja itu berdiri di depan jendela sambil meletakkan telapak tangannya di permukaan kaca yang dingin. “Dasar kau gadis nakal!” ia menyeringai.

@ Lotte World.
            BIP!
            Sebuah sms masuk ke ponselnya dan membuat namja itu terpaksa mengalihkan pandangannya.
            Musun iri isseoseo? Kau lihat orangku di sana?’
            Namja itu mengetik.
            ‘Mereka sedang antre untuk naik roller coaster. Iya, aku lihat beberapa. Kau kirim berapa orang? Aku lihat 5 orang.’ Terkirim.
            BIP!
            ‘Cih, ia tidak pernah mau saat kuajak kesana. 10 orang.’
            Mwo??? 10 orang??!!” namja itu terbelalak, beberapa orang di sekitarnya menatap aneh. Ia mengetik lagi.
            ‘Sudahlah. Besok saja kita bicarakan lagi.’
            BIP! Balasan datang dengan cepat.
            ‘OK.’
            “Hwang Ji Ni...” gumam namja itu sambil menarik tepi topinya agar lebih rendah. “Lihat saja nanti.”

@ OTW to Andromeda SHS.
            “Kau masih pusing?” Ji Ni menatap temannya khawatir.
            Jeany mendelik lantas menghembuskan napas berat.
            “Hanya orang gila yang nekat naik roller coaster saat salju turun! Cukup sekali itu saja! ARRA?!
            Ji Ni tertawa garing. Kemarin mereka pergi ke Lotte World bersama Yeon Jae oppa. Dan Jeany terpaksa ikut naik roller coaster padahal ia takut ketinggian. Jadi bukannya tanpa alasan ia paling malas kalau diajak ke taman hiburan, karena pasti ada saja yang mau naik roller coaster. Jika biasanya orang jadi histeris ketika naik roller coaster, Jeany malah jadi diam membatu sambil mencengkram belt-nya erat-erat dan menutup matanya rapat-rapat.
            Just for information, Yeon Jae adalah tetangga Ji Ni. Sebelumnya ia tinggal di Daegu sebelum akhirnya pindah ke Seoul saat ia diterima di SU. Dan akhir-akhir ini hubungan mereka menghangat. Padahal mereka biasanya hanya bertegur sapa saja saat berpapasan di jalan.
            Omona! Aku lupa, buku catatanku dipinjam Tae Rin, aku harus mengambilnya sebelum bel!” Ji Ni menepuk dahinya kesal. “Aku duluan ya?” ia lantas berlari begitu Jeany mengangguk sambil tersenyum kecil.
            Masih beberapa blok lagi sebelum ia sampai ke AS. Dan ia paling tidak suka lari-lari. Setelah berjalan beberapa langkah, Jeany merasa ada yang menguntitnya. Ia berusaha melihat ke belakang tanpa kentara, dan ia mendapati 5 orang berjas dan berkacamata serba hitam yang tampaknya bermaksud tak baik padanya karena hanya ada ia saja di jalan itu.
            Dan ia (terpaksa) mulai berlari.
            Seperti sudah ia duga, kelima orang itu ikut mengejarnya. Dan ketika paru-parunya seakan terbakar, ia menyadari kalau jumlah orang yang mengejarnya bertambah. Seakan mereka muncul dari balik tiap benda setelah bersembunyi dibaliknya. Dan lagi-lagi orang-orang itu muncul dan menghadang jalannya ketika ia berniat berbelok dan akhirnya ia terpaksa terus lari ke jalan raya di ujung gang.
            Ia merasa kakinya pegal ketika akhirnya ia hampir mencapai jalan raya di depannya. Dan tepat saat ia mau melabas jalan raya itu, sebuah mobil berhenti secara tiba-tiba di hadapannya dengan suara rem yang berdecit.
            Refleks, Jeany mengerem larinya. Lantas mendongak untuk melihat wajah pengemudi gila itu. Ia bisa saja tertabrak!
            Pintu mobil itu mengayun terbuka dan sebuah kepala menyembul keluar.
            “Cepat naik.” Kata Niel dengan sikap otoriternya.
            “Oh! Jadi kamu biang keladinya!” Jeany mendesis, menyadari hal yang harusnya sudah bisa ia duga. “Kau nyaris membunuhku tahu!”
            Niel menatap yeojachingu-nya dengan tatapan dingin yang biasa. “Sudahlah, cepat naik. Diluar dingin sekali kan?”
            Na shireo!!” bentak Jeany. Niel mendecak kesal menghadapi sikap yeojachingu-nya yang keras kepala itu. Ia lantas keluar dari mobil, sambil melepas jaket tebalnya. Orang-orang berjas hitam di belakang Jeany langsung membungkuk hormat. Jeany menatap pemandangan itu dengan kesal, wajahnya bukan lagi merah karena berlari tadi, tapi juga marah.
            “Sudah kubilang disini dingin.” Niel memakaikan jaketnya pada Jeany yang masih memasang wajah kesalnya yang membuat Niel ingin mencubit pipinya, atau menciumnya kalau boleh. Lantas ia menggandeng tangan Jeany ke mobilnya yang dibalas dengan perlawanan sengit.
            “Aku sudah bilang! Aku tidak mau ikut mobilmu! Aku bisa jalan sendiri ke sekolah!” Jeany berusaha keras melepaskan cengkaman tangan Niel di pergelangan tangannya, tapi malah membuat pergelangan tangannya jadi lebih sakit.
            “Kata siapa kita mau ke sekolah?” ujar Niel dingin. Dan dengan satu hentakan kencang dan kuat ia berhasil membuat Jeany naik ke mobilnya. Dan secara otomatis pintu mobil terkunci sehingga Jeany tidak bisa kabur.
            “Lepas!” Jeany menghentakkan tangannya. Niel akhirnya melepaskannya dan memerintahkan mobil agar jalan.
            “Turunkan aku!” Jeany mendelik ke arah Niel. Tapi namjachingu-nya itu acuh saja. Saking marahnya, Jeany sampai tidak bisa teriak karena rasa marahnya seakan menyumbat tenggorokannya. “Turunkan aku!” desisnya lagi.
            Akhirnya Niel menoleh, tapi bukan untuk meluluskan perintah Jeany. Tapi Niel malah menarik tanganya yang sakit itu lalu mengamatinya. Pergelangan tangannya merah, tapi sudah tidak terlalu sakit.
            “Maaf caraku kasar.” Katanya datar. “Tapi kalau kamu menurut, kan tidak akan jadi begini.” Jeany membelalak. Memangnya siapa yang memulai?!
            “Turunkan aku!” Jeany menatap tajam Niel tepat di matanya. Jarak mereka kini begitu dekat. Dan ia tidak akan gentar sekalipun lawannya adalah pewaris tunggal Ahn Electronical Corp. yang terkenal itu.
            “Tidak akan. Hari ini aku khusus meluangkan waktuku seharian untukmu. Kau harus menemaniku.” Ia menjauhkan wajahnya dan kembali ke posisinya.
            “Memangnya aku peduli??” Jeany rasanya ingin menjenggut rambut Niel yang ikal.
            Niel menoleh lagi. Kali ini dengan tatapan yang Jeany tahu disebut ‘evil sight’. Untuk yang satu ini, Jeany sedikit takut juga. Dan akhirnya ia hanya bisa menunduk dalam-dalam. Memberontak juga percuma rasanya.
            Tapi tiba tiba ia merasakan sebuah tangan menyentuh pipinya lembut. Sontak ia mendongak. Tangan itu terasa hangat, atau mungkin karena pipinya yang dingin? Ia tidak tahu. Dan dalam hati merutuki diri kenapa malah jadi membatu begini. Padahal biasanya mulutnya setajam silet.
            “Kenapa belok ke sini?” Jeany mengalihkan pembicaraan sebisanya dan untungnya, nyambung. Coba kalau dia bilang ‘kok kakek kamu jualan baso?’, kan gak nyambung!
            Mobil berbelok ke pom bensin di pinggir jalan raya. Dan bergerak masuk menuju bagian selatannya.
            “Cepat ganti bajumu dengan yang ini.” Niel menyodorkannya tas hitam yang entah muncul dari mana. “Kamu bisa ganti di Toilet atau kamu mau ganti di sini?”
            “Untuk apa?” Jeany bingung.
            “Sudahlah, tak ada waktu untuk mendebatku. Cepat turun dan ganti bajumu. Mengerti?!” Niel membuka kunci otomatis mobil itu. “Dan jangan coba-coba untuk kabur.”
            Akhirnya Jeany menuruti perintah Niel sambil terus bertanya-tanya dalam hati akan kemana Niel membawanya. Dan tiba-tiba ia teringat kalau hari itu ia ada ulangan yang terpaksa tidak diikutinya berkat Niel. Hancur sudah predikatnya sebagai siswi teladan.
            “Memangnya kita mau ke mana?” tanya Jeany lagi begitu ia masuk ke mobil.
            Niel tersenyum tipis (mungkin menyeringai?). “Lotte World.”
            Jeany langsung ingin muntah.

@ A.S, kelas 2-B
            Ji Ni tidak bisa konsen dengan soal di hadapannya. Ia sibuk berasumsi dimanakah gerangan sahabatnya. Jeany bukan jenis siswi nakal yang nekat bolos saat ulangan begini. Tiba-tiba saja Ji Ni ingin menangis. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?
            Akhirnya begitu bel jam istirahat pertama berbunyi, Ji NI langsung mengontak ponsel Jeany. Sialnya, nomor itu sedang tidak aktif. Ji Ni akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Niel, pacar Jeany. Sekalipun kecil kemungkinan Niel tahu. Cowok itu lebih banyak gak tahunya ketimbang taunya, padahal Jeany dan dia sudah pacaran 3 bulan lebih.
            Kelas mereka cukup jauh, sekalipun masih di lantai yang sama. Tapi ketika di lorong, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
            Chunji tampak asik dengan beberapa siswi yang mengerumuninya. Tiba-tiba saja Ji Ni merasa kesal sekali. Sekalipun mereka sepakat untuk rehat, bukan berarti dia boleh bermesraan dengan cewek lain. Status mereka kan masih pacaran!
            Tapi demi Jeany, ia terus melangkah dengan kepala tegak. Tepat ketika ia melintas di hadapan Chunji dan dayang-dayangnya, tangannya ditarik oleh namja itu.
            “Mau kemana?” tanyanya disertai senyuman.
            “Bukan urusan kamu. Urus saja mereka.” Ji Ni mengangguk ke arah siswi-siswi yang bubar teratur begitu melihatnya.
            “Kok begitu sih? Jawab aku, kamu mau kemana?” Chunji pantang menyerah. Ji NI menatapnya sesaat, menimbang apa sebaiknya ia cerita? Mungkin Chunji tahu di mana Jeany.
            “Jeany tidak masuk sekolah, padahal tadi kami berangkat bareng sebelum aku meninggalkannya. Tapi ia tidak datang juga.” Ji Ni akhirnya menceritakan yang terjadi. “Nomornya tidak aktif. Aku mau bertanya pada Niel, mungkin dia tahu.”
            Chunji menyeringai. “TENTU saja ia tahu.” Ji Ni mengerutkan dahi.
            “Mereka sedang kencan sekarang, sudah, jangan kau ganggu. Lebih baik kau temani aku saja. Bagaimana? Sudahlah jangan marah terus....”
            “Aku serius!” kata Ji Ni kesal. Jeany tidak mungkin membolos hanya untuk kencan saja.
            “Aku juga. Bagaimana? Sore ini mau nonton gak?” Chunji memasang wajah polosnya.
            Ji Ni berdecak kesal lantas memutar tubuhnya 180 derajat dan pergi meninggalkan namjachingu-nya.
            Chunji hanya menatap punggung Ji Ni diiringi tawa.

@ Lotte World
            “Tidak. 1000x kau bilang begitu, jawabannya tetap tidak!!” Jeany menatap Niel seakan mau membunuhnya.
            “Kau takut?” Niel menyeringai. Dalam hati, ia sedikit kesal. Kenapa Jeany tidak mau naik roller coaster bersamanya. Bahkan mereka ada di sini pun berkat usaha keras Niel. Sejujurnya, ini cukup menyakitkan.
            “Iya!” tukas Jeany, lantas berbalik dan meninggalkan Niel yang segera mengejarnya.
            Ya! Kau ini....” Niel menahan tangan kanan Jeany. “Bisakah kau bersikap sedikit manis denganku?”
            “Sudahlah! Aku mau pulang!!!” Jeany menghentakkan kakinya. Pertengkaan kecil mereka mulai membuat orang-orang menatap aneh. Terpaksa, ia harus memelankan sedikit suaranya.
            Niel mendengus. Ia menatap Jeany dan akhirnya mengalah. Tapi, bukannya ia akan mengantarnya pulang. Hari ini adalah hari yang langka, jadi ia tidak mau menyia-nyiakannya dengan bertengkar seharian.
            “Ayo ikut aku.” Niel menarik Jeany dari tempat itu.
            “Hei!! Lepas!”
            Niel terus menarik Jeany seakan ia adalah troli dan berpura-pura tuli sepanjang jalan.

@ Ji Ni’s room
            Ponsel Jeany masih tidak bisa dihubungi dan sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu sambil memeluk gulingnya. Padahal ia sangat ingin bercerita tentang hari ini.
            Hari ini....ia merasa Chunji makin berubah. Atau mungkin, ini adalah dirinya yang sebenarnya? Ia masih ingat kata-kata Jeany saat ia bilang akan menyatakan perasaannya pada Chunji.
            Jaeneun nallariya...”
            Mungkin Jeany memang benar. Mungkin saat itu ia dibutakan oleh cinta sesaatnya. Tapi, kenapa Chunji mau menerimanya dan bertahan dengannya selama 5 bulan ini? Kalau benar ia playboy, hubungan mereka mungkin tidak akan bertahan lebih dari sebulan.
            Ji Ni rasa, ia bisa gila.
            Sambil menatap langit-langit kamarnya, ia kembali mengingat saat itu. Saat ia menyatakan perasaanya pada Chunji.
            “ Aku...sudah lama menyukai Chunji-oppa...” ucap Ji Ni waktu itu pada Chunji di Gym. Chunji adalah anggota tim atletik sekolah, dan setiap hari ia latihan di Gym. Tentu saja dengan dikerubungi oleh para suporter wanitanya.
            “Aku?” Chunji menunjuk dadanya. Ji Ni hanya bisa mengangguk sambil menatap ujung sepatunya.
            Hening...
            “Terima kasih!” kata Chunji akhirnya, membuat Ji Ni mendongak lantas mengecup pipi Chunji sekilas lalu berlari meninggalkannya. Langsung saja seisi Gym dipenuhi sorakan orang-orang. Sedangkan Jeany yang ikut mengantar hanya bisa geleng-geleng kepala.
            Hanya seperti itu. Dan hari-hari setelahnya mereka hidup bahagia. Ji Ni tidak melihat satu pun tingkah Chunji yang bisa di kategorikan sebagai playboy. Chunji juga tidak pernah marah saat Jeany memaksa ikut saat mereka kencan. Lalu, kenapa sekarang ia berubah?
            Awalnya, ia melihat Chunji jalan dengan seorang cewek padahal katanya ia sedang ada urusan keluarga. Mereka juga tidak terlihat mesra, maka Ji Ni memutuskan untuk tidak mempersalahkannya. Kali ke dua, ia melihatnya lagi, kali ini malah dengan dua orang cewek sekaligus. Jeany yang saat itu bersamanya nyaris mendatangi Chunji dan memukulnya. Tapi Ji Ni memilih untuk pulang dan menangis sampai pagi. Dan, kejadian serupa terulang sampai 3 kali tanpa Chunji pernah mengklarisifaksi. Sampai akhirnya Ji Ni sendiri yang memutuskan kalau mereka harus ‘rehat’ sejenak.
            Padahal...padahal....ia sangat sayang, padahal.....
            Apa karena Chunji tidak menganggapnya pacar? Saat itu, ia cuma bilang terima kasih saja. Dan sampai sekarang ia tidak pernah bilang kalau ia memiliki perasaan yang sama.
            Lalu, selama ini ia dianggap apa?

@ xXx Resto
            “Ya...?” Chunji menempelkan ponsel ke telinganya dan menahannya dengan bahu sementara ia terus mengepel lantai.
            “Oh...begitu....” gumam Chunji lagi dengan suara yang dipelankan. Kalau bosnya mendengar, ia bisa dipecat. “Yasudah, aku tidak mau ganggu kalian. Selamat bersenang-senang...” godanya. 
            “Chunji!” teriak seseorang dari dalam.
            “Ya Bos!!” secepat kilat ia menyelipkan ponsel ke dalam kantung seragamnya lantas berjalan ke dapur.

@ Niel’s home.
Terdengar suara pintu diketuk dan kemudian pintu itu terayun membuka. Niel.
Jeany langsung berdiri lantas menatapnya tajam.
“Kupikir kau sudah tidur...” kata Niel sambil mendekat ke arah Jeany.
“Bagaimana aku bisa tidur sedangkan di luar sana semua anggota keluargaku sedang mencariku?” desis Jeany. Niel hanya diam lantas membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kaki menjulur ke lantai.
“Aku sudah meminta izin, kau tidak perlu takut.”
“Sekali lagi kau melakukan ini, tamat riwayatmu!” ancam Jeany.
Niel menoleh, manatapnya dengan tatapan dingin yang biasa, tapi entah kenapa rasanya sedikit berbeda...lebih lembut, atau sesuatu semacam itu. “Apa kau senang hari ini?”bisiknya.
Jeany mengerjap – tanda kalau ia jadi gugup – dan seketika membisu. Padahal ia sudah bersiap ngomel tapi kata-kata itu hilang entah ke mana karena tatapan Niel itu. Dan lagi-lagi ingatannya saat di Lotte World muncul dan bergantian menyerang syarafnya. 
Saat Jeany masih juga ‘terbang di awang-awang’ Niel bangkit lantas memeluk Jeany. Singkat, tidak terlalu erat, tapi efeknya......dahsyat!
Jeany merasa lututnya melumer. Sebelumnya mereka tidak pernah berpelukan, Niel juga tidak pernah menggandeng tangannya (karena lebih sering menariknya) atau bersikap romantis lainnya. Sejak mereka jadian, yang lebih karena pemaksaan, Jeany tidak pernah menganggap Niel sebagai pacarnya. Atau sesuatu yang spesial selain itu. Di matanya, Niel adalah cowok arogan yang suka memaksa, dan menyebalkan. Kalau bukan karena titel ‘pengganggu’ yang disebabkan karena hobinya mengikuti kencan Ji Ni dan Chunji, ia tidak mungkin mau berpacaran dengan Niel.
Niel mencengkram kedua bahunya lembut. Tatapan matanya masih selembut tadi, yang membuat Jeany malu untuk bisa menatapnya. Sekalipun Niel bukan orang yang disukainya, tapi diperlakukan seprti ini oleh seorang cowok tetap saja membuat jantungnya tak keruan.
“Terima kasih sudah mau menemaniku seharian ini. Aku sangat senang.” Katanya. Jeany merasa pipinya memanas. Tapi ia tidak mau terlihat seperti seorang cewek yang mudah lumer di hadapan cowok, apalagi yang seperti Niel. Akhirnya ia mendongak.
Yah...keputusanya agak salah sih, karena reaksi berikutnya adalah ia merasa seluruh tulang tubuhnya berubah seringan kapas karena ia merasa limbung. Niel terlihat...dia terlihat...ah! Jeany tidak tahu harus menyebutnya apa...tapi, jantungnya berdetak lebih kencang. Tuhan, ada apa dengan dirinya?
“Bisa kau keluar sekarang?” kata Jeany akhirnya, “aku mau tidur.” Yang sangat ia sesali, suaranya terdengar sangat ketus. Padahal ia bermaksud untuk mengusir Niel secara halus...tapi kalau seperti tadi, apa bedanya dengan membentak? Bodoh!
Niel tertawa kecil, “iya....” Tangannya mengacak puncak kepala Jeany yang langsung kena pukul. “Ternyata kamu masih sama.” Tambahnya lagi lalu pergi dan meninggalkan Jeany yang langsung jatuh terduduk begitu pintu ditutup.

@ Andromeda SHS
            “Jeany!!” Ji Ni langsung menarik sahabatnya itu saat Jeany muncul di ambang pintu. “Eh, boneka apa itu?”
            Jeany tersenyum lebar, lantas menunjukkan bonekanya di depan mata Ji Ni. Sebuah boneka lebah yang sangaaaat besar berwarna oranye dengan strip hitam seperti lebah sungguhan dan sepasang antena di kepalanya.
            “Dari siapa?” Ji Ni menyentuh bulu boneka itu yang sangat halus, dan melupakan tujuan awalnya.
            “Niel.” Jawab Jeany polos sambil memeluk bonekanya. Jeany suka boneka, apalagi yang berwarna oranye, karena itu warna favoritnya.
            “Haaah?” Ji Ni menaikan sebelah alis, lantas mencubit-cubit pipi Jeany. “Serius dari Niel? Kok bisa sih??? Oh iya! Kemarin kamu kemana??????????” Ji Ni histeris.
            “Ssshh...jangan berisik. Sini, aku kasih tau...” Jeany menarik Ji Ni ke kursi mereka di pojok kelas. Tapi baru saja Jeany mau membuka mulut, bel masuk berbunyi. Terpaksa mereka menundanya.
            Tapi begitu jam istirahat, Jeany langsung diseret Ji Ni ke taman belakang kelas. Jeany juga ikut membawa si Bee, saking sukanya ia dengan boneka itu.
            “Jadi...” Ji Ni menatap Jeany penasaran, siap untuk mendengarkan. Jeany mengelus bonekanya sebelum akhirnya bercerita.
           
@ Lotte World. Senin.
            Niel menarik tangan Jeany dan membawanya ke sebuah cafe. Ia memesan dua gelas capuccino hangat dan membiarkan Jeany menatapnya dengan tatapan membunuh. Ia tahu, ia terlalu sering memaksa. Tapi, hanya ini cara yang ia tahu, yang mempan untuk Jeany.
            Mereka akhirnya duduk dalam diam, menyesap capuccino masing-masing sambil menatap ke luar jendela. Melihat orang berlalu lalang. Meski sebenarnya, Niel terus mencuri-curi pandang ke arah Jeany.
            Pipi Jeany bersemu merah karena kedinginan dan tiba-tiba ia ingin menyentuhnya lagi seperti saat di mobil tadi. Begitu dingin dan lembut. Ah, tidak, tidak....apa sih yang dipikirkannya? Babo!
            Niel masih mengamati yeojachingu-nya yang sepertinya tidak sadar sedang diperhatikan. Sesekali, Jeany menyesap minumannya dan menatap ke luar. Ia pasti tidak sadar kalau gerakannya itu terlihat sangat menggoda bagi Niel. Rambut Jeany yang berwarna hitam dan ikal ditutupi oleh topi rajut yang sangat lucu. Sekeliling lehernya dibalut oleh muffler berwarna oranye, warna kesukaan Jeany. Niel memilih sendiri pakaian yang dipakai Jeany, dan merasa tidak menyesal karena Jeany terlihat benar-benar manis...
            “Aku mau ke toilet sebentar,” Jeany tiba-tiba bangkit dan langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Niel.
            Niel menatap punggung Jeany sampai hilang di balik tembok pembatas. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan bicara beberapa kata. Sesaat kemudian, salah satu anak buahnya datang sambil membawa boneka lebah yang sangat besar. Niel menyuruhnya pergi, lantas meletakkan boneka itu di atas meja.
            Jeany masih belum kembali, ia akhirnya memutuskan untuk ke kasir, membayar minuman mereka. Saat itulah ia melihat Jeany muncul dengan tampang bingung melihat ada boneka besar yang duduk manis di meja mereka. Setelah yakin kalau meja mereka belum di tempati oleh orang lain, Jeany langsung menarik keluar ponselnya lalu asyik ber-selca ria dan membuat pose-pose lucu. Niel yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli. Ia memang sengaja membelikannya boneka, tapi ia tidak tahu kalau ia akan begitu menyukainya.
            “Ayo pergi.” Niel menarik muffler Jeany.
            Jeany akhirnya menurut sambil memeluk erat bonekanya. Niel tidak mau bilang boneka itu darinya, dan Jeany sendiri memang sudah tau itu dari Niel. Maka sepanjang jalan mereka hanya diem-dieman. Niel sibuk memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya sedangkan Jeany yang ada di belakangnya meneruskan kegiatan selca-nya.
            Setelah muter-muter gak jelas, Jeany akhirnya angkat bicara.
            “Aku capek. Sebenarnya kau mencari apa?”
            Tapi Niel malah diam saja dan menarik Jeany ke sebuah photo Box.
            “Foto? Dari tadi kau mencari ini?”
            “Sudah, diam saja.” Kata Niel sambil sibuk memencet tombol-tombol dengan cepat. “Kemari,” Niel menarik Jeany agar lebih merapat. Jeany yang asli mau menolak jadi ciut nyalinya saat Niel lagi-lagi mengeluarkan ‘evil sight’-nya.
            Satu foto. Jeany berdiri canggung disamping Niel sambil memeluk bonekanya yang nyaris menutupi tubuhnya. Foto kedua...Niel tau-tau melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Jeany, membuatnya lebih merapat ke tubuhnya. Dan Jeany bisa merasakan debaran jantungnya dan jantung Niel di punggungnya. Berdetak kencang....
            Begitu keluar dari foto Box itu, Niel jadi lebih pendiam dan memutuskan untuk pulang. Pulang ke rumahnya. Jeany hanya bisa pasrah karena Niel jadi jauh lebih menyeramkan saat ia tidak bicara.

@ Rumah keluarga Ahn.
            Jeany pikir, saat mereka tiba di rumah super mewah Niel, mereka akan di sambut para pelayan yang berbaris rapi di pintu utama, tapi tidak ada siapapun. Saat mereka memasuki ruang tamu, ia meihat seorang pria sedang membaca koran sore sambil meminum teh ginseng.
            “Aku pulang,” kata Niel. Tangan Niel yang satunya menarik Jeany mendekat ke pria itu yang langsung menurunkan koran nya dan meletakkannya ke atas meja.
            “Ini siapa?” tanya pria itu sambil berdiri. Wajahnya serius mengamati Jeany dari kepala sampai kaki. Kemudian ia berteriak, “Sayanggggg.......lihat, putra kita membawa seorang gadis!!”
            Jeany langsung melongo apalagi tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul dari sebuah pintu masih mengenakan celemek, bahkan ia membawa-bawa sendok kayu.
            Omona....neomu yeppoda!!!” ibu Niel histeris. Jeany merasa makin asing, dan merasa mereka salah rumah.
            “Menurutku juga begitu sayangku....akhirnya anak kita membawa seorang gadis ke rumah!!!” ayah Niel tampak terharu. Wajahnya langsung berubah berser-seri.
            “Siapa mereka?” bisik Jeany. Sedangkan dua orang di hadapannya sibuk memuji betapa cantiknya ia dan betapa lucu boneka dalam pelukannya.
            “Siapa?” Niel mendesis. “Tentu saja orang tuaku.”
            Jeany melongo parah. “Kau pernah tes DNA? Yakin mereka orang tuamu?” tanya Jeany spontan yang dibalas dengan tatapan dingin Niel.
            “Ayo kita ke ruang keluarga, kita minum teh. Bagaimana sayang?” Ayah Niel menatap istrinya.
            “Benar, ah, sekalian saja makan malam di sini...sebentar lagi masakannya matang.” Sahut ibu Niel tak kalah semangat.
            Akhirnya sampai waktu makan malam, Jeany terpaksa duduk di ruang keluarga Niel. Menemani ayah Niel mengobrol. Ternyata ayahnya jauuuuuh berbeda dengan anaknya. Entah datang dari mana sifat buruk Niel itu. Ayah Niel juga menunjukkan foto-foto Niel ketika masih bayi plus cerita-cerita  lucu saat Niel kecil.
            Niel sendiri hanya bisa mendengus kesal. Karena tiap kali ia mau menarik foto-foto itu ayahnya langsung memukul tangannya. Mau tak mau, Jeany tertawa melihat pemandangan itu.
            Jeany terpaksa ikut makan malam di rumah Niel sambil berharap kalau ia akan dipulangkan setelah itu. Jeany pikir, mereka akan makan makanan mewah sekelas hidangan restoran ternama, tapi yang ada hanya makanan rumahan yang biasa. Rasanya lezat sih.
            “Apa kau satu sekolah dengan Niel?” tanya ibu Niel ceria sambil menuangkan minum untuk Jeany.
            “Iya...Niel kakak kelasku.” Sahut Jeany sekenanya. Di sampingnya, Niel duduk membisu sambil menikmati makan malamnya.
            “Sudah berapa lama kalian berpacaran?”
            Jeany nyaris tersedak, segera setelah makanannya tertelan ia meneguk habis minumannya. “Maaf...” gumamnya.
            “Ayah, Ibu, bisakah kalian berhenti mananyainya? Kami sudah tiga bulan pacaran, dan mungkin tiga tahun dari sekarang kami akan menikah. Apa itu cukup?” Niel akhirnya angkat bicara.
            “Wah...bagus itu. Ayah tidak harus khawatir mencarikanmu istri.” Ayah Niel tersenyum senang sambil meneruskan makannya.
            “Barusan kau bilang apa? Kau mau mati? Kenapa bilang kita akan menikah??” bisik Jeany.
            “Sudahlah, yang penting mereka diam.” Kata Niel acuh. Jeany makin yakin kalau Niel sudah tertukar di rumah sakit.
            “Jeany, bagaimana kalau kau menginap di sini? Mau kan?” Ibu Niel menatap Jeany penuh harap.
            “Tapi...aku belum meminta izin...”
            “Nanti akan kutelepon orang tuamu.” Sahut Niel. Jeany mendelik, ah...kenapa hari ini buruk sekali baginya??
            Dan, sekali lagi Jeany tidak bisa menolak. Tapi akhirnya ia tahu apa kesamaan Niel dan orang tuanya, keduanya sama-sama pemaksa!

@ Andromeda SHS.
            “Kenapa kau bisa punya pengalaman seru begitu? Lalu apa sekarang kau menyukai Niel-oppa?” Ji Ni menatap Jeany iri.
            Molla...lagipula kami jadian juga bukan karena cinta. Ingat kan?” Jeany mendengus.
            Tiga bulan lalu...tiba-tiba Niel muncul di depan pintu kelasnya. Tanpa ba-bi-bu, Niel bilang ia harus mau jadi pacarnya kalau tak mau digusur dari posisi teman Ji Ni. Niel bilang, kalau mereka pacaran, ia bisa ikut Ji Ni kencan dengan Chunji tanpa disebut sebagai pengganggu. Mau tak mau, Jeany setuju. Saat itu Niel juga bilang kalau ia terpaksa. Jadi hubungan mereka benar-benar tanpa dasar cinta.
            “Bagaimana denganmu dan Chunji?” tanya Jeany sambil memeluk bonekanya.
            Ji Ni menceritakan semuanya tanpa dikurangi. Dan betapa ia merasa begitu nelangsa. Jeany menyarankan agar mereka putus, dan mungkin Ji Ni bisa pacaran dengan Yeon Jae. Tapi Ji Ni bilang ia juga tida tahu bagaimana perasaannya ke Yeon Jae. Akhirnya Jeany tidak bisa bilang apa-apa lagi.
           
@ Gym.
            “Kenapa kau terus menyiksa diri begini? Kenapa tidak datangi saja dia dan bilang kalau kau menyukainya?” Chunji menatap Niel heran. Niel acuh sambil terus mendrible bola dan melakukan lay up shoot.
            “Kau sendiri? Kau juga menyiksa diri sendiri. Aku tahu kau sangat ingin melihat Ji Ni memakai pita biru itu kan?” Niel mengelap keringatnya dengan punggung tangan.
            Di sekolah mereka, sudah menjadi tradisi bagi cewek-cewek yang sudah punya pacar untuk memakai pita biru sebagai pengganti dasi. Atau pita merah bagi mereka yang sudah menyatakan perasaan dan sedang menunggu jawaban.  Sayangnya Jeany dan Ji Ni tidak turut serta dalam pelestarian tradisi ini.
            “Aku tidak mengerti kenapa Ji Ni tidak memakai pita itu juga, kami sudah  pacaran lima bulan dan tidak seharipun ia memakai pita biru. Aku sudah sengaja bersikap sedikit ‘nakal’ tapi reaksinya standar saja...” Chunji tersenyum sedih. “Dan sekarang dia malah lebih dekat dengan cowok brengsek itu.”
            “Aku juga tidak suka.” Niel duduk di samping Chunji. “Kurasa cowok itu punya maksud buruk.”
            “Ah, iya. Bagaimana kemarin?” Chunji menyenggol bahu Niel sambil tersenyum nakal. Niel tersenyum tipis dan mulai bercerita.

@ Taman Kota. Minggu.                                                                        
            Ji Ni melirik arlojinya. Sudah lewat beberapa menit dari waktu yang dijanjikan. Hari ini ia dan Yeon Jae-oppa berencana untuk pergi nonton.
            “Ji Ni-ya...maaf membuatmu menunggu. Tadi aku ada urusan dadakan. Maaf ya?” Yeon Jae tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.
            Gwenchana...ayo kita pergi.” Ji Ni tersenyum manis. Ia merasa ingin melupakan Chunji...itulah kenapa ia menerima ajakan Yeon Jae. Mungkin sebentar lagi mereka kan putus. Dan mungkin ia bisa menyukai Yeon Jae.
            Sekalipun sama-sama romantis, Yeon Jae lebih peduli padanya. Ji Ni merasa ia tidak akan menolak kalau Yeon Jae mangajaknya pacaran, sekalian saja ia balas dendam pada Chunji.
            Kajja...” Yeon Jae menggandeng tangannya. Ji Ni tersenyum dan balas menggenggam tangan Yeon Jae.

@ Andromeda SHS.
            Sudah seminggu berlalu dan tahun baru tinggal tiga hari lagi. Hari ini Jeany terpaksa pulang sendiri lagi karena Ji Ni lagi-lagi ada janji dengan Yeon Jae. Sebenarnya Jeany tidak setuju dengan keputusan temannya itu. Ini sama saja menyiksa diri sendiri. Dan juga menyiksanya. Kalau Ji Ni putus dengan Chunji, maka tak ada alasan lagi baginya untuk terus pacaran dengan Niel kan? Dan itu melegakan sekali.
            “Jeany...!!”
            Jeany menoleh. Loh, Yeon Jae?
            Jeany menghampiri Yeon Jae yang berdiri di dekat pintu gerbang. “Bukannya...”
            “Iya, aku memang tadinya mau pergi dengan Ji Ni. Tapi sebenarnya aku butuh pertolongan. Bisa kau bantu aku?” Yeon Jae tersenyum manis.
            “Apa?” tanya Jeany polos.
            “Ikut denganku...”
            Jauh dari sana, sepasang mata menatap Jeany dan Yeon Jae yang pergi dengan motor dengan tatapan berkilat. Niel menggebrak mejanya dan membuat Chunji terlonjak kaget.
            “Kau ini kenapa?” Chunji meggerutu.
            Niel tidak menjawab dan langsung berlari meninggalkan Chunji.

@ Mall.
            Hyung tidak perlu menggandengku...” tolak Jeany halus sambil  mencoba melepaskan genggaman Yeon Jae.
            “Di sini sangat ramai, aku takut kau terpisah.”
            “Memangnya kita mau apa di sini? Membeli hadiah?”
            Yeon Jae tersenyum, “Tepat sekali! Aku mau membelikan sesuatu tapi aku tidak tahu apa kesukaannya.”
            “Untuk Ji Ni ya?” tanya Jeany langsung. Yeon Jae hanya menjawab dengan senyuman tipis.

@ Jeany’s Home.
            “Sebentar....!!!” teriak Jeany, tapi suara gedoran di pintu rumahnya malah terdengar makin kencang.
            “Niel...?” heran Jeany begitu melihat siapa yang datang. Jangan-jangan tadi Niel melihatnya pergi dengan Yeon Jae. Ottokhae?? Tapi, kenapa ia harus khawatir? Mereka kan cuma pacaran bohongan!
            Niel merangsek masuk dan merapatkan tubuh Jeany ke tembok, menguncinya sehingga ia tidak bisa bergerak.
            Ya! Neo wae gurae?” bentak Jeany. Niel menatapnya tajam, satu tangannya mencengkram pergelangan tangan Jeany, memakunya ke tembok. Tangannya yang lain memagari sisi kiri tubuhnya. Kalau saja ibunya melihat ini, pasti langsung pingsan.
            “Kuberitahu kau sekali ini saja.” Kata Niel penuh penekanan. “Jauhi namja sialan itu kalau kau bukan gadis murahan yang mau saja digandeng kemana-mana.”
            Jeany melotot, siap membalas perkataan Niel. Tapi tiba-tiba Niel melepaskan kurungannya dan melangkah keluar tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
            “Dasar gila!” Jeany berteriak, wajahnya merah padam. Tangannya juga ikut melempar pot kecil yang sedang sial berada di dekatnya, sayang meleset.
            “Aku benci kamu!” teriak Jeany lagi sebelum Niel hilang dari pandangan.

@ Andromeda SHS.
            Jeany melempar tasnya kesal, masih teringat kejadian kemarin.
            “Jeany...coba tebak??” Ji Ni tiba-tiba muncul. Wajahnya cerah.
            “Yeon Jae mangajakmu keluar malam tahun baru nanti?” kata Jeany acuh. Senyum di wajah Ji Ni menguap seketika.
            “Kenapa kau bisa tahu?” ia cemberut.
            “Hal seperti itu mudah untuk ditebak.” Ucap Jeany asal. “Apa itu yang kau pakai?” ia menunjuk tangan Ji Ni.
            “Jam!!! Yeon Jae-oppa yang belikan!!!” pamernya dengan senyum lebar.
            Jeany mengeutkan alis. Kemarin ia dan Yeon Jae kan pergi ke toko perhiasan... kenapa malah jam?
            “Ah iya, katanya kau boleh ikut malam tahun baru nanti.” Kata Ji Ni sambil terus mengagumi jamnya.
            “Oh...boleh juga.” Jeany tersenyum menggoda.
            “Kau ini...masa jadi bertiga?”
            “Iya...nanti aku akan ‘menghilangkan’ diri sendiri. Tidak usah takut begitu..” Jeany mencubit pipi Ji Ni.
            “Yei...Jeany memang temanku yang paling baik!!”
            “Soal Chunji bagaimana?” Jeany nyeletuk. Dan tiba-tiba kesal karena ikut teringat tentang Niel.
            “Mungkin aku akan memutuskannya.” Bisik Ji Ni. Jeany mendesah dan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Tidur.

@ Jeany’s Room
            Yeoboseo?” Jeany mengangkat teleponnya malas. “Mwo???” jeritnya beberapa saat kemudian.
            “Iya...aku sudah mutusin Chunji.” Ujar Ji Ni kalem di ujung telepon sana, sedikit terdengar isak tangis.
            “Serius...?”
            “Iya, kenapa?”
            Jeany menghela napas. “Ani...sudah, sekarang kamu istirahat saja.”
            Ji Ni patuh dan menutup teleponnya. Sedangkan Jeany tiba-tiba terserang insomnia. Ia beringsut ke dekat meja di samping ranjang. Membuka lacinya dan mengamati kotak kecil berhias pita. Sebuah hadiah yang ia beli saat pergi ke mall dengan Yeon Jae. Sekarang ia tidak tahu harus diapakan hadiah itu. Tapi, ada masalah yang lebih gawat lagi.
            Dia...dia merasa mulai menyukai Niel! Di saat ia harusnya memutuskan namja itu! Dan sekarang, saat yang sudah lama ia tunggu, akhirnya datang! Tapi....

@ Andromeda SHS.
            Hari terakhir sebelum libur...
            Bukan hanya Ji Ni yang muncul dengan wajah sembab, Jeany juga kurang tidur. Semalam, setelah menghabiskan waktu berjam-jam dan berganti posisi dari berdiri, duduk, tiduran, sampai meringkuk di pojok kamar, akhirnya Jeany meng-sms Niel tepat pukul 2 pagi.
            Ia berpendapat, rasa sukanya pasti masih ‘kuncup’ dan bukan hal besar untuk meratakannya dengan tanah. Sudah pasti Niel tidak – atau belum – membalas smsnya. Tapi, entah mengapa ada bagian dalam diri Jeany yang merasa menyesal. Dan pagi ini berubah menjadi rasa takut.
            “Besok malam jadi pergi dengan Yeon Jae?” Jeany berbisik pelan pada Ji Ni yang merebahkan kepalanya di atas meja.
            “Iya...” jawab Ji Ni lemas.
            “Kenapa sih, bukannya kamu seneng putus sama Chunji?” Jeany menepuk bahu Ji Ni pelan.
            Molla...
            Aish...dasar kau ini!” Jeany akhirnya memilih diam dan tenggelam dalam lamunannya sendiri. Bagaimana dengannya sendiri?
            Ia jadi ingat dengan rumah, dan betapa nyamannya kalau ia bisa tidur di kamarnya...dengan semua boneka, Mimi, Leo, dan si Bee...Bee, Oranye...Niel...Lotte World....Roller Coaster....Niel....tangan Niel...suara Niel....aroma tubuh Niel......
            Kenapa malah Niel yang ia ingat??!!
            Jeany marah pada dirinya sendiri dan memukulkan tangannya ke meja.
            Dan yang ada, ia teringat dengan Niel lagi.... benar-benar payah!

@ Jeany’s Room.
            Malam tahun baru........sepi. Di kamarnya, dia hanya bisa bergelung dengan selimut sambil menatap kotak berpita di tangannya.
            Niel tidak membalas smsnya. Tidak juga muncul di sekolah. Kenapa sih?? Kesalnya dalam hati. Berkali-kali ia ingin meng-sms, tapi buat apa? Dia yang mulai, kok. Dan siapa tahu sebenarnya Niel juga lega mereka putus dan ga mau repot ngebales smsnya. Salah sendiri!!
            “Jeany....!!” terdengar suara seorang namja memanggi dari luar. Segera Jeany membuka jendela kamarnya dan memandang ke jalanan di bawah.
            Dia kira Niel, taunya Yeon Jae dan sepdanya... bukannya dia sudah bilang tidak mau ikut? “Kenapa? Mana Ji Ni?”
            “Bisakah kau ikut? Aku butuh bantuanmu lagi...mau kan??” mohonnya ditambah senyum manis.
            “Aku sedang malas keluar. Terlalu dingin.” Jeany beralasan. Lagipula malam tahun baru tahun ini adalah yang terburuk, merusak mood-nya habis-habisan.
            Jebal....??” ia memohon lagi. Jeany merasa tidak punya pilihan, dan akhirnya turun dengan tergesa bercampur marah.
            Gomawo...nanti kukasih hadiah deh.” Yeon Jae menaiki sepedanya sedangkan Jeany duduk di belakangnya.
            “Sudahlah...cepat jalan!” ketus Jeany.
            “SIP!!” Yeon Jae mengayuh sepedanya menuju pusat kota.

@ Incheon Airport.
            Niel dengan tergesa mencoba menghubungi ponsel Jeany tapi tidak ada yang mengangkat. Begitu turun dari pesawat, ia langsung mengecek ponselnya dan mendapati sms dari Jeany yang dikirim dua hari lalu saat ia sedang menemani appanya kunjungan kerja ke Macau. Dan isi sms itu makin membuatnya tak karuan. Saat ke luar negeri, ia memang meninggalkan Ponselnya dan menggunakan ponsel yang lain. Dan sekarang ia benar-benar menyesal tidak menyatakan perasaannya sebelum ia pergi dan juga tidak pamit.
            “Halo? Chunji?” ia menelepon Chunji dan yang ada ia jadi makin putus asa. “Kau...putus?” lalu terdiam.
            Ya!! Dasar babo!! Kau tahu akibatnya kan? Jeany juga minta putus nih!! Apa?dia tidak mengangkat teleponku...kamu ini bagaimana sih! Yasudah, aku ke tempatmu!”
            “Mau kemana Niel? Ah, ajak Jeany ke rumah ya? Sekarang kan malam tahun baru!” seru Ayahnya dari belakang.
            “Iya...sekarang aku akan menjemputnya!” desisnya dan berlari meninggalkan ayahnya yang kebingungan.

@ xXx Resto
            “Aku sibuk melayani pelanggan...kau tunggu sebentar ya, aku pikirkan cara bagaimana kita bisa ngobrol.” Chunji meletakkan segelas Latte, lantas pergi. Memang restoran sedang ramai sekali.
            Niel menikmati lattenya dalam diam, tangannya sibuk menghubungi ponsel Jeany. Sedangkan ada dua tamu restoran yang baru saja masuk.
            “Di mana Ji Ni?” tanya Jeany sambil sedikit melonggarkan mufflernya. Yeon Jae tersenyum tipis lantas menariknya ke sebuah meja di ujung. Salju di luar mulai turun semakin lebat, semoga saja tidak sampai jadi badai.
            Mereka duduk, dan menunggu pelayan datang.
            Tiba-tiba Yeon Jae meletakkan kotak beludru di hadapan Jeany, kotak yang ia kenal.
            “Ini apa?” Jeany mengernyit.
            “Buka saja.”
            Kalung...kalung yang Jeany beli bersama Yeon Jae beberapa waktu lalu. Tapi kenapa belum diberikan ke Ji Ni?
            “Ini kalung untuk Ji Ni kan?” tanya Jeany polos.
            Yeon Jae menggeleng pelan. “Untukmu.”
            “Hah?” Yeon Jae pasti bercanda, pikir Jeany.
            “Kalung itu untukmu. Aku membelinya untukmu.” Jelasnya.
            “Bukan...ini untuk Ji Ni, Kau kan mau menembaknya?” Jeany makin bingung. “Seharusnya sekarang kan kalian kencan dan kau memberikan kalung ini padanya....di mana Ji Ni?” tanya Jeany seketika. Kalau Yeon Jae bersamanya, bagaimana dengan Ji Ni?
            “Ah...aku sudah membatalkan janji dengannya. Kurasa terlalu jahat memintanya datang hanya untuk ini. Menembakmu di hadapannya rasanya kurang tepat. Jadi kubatalkan saja....” Yeon Jae menjelaskan tanpa dosa.
            “Tunggu...menembakku?? kenapa malah aku?” Jeany merasa ada yang salah.
            “Selama ini aku menyukaimu. Apa kau tidak merasa? Yah...memang agak sulit mendekatimu jadi aku mendekatimu lewat Ji Ni. Jadi bagaimana?” Yeon Jae menatap Jeany dengan senyum yang sekarang membuat Jeany muak. Ingin rasanya Jeany memukulnya. Ia ingat betapa Ji Ni bercerita dengan senangnya tentang Yeon Jae, sikap Yeon Jae padanya, kata-kata yang diucapkan Yeon Jae...semua tentang Yeon Jae! Tapi sekarang.......tapi, sejam lalu Ji Ni bilang ia sudah berangkat ke tempat janjiannya dengan Yeon Jae!
            “Tapi tadi Ji Ni meneleponku dan bilang kalau ia sudah berangkat ke tempat kalian janjian....”
            “Kurasa ia sedikit keras kepala, kan?”
            Jeany bangkit, siap untuk menampar Yeon Jae. Tapi, orang lain sudah mendahuluinya.
            Chunji, dengan segenap tenaganya menarik baju Yeon Jae dan menghantamnya dengan tinju hingga Yeon Jae menjerit kesakitan. Disusul oleh tinju lagi, dan tendangan, semua yang bisa membuat Yeon Jae terluka.
            Jeany terbelalak, juga para pengunjung restoran lainnya. Akhirnya Yeon Jae memberi perlawanan, tapi Chunji tidak menyerah dan keduanya berkelahi hingga membuat meja di sekitar berantakan dan tamu yang duduk di situ menghindar sejauh-jauhnya.
            “Brengsek!!” Chunji duduk di atas tubuh Yeon Jae dan meninju wajahnya berkali-kali. “Ji Ni...teganya kau padanya! Dia yeojachingu-ku...!!” raungnya.
            Tidak ada yang bisa Jeany lakukan selain diam mematung. Bebeapa tamu mencoba melerai, tapi mundur lagi karena Chunji seperti orang kesetanan.
            “Chunji! Cukup!” tiba-tiba Niel muncul. Saking seriusnya ia dengan ponselnya, ia jadi tidak memperhatikan kalau ada perkelahian.
            “Cukup!” Niel menarik Chunji menjauh. Dan mata Niel bertemu dengan Jeany yang juga menatapnya dengan sorot mata kaget.
            Manager restoran datang dengan wajah murka lalu menyuruh Chunji dan Yeon Jae untuk ke ruangannya. Niel yang tiba-tiba menjadi ‘wasit’  ikut masuk dan Jeany yang tidak tahu harus apa hanya diam dan melihat para pelayan lain membereskan kerusakan yang terjadi.
            Beberapa saat kemudian Jeany yang menunggu di luar restoran melihat Chunji muncul, sekarang tanpa mengenakan seragam karyawannya yang tadi Jeany lihat.
            “Chunji...” panggil Jeany, Chunji menoleh, tampak marah. Membuat Jeany sedikit takut, tapi ada yang lebih penting.
            “Chunji...kurasa Ji Ni sekarang masih menunggu Yeon Jae di air mancur di pusat kota....bisakah kau ikut kesana? Aku khawatir sekali.” Mata Jeany mulai menitikkan air mata. Ia tidak percaya bahwa ia adalah penyebab semua ini. Mungkin Ji Ni akan marah kalau tahu tentang ini semua.
            “Terima kasih...” ujar Chunji, membuat Jeany mendongak. “Sudahlah...kenapa menangis? Ini bukan salahmu kan? Ini salah si Yeon Jae brengsek itu...” Chunji menghapus air mata Jeany dengan jarinya. Ia tidak marah....dan malah tersenyum. Sisa darah mengering nampak di leher dan kerah bajunya.
            “Kau juga brengsek kalau coba melakukan hal yang sama padanya...” ucap sebuah suara. Tangan orang itu menarik tangan Chunji yang tadi menghapus air mata Jeany. “Cepat pergi sana...apa kau butuh mobil?”
            Jeany menatap Niel yang dibalas dengan tatapan dingin Niel sekilas. Dan rasanya ia mau menangis lagi....
            “Tidak...itu dekat dari sini. Aku akan naik sepedaku saja.” Lalu Chunji menghilang setelah sebelumnya mencubit pipi Jeany.
            “Hei!” hardik Niel tapi Chunji hanya tertawa saja.
            “Chunji!” panggil Jeany, ia harusnya juga ikut!
            Tiba-tiba sebuah tangan menariknya ke sebuah mobil. “Masuk.” Perintah Niel. Jeany tidak punya pilihan selain menurut saja.
            Niel ikut masuk. Dan mereka duduk dalam diam selama hampir 5 menit. Sepertinya keduanya tidak berniat untuk saling bicara.
            Jeany seperti duduk di atas kompor. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Dia begitu khawatir pada JI Ni...apa dia baik-baik saja? Apa Chunji sudah menemukannya? Ia harusnya ikut! Yeon Jae brengsek!!! Dan kenapa sekarang ia malah ada di sini?? Apa sih yang selama ini dilakukannya?? Niel dan dia...kanapa jadi membingungkan begini??
            Jeany menangkupkan tangannya di wajah, karena ia sudah tidak bisa menahan tangisnya. Ia marah pada dirinya sendiri karena sudah memperumit keadaan. Sekarang, Niel yang sangat dirindukannya hanya berjarak satu raihan tangan dan ia terlalu takut untuk bilang ‘jangan pergi lagi’ atau ‘aku cinta kamu’. Ia tak tahu harus apa?
            Neo wae gurae?” Niel mendekat ke arah Jeany. Sebenarnya sudah sejak tadi ia ingin merangkul Jeany kalau saja ia tidak ingat dengan sms itu. “Kau kenapa...?” Niel bertanya lagi, kali ini lebih lembut.
            Jeany menggeleng dan air matanya turun makin deras. Suara Niel...membuatnya merasa bodoh, entah mengapa. Dadanya sesak....
            Niel mencoba menarik tangan Jeany. “Uljima...Jeany-ah”
            Mianhae....” isak Jeany.
            Niel jadi bingung sendiri harus bagaimana. Jeany menangis di hadapannya dan ia bahkan terlalu takut untuk mengusap air matanya. Jeany tidak menginginkan dirinya... Jeany tidak membutuhkan dirinya.
            Uljima...” hanya itu yang bisa Niel ucapkan.
            Hening...dan hanya terdengar suara isak tangis Jeany. Mendengarnya membuat Niel gila...ia tidak pernah mau mendengar Jeany menangis.
            Saranghae...

@ Pusat Kota.
            Ji Ni merasa hancur. Yeon Jae serius dengan ucapannya. Ia pikir Yeon Jae bercanda saat bilang kalau mereka tidak ada urusan lagi dan ia tidak perlu datang di telepon tadi. Ia merasa bodoh...ia merasa ingin menangis. Chunji pasti akan menertawakannya kalau melihat keadaannya sekarang. apa yang didapatnya sekarang setelah berdandan selama 2 jam lebih? Tidak ada.
            Ji Ni melangkah gontai menuju halte. Ia mau mengadu ke Jeany, mau menangis sejadi-jadinya.
            “Ji Ni?”
            Suara Chunji....
            “Syukurlah aku menemukanmu.” Chunji turun dari atas sepednya. “Kau kenapa?”
            Ji Ni tahu seharusnya ia lari saja, karena ia sudah tidak punya muka untuk bertemu Chunji. Tapi ia tidak bisa, dan yang ia lakukan adalah menghambur memeluk Chunji.
            Chagi-ya....neo wae gurae?” tanya Chunji lembut. Ia bahkan masih memanggilnya chagi....pikir JI NI, dan tangisnya meledak.
            “Hua....Chunji....Hiks...hiks...” tangis Ji Ni. Chunji menepuk punggungnya lembut.
            “Iya....aku mengerti kau menyesal aku sudah tahu masalahnya, jadi kau tidak usah cerita lagi. Sudah, sudah....” ucap Chunji. “Ngomong-ngomong, tadi aku baru saja menghajar Yeon Jae. Apa itu membuatmu senang?”
            Ji Ni mendongak. Sudah tidak menangis lagi.
            Jinja-yo?”
            “Yap...” Chunji menarik Ji Ni duduk di pinggir air mancur.
            Kalau boleh jujur...mereka adalah pasangan yang aneh. Sejujurnya, mereka sudah putus, tapi malah saat sudah putus begini mereka malah akur.
            “Chunji...” panggil Ji Ni serak.
            Ne, chagi?”
            Mianhae...aku sudah bersikap buruk.” Ji Ni memulai pengakuan dosanya. “Kau cuek sekali, jadi aku sengaja ingin membuatmu cemburu. Tapi kau masih saja begitu, aku kesal, jadi aku memutuskanmu. Tapi kurasa aku tidak pernah menyukai Yeon Jae, aku cuma memikirkanmu.”
            “Dan kau juga tidak dapat Yeon Jae...malangnya kau.” Chunji nyengir.
            “Kenapa kau bisa mengahajar Yeon Jae brengsek itu?” Ji Ni jadi kesal mengingatnya.
            “Ia datang dengan Jeany...”
            “Dengan Jeany?!” potong Ji Ni.
            “Dengar dulu....mereka datang ke restoran tempatku bekerja. Yeon Jae menembak Jeany, dan aku mendengarnya menyebut-nyebut namamu. Katanya, ia hanya memperalatmu saja. Ya sudah, kuhajar saja dia. Kau tahu? Kurasa ada giginya yang patah.”  Chunji tertawa tapi kemudian meringis karena bibirnya yang robek tertarik.
            Ji Ni diam sejenak menatap Chunji. Apa Chunji masih menyukainya? Dan ia melihat noda darah kering di leher Chunji dan kerah bajunya. Ia merabanya dengan tangannya.
            “Aku memang tidak menarik ya?” gumam Ji Ni.
            “Bicara apa kau?” Chunji tiba-tiba menjadi serius.
            “Ah, kau bilang restoran tempatmu bekerja? Kau bekerja?” Ji Ni tiba-tiba teringat ucapan Chunji. Keluarga Chunji cukup kaya, dan seharusnya Chunji tidak kesulitan dalam hal keuangan.
            Chunji menatap Ji Ni dalam-dalam. “Kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa membuatku menghajar orang di restoran sampai membuatku kehilangan pekerjaan dan tetap mencintaimu sekalipun kau berkhianat?”
            “Hei, aku juga melihatmu jalan dengan wanita lain!” Ji Ni protes.
            “Aku melakukannya dengan alasan yang sama sepertimu.” Chunji merapikan poni Ji Ni.
            “Kapan aku tidak peduli padamu?” JI Ni mengerucutkan bibir. “Kau belum jawab pertanyaanku tadi! Kenapa kau bekerja?”
            “Kenapa kau tidak pernah memakai pita biru?” tanya Chunji, sukses membuat Ji Ni melongo parah.
            “Itu...” Ji Ni diam.
            “Jawab dulu itu, baru akan kujawab pertanyaanmu.” Kata Chunji.
            “Kau tidak bilang kau suka aku.” Aku Ji Ni.
            Chunji mengernyit. “Jinja-yo? Kurasa aku sudah bilang itu.”
            “Belum...dan aku terus menunggu. Jadi aku tidak bisa memakai pita biru itu. Aku takut sebenanya kau tidak suka padaku sedangkan aku sudah ke-pd-an dan memakai pita itu.” Ji Ni menghela napas.
            “Aku juga menunggu kau memakai pita itu. Kupikir kau tidak menganggapku sebagai pacarmu.” Aku Chunji.
            Mereka berdua tertawa.  Tiba-tiba Chunji berjongkok dihadapannya dan mengeluarkan sebuah kotak.
            “Sekarang aku yang akan mengatakannya. Jadi jawab yang jelas ya?”
            Ji Ni tersenyum.
            Saranghae Ji Ni-ya....maukah kau jadi yeojachinguku?” Chunji membuka kotak itu. Ada sebuah cincin yang diikat dengan pita berwarna biru, menjadi kalung.
            Na do saranghae...” balas Ji Ni.
            Chunji berdiri lagi. “Oke deh kalo begitu....pakai ini ya.” Chunji mengalungkannya ke Ji Ni. “ Cincin ini 100% hasil jerih payahku. Saat kau menembakku dulu, aku langsung memutuskan untuk membelikanmu sesuatu. Sesuatu yang kudapat atas kerja kerasku sendiri. Dan sekarang rasanya tidak sia-sia.”
            Ji Ni menitikkan air mata. “Aku jadi ingin Jeany ada di sini...”
            “Jangan. Nanti dia mengganggu.” Sahut Chunji. “Wah, cantik sekali.”
            Ji Ni meraba cincin itu. “Dia juga jadi kerepotan. Saat kita pacaran, ia terpaksa pacaran dengan Niel.”
            “Ah, soal yang satu itu...” Chunji duduk di samping Ji Ni. “Niel mungkin tidak pernah bilang, tapi sebenarnya ia menyukai Jeany sejak lama.”
            “HAH??” Ji Ni melongo parah.
            “Mungkin sekarang mereka juga sedang berduaan.” Chunji nyengir.
            “Aku tidak mengerti cara pikir laki-laki...” kata Ji Ni, Chunji tertawa mendengarnya lantas merangkul bahu Ji Ni erat.

@ Mobil Niel (?)
            Niel diam. Yang barusan itu cukup jelas. Jeany bilang ‘saranghae’. Ini bukan karena rambutnya yang terlalu panjang dan menutupi telinganya sampai membuatnya salah dengar kan?
            Jeany menangis makin keras. Niel bingung.
            “Jeany-ah...uljima....” lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulutnya. Mungkin benar ia cuma salah dengar.
            Saranghae...” kali ini Jeany mendongak menatap Niel. Matanya bengkak, dan air mata masih terus menglir. “Maaf aku baru bilang sekarang...”
            Niel tahu ia sudah melongo parah.
            “Tidak apa-apa kalau kau tidak menerima perasaanku. Aku hanya merasa harus mengatakannya, aku sudah tidak bisa menahannya.” Kata Jeany dengan suara serak.
            Niel masih diam. Teralu tekejut dengan pengakuan dadakan ini.
            “Sebaiknya aku pulang,” jeany berbalik, mencoba membuka pintu mobil masih sambil menangis.
            Niel menarik tangan Jeany dan memeluk Jeany erat-erat. Jeany diam. Sedikit berharap kalau Niel ingin mengucapkan sesuatu yang bisa membuatnya berhenti menangis.
            “Kau bisa dengar?” bisik Niel. “Kau bisa dengar suara jantungku?”
            Jeany diam, mendengarkan debaran jantung Niel. Cepat...terlalu cepat untuk orang yang hanya duduk saja.
            Na do saranghae Jeany-ah...” bisik Niel.
            Harapannya tidak terkabul, ucapan Niel malah membuatnya menangis makin kencang.
            Ya! Aku bilang aku suka padamu, kenapa malah menangis? Kau ini!” Niel berdecak kesal, tapi menolak melepaskan pelukannya. Ini pertama kalinya ia memeluk Jeany. Dan rasanya...sangat menyenangkan.
            “Aku...terlalu senang,” Jeany sesenggukan. “Aku sangat senang.” Ujarnya lagi.
            “Jadi, aku abaikan saja sms-mu itu ya?”
            Jeany mendorong Niel sampai melepas pelukannya.
            “SMS itu...aku menyesal mengirimkannya. Maaf...aku tidak bermaksud begitu. Ji Ni dan Chunji putus, dan aku merasa tidak seharusnya kita pacaran. Aku pikir kau pasti terbebani olehku.” Kata Jeany cepat.
            “Sekarang kau tahu itu tidak perlu.” Niel menarik Jeany merapat ke arahnya. “Sudah kubilang, aku ini berbeda.”
            “Kapan kau bilang itu?” Jeany mengernyit.
            Niel diam dan menghapus sisa-sisa air mata di pipi Jeany dengan tangannya. “Aku mengatakannya pada diriku sendiri. Seberapapun kerasnya kau menolakku, pada akhirnya kau akan kembali. Ya kan? Cintaku sulit ditolak. Lagipula, siapa yang bisa mencintaimu lebih daripada aku? Siapa yang bisa memberikanmu sesuatu lebih dari aku? Aku ini lebih hebat dari siapapun.”
            Jeany mengerucutkan bibir, kenapa ia bisa menyukai namja sombong seperti ini. Ah iya, itu karena bibirnya....kadang Jeany suka memperhatikannya, matanya juga. Tatapannya dingin tapi menyimpan kehangatan. Kata-katanya, mungkin ia tidak pintar merayu tapi ia tidak pernah bohong. Atau suaranya yang bisa menaikkan kecepatan detak jantungnya....ternyata ia menyukainya lebih dari yang ia duga. Menyadari itu, Jeany tersenyum sendiri.
            Wae...? kau sudah gila?” Niel mencubit pipinya.
            “Iya...aku sampai bisa mencintai orang sepertimu. Apa bukan gila namanya?” balas Jeany.
            “Aku sial sekali, dicintai orang gila....”
            “Oh, jadi begitu menurutmu?” Jeany pura-pura kesal.
            “Aku bercanda, jangan marah....ne, chagi?”  Niel menyibak poni Jeany yang menutupi dahinya.
            Chagi?” ulang Jeany dengan suara dibuat-buat.
            “Kau juga sudah harus mulai memanggilku oppa, coba, kau bisa tidak?” ujar Niel kalem
            “Siapa bilang aku mau?” Jeany berdecak. “Harapanmu telalu tinggi.”
            “Kenapa? Masih belum bisa?” Niel acuh dengan jawaban Jeany. “Yasudah, nanti juga kau sendiri yang akan memanggilku seperti itu. Kau sendiri yang ingin. Lihat saja.”
            “Kenapa PD sekali?” Jeany merasa Niel benar-benar  sombongers sejati.
            “Kan sudah kubilang, aku...”
            “Berbeda? Iya, kau sudah bilang.” Potong Jeany kalem.
            Hening lagi.
            “Jeany...” panggil Niel, Jeany mendongak, menatap Niel dengan matanya yang bengkak.
            “Kurasa akan jadi hambatan kalau aku tidak bilang sekarang.” kata Niel, membuat Jeany bingung. “Saranghae...”
            Jeany tersenyum, senyum yang sanggup membuat seluruh tubuh Niel menjadi hangat. “Na do saranghae.”
            Niel tersenyum, siap memeluk Jeany lagi.
            “Sekalipun kau suka kasar, egois, bossy, menyebalkan, dan pemaksa....” sambung Jeany dengan wajah tanpa dosa, sukses membuat Niel kesal.
            Ya!!! Kau mau mati?!” Niel memukul kepala Jeany.
            “Auw...!! kan benar kau kasar!!” Jeany balas memukul Niel.
            “Makanya, jangan menyebalkan!”
            “Coba lihat siapa yang bicara!” cibir Jeany.
            Niel mendesah, ini tidak akan ada habisnya kalau ia terus membalas kata-kata Jeany. Ia menatap yeojachingnya, dan untuk sedetik ia merasa lega. Sekarang ia bisa dengan bangga memamerkan hubungan mereka.
            “Hei? Kenapa peluk-peluk begini?” protes Jeany begitu Niel memeluknya erat-erat.
            Niel diam saja. Ia berjanji ini terakhir kalinya ia bersikap memaksa, selanjutnya, ia akan mencoba tidak egois atau menyebalkan, apapun yang membuat Jeany tidak suka. Tapi untuk sekarang, ia hanya ingin memeluk Jeany erat-erat. Memeluk yeojachingu-nya.
            “Hei...halo??? bisa lepaskan aku? Hei!” Jeany masih terus menggerutu. Niel tersenyum lantas mengeratkan lagi pelukannya.
            Saranghae Jeany-ah....
            Diluar mobil, salju mulai turun. Menyelimuti seluruh kota dengan warna putih.
            HAPPY NEW YEAR!!
Read More..