The DJ ::: 1st Kiss
Author : CherryMintAzzule
Cast :
·
Ahn Daniel
·
Han Jeany
Genre : Romance
Rating : T
Length : Oneshoot.
Jeany menatap Niel yang tampak
serius dengan Tablet-nya, bahkan sejak Jeany masuk ke dalam mobil, Niel sama
sekali tidak menegurnya. Niel hanya menatapnya sekilas lalu kembali sibuk
dengan Tablet-nya.
Jeany tahu, Niel memang sangat serius saat bekerja. Tapi, apa dia tidak
bisa mengucapkan sapaan singkat padanya? Menyebalkan sekali. Kesal diperlakukan
begitu, akhirnya Jeany memutuskan untuk membalas Niel dengan mendiamkannya
juga. Ia bersumpah tak akan mengacuhkannya. Jadi, Jeany mengeluarkan IPod-nya
dan mulai mendengarkan lagu.
“Jeany-ah.”
Jeany asik melihat ke luar jendela, hari ini sangat cerah dan ia tidak mau
merusak suasana hatinya hanya karena sikap Niel yang menyebalkan. Tapi yang ada
ia jadi teringat dengan kejadian musim dingin 2 tahun lalu saat ia dan Niel
akhirnya menyatakan perasaan masing-masing dan ‘benar-benar’ berpacaran. Saat
itu, ia sangat senang, amat sangat senang.
Sejak saat itu, Niel selalu ada saat ia butuh, Niel selalu di sisinya saat
ia ingin. Tapi Jeany sadar, Niel bukan suaminya dan tidak berkeharusan untuk
terus berada di sisinya. Jadi saat Niel harus sibuk dengan tugas kuliahnya atau
tugas kantor yang dilimpahkan oleh ayahnya, Jeany terpaksa merelakan Niel
pergi. Ia tidak mau disebut egois. Tapi setelah itu, Niel pasti akan
membayarnya dengan mengajaknya makan di luar atau jalan-jalan atau bahkan diam
di rumah seharian penuh. Dan bagi Jeany, ia tidak bisa lebih senang lagi dari
pada itu.
Seseorang mencopot headseat-nya, membuatnya kaget dan reflex menoleh.
Ternyata Niel sedang menatapnya dengan ‘evil sight’-nya. Bahkan setelah 2 tahun
pacaran, Niel masih juga kaku dan pemaksa. Dan ‘evil sight’ selalu ia gunakan
untuk mendapatkan keinginannya.
“Waeyo?” Jeany menarik kembali
headset-nya dengan kasar dari tangan Niel. Ia masih kesal dan sekarang saatnya
untuk membalas perlakuan Niel tadi.
Niel menghela napas, “Berhenti!” ia menarik headset dan IPod Jeany dan
melemparkannya ke sisi lain kursi mobil.
Jeany agak kaget, tapi setelah itu gelombang amarah menghantamnya.
“Kembalikan!” Jeany mencoba meraih IPod-nya tapi Niel menghalanginya.
Niel menangkap pergelangan tangan Jeany dan memaksanya untuk menatap Niel,
“Aku harus pergi.” Kata Niel.
Jeany sebenarnya sangat kaget dan penasaran dengan kelanjutan kata-kata
Niel, tapi ia mencoba untuk tidak peduli.
Tapi, ia gagal.
“Pergi? Seperti kunjungan kerja?” Niel mengangguk, langsung saja Jeany
merasa mual. “Tapi, kau baru saja pulang. Kau baru seminggu pulang, tapi sudah
mau pergi lagi?!” Jeany menatap Niel tidak percaya.
“Ada masalah di kantor cabang Macau. Ayah ingin aku ke sana.” Jelas Niel
dengan wajah datar.
“Apa tidak ada orang lain yang bisa melakukannya? Lagipula kau kan harus
kuliah!” Jeany menarik tangannya, ia tahu ia akan mulai menangis. Dan akhirnya
air matanya jatuh juga. Bukannya ia gadis yang cengeng, tapi ia benar-benar
kesal. Niel baru saja pulang setelah 2 minggu pergi ke Jeju, dan seminggu ini
mereka bahkan baru bertemu muka 2 kali. Dan lagi Niel sudah janji akhir pekan
ini mereka akan pergi main.
Niel memerintahkan Sopir untuk menepikan mobil. Niel bukannya tidak tahu
apa reaksi yang akan diberikan Jeany, ia mengerti sekali yeojachingu-nya itu. Jeany hanya akan memberikan 2 reaksi : marah
atau mendiamkannya. Tapi, menangis?
“Chagi-ya.... uljima,” Niel
menyelipkan beberapa helai rambut Jeany ke belakang telinga. Jeany sekuat
tenaga mengerem tangisnya, tapi air matanya tidak mau berhenti turun. Di awal
mereka pacaran, selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan, Niel
tidak pernah meninggalkannya begini sering. Ia mencoba untuk biasa, tapi ia tahu
ia tidak akan pernah terbiasa. Ia ingin Niel selalu ada di dekatnya, di tempat
ia bisa melihatnya, mendengar suaranya.
Niel menarik Jeany ke dalam pelukannya, dan Jeany tidak bisa menolak, atau
tepatnya, tidak mau menolak. Ia malah menangis makin keras.
Niel menepuk-nepuk punggung Jeany. Bukannya ia tidak sedih harus pergi
meninggalkan Jeany. Ia sangat sedih malah. Dan sekarang ditambah dengan Jeany
yang menangis, ia jadih tambah sedih dan mengutuk pabriknya yang bermasalah
itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa menjadi namjachingu paling kejam.
“Uljima Jeany-ah.....” dan ia
hanya bisa membujuk agar Jeany berhenti menangis. Namja macam apa dia ini? Yang bisa-bisanya membuat yeoja-nya menangis?
“Jeany....”
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berhari-hari di neraka bagi
Niel, Jeany mulai berhenti menangis meski masih sesenggukan sekali-kali. Dan
Niel tidak yakin ingin mengatakan hal yang tadinya akan dikatakannya. Tapi, itu
tidak mungkin.
“Kapan kau pergi?” tanya Jeany dengan suara serak. Niel mengeratkan
pelukannya, bentuk antisipasi dengan reksi Jeany nanti.
“Hari ini.”
Jeany mendorong dada Niel agar ia melepaskannya dan Niel terpaksa
melepaskannya.
“Masalahnya sangat mendesak, aku tidak punya pilihan lain.” Niel mencoba
menjelaskan dan sepertinya Jeany sudah kembali menjadi Jeany yang biasanya.
Tapi Niel bisa melihat Jeany sekuat tenaga menahan diri. Niel tersenyum tipis
dan memeluk Jeany lagi.
“Aku akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan segera pulang.”
Kata Niel sambil mencium puncak kepala Jeany. Niel menghirup aroma tubuh Jeany,
memenuhi tiap relung dadanya dengan aroma itu. Entah kapan ia bisa menghirupnya
lagi.
“Janji?” tanya Jeany. Niel nyaris tertawa, Jeany tidak pernah bertingkah
begini. Tapi tidak apa-apa. Ini membuatnya makin manis.
“Janji.” Niel melonggarkan pelukannya dan menunduk, lalu memerikan ciuman
singkat di atas pipi Jeany yang terasa lengket. Ia bisa merasakan asin di
bibirnya.
Lalu mobil pun mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
***
“Agassi, kenapa
anda cemberut?” goda Tn. Park, sopir pribadi Niel yang sekarang menjadi sopir
sementara Jeany yang mengantar-jemputnya sebagai ganti karena Niel tidak bisa
melakukannya sendiri.
“Ahjussi, aku
sedang benar-benar kesal.” Jeany melipat kedua tangannya di depan dada.
“Waeyo? Cerita
saja pada saya,” tawar Tn. Park. Tn. Park memang sangat baik pada Jeany,
seperti semua anggota keluarga dan staff di rumah Niel. Semuanya sangat
menyayangi calon nyonya besar Ahn ini.
“Tadi, ada orang yang menyebalkan sekali!” Jeany mulai
bercerita. “Waktu aku dan Ji Ni sedang makan di kantin, tiba-tiba saja ada bola
basket menghantam kepalaku. Ternyata itu ulah namja jelek, sombong, dan tidak tahu diri. Bukannya minta maaf, dia
malah tertawa. Menyebalkan sekali kan?” Jeany menghela napas kuat-kuat.
“Aigoo... anda
baik-baik saja Agassi?” Tn. Park
menatap Jeany khawatir lewat kaca spion depan.
“Gwenchana...”
sahut Jeany. “Aku tidak mau bertemu yang begitu lagi.” Tn. Park tertawa
mendengarnya.
Niel baru pergi 2 hari, tapi Jeany merasa sudah tidak
bertemu selama 2 bulan. Ia sangat merindukan Niel. Baik senyuman yang jarang
ditampakkan Niel, sampai ‘evil sight’-nya yang selalu mempan mendiamkannya. Hal
yang sangat menyenangkan soal sopir antar-jemput ini adalah, karena di mobil ini
Jeany bisa mencium aroma parfum Niel yang seakan lekat dengan mobil ini.
Membuatnya merasa tenang dan nyaman karena terselubungi aroma itu.
“Aku kangen Niel.” Gumam Jeany, tapi cukup jelas
terdengar.
“Saya tahu Agassi,
saya tahu.” Sahut Tn. Park.
***
Lewat tengah malam, Jeany masih duduk di depan
komputernya. Mungkin ini sudah kelewat larut, tapi ia masih segar dan semangat.
Kenapa? Karena ia akan chatting dengan Niel.
Alasan mereka chattingan selarut ini adalah karena Niel
harus meeting sampai pukul 10 malam dan baru
benar-benar bebas tugas setelah pukul 11 lewat. Tapi Jeany bisa terima
itu. Ia akhirnya bisa melihat wajah Niel setelah 2 hari hanya bisa melihat fotonya.
Tak berapa lama, akhirnya Niel on line juga. Dan
akhirnya... Jeany bisa melihat wajah namjachingu-nya
lagi. Kelihatan tenang dan dingin seperti biasanya dengan memakai polo shirt
warna pastel.
“Oppa...” Jeany
pikir ia akan menangis lagi saking bahagianya.
“Uljima...” kata
Niel di seberang sana.
“Ne...” Jeany
menyeka matanya dan tersenyum.
Niel balas tersenyum dan untuk beberapa saat mereka hanya
saling bertatapan sampai akhirnya Niel berbicara.
“Kata Tn. Park ada orang yang mengganggumu?” Tanya Niel
dengan nada otoriter. Bahkan dengan jarak yang terpisah sejauh ini, Jeany bisa
merasakan aura protektif-Niel.
“Rambutmu terlihat agak gelap, apa basah? Kau baru mandi?”
tanya Jeany.
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Tegur Niel.
“Ani, aku
serius! Mandi semalam ini, kau bisa sakit!” Jeany merasa sedikit tersinggung
dengan ucapan Niel barusan meski tidak semuanya salah. “Kau tahu? Sepanjang
hari aku terus memikirkanmu. Dengan jadwal rapat yang padat begitu, aku
berpikir apa kau bisa istirahat cukup dan makan dengan baik...”
Niel segera menyadari kesalahannya dan menatap Jeany lekat-lekat di layar
laptopnya. “Mianhae....uljima, ne,
chagi?” Jeany lagi-lagi menyeka matanya. Akhir-akhir ini ia jadi begitu
sensitif.
“Aku berada begini jauh darimu, dan tidak bisa menamin keselamatanmu
dengan tanganku sendiri.” Kata Niel. “Mendengar laporan Tn. Park membuatku
ingin segera terbang kesana dan menghajarnya. Tapi, aku tidak bisa, ya kan? Itu
sangat sulit.”
“Mianhae....” gumam Jeany. “Aku ini egois ya?”
“Iya.” Tukas Niel. Jeany mendelik.
“Kau ini...” Jeany menggembungkan pipinya.
“Tolong jangan lakukan itu.”
“Lakukan apa?” bingung Jeany.
“Itu, “ Niel menunjuk, “jangan pasang wajah seperti itu, karena aku tidak
bisa mencubitmu dari sini.”
Jeany tersenyum mencibir, “kau tahu, aku baik-baik saja. Karena aku tahu,
sejauh apapun kau berada, kau akan selalu ada untukku.” Kata Jeany. “Tapi aku
ingin kau segera pulang.”
Niel menatap Jeany tanpa ekspresi, tapi Jeany tahu, saat ini Niel sedang
berpikir keras. Memang seperti itu wajahnya jika sedang berpikir. Tapi, apa
sebenarnya yang ia pikirkan?
“Aku...” Niel menggantung kata-katanya, sepertinya ia tak ingin mengatakannya.
“Sepertinya tidak akan kembali dalam waktu dekat.”
Hati Jeany mencelos. Setiap kali Niel berkata ‘tidak akan kembali dalam
waktu dekat’ itu berarti ‘lama’ dan ‘lama’-nya itu tidak tentu. Terakhir kali
Niel bicara begitu, Jeany tidak bisa bertemu dengannya selama 2 bulan.
“Jeany-ah?”
Jeany mendongak, dan melihat Niel yang tampak ‘sedikit’ khawatir hingga
tidak terlihat sama sekali. Pandangannya buram oleh air mata dan Jeany
menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar tidak terisak.
“Aku.. tidak apa-apa.” Bisik Jeany. “ Kau bekerja saja dengan benar, tidak
usah pikirkan aku.”
Niel selalu kesal saat-saat seperti ini. Ketika Jeany menangis di
hadapannya dan tak ada yang bisa dilakukannya. Oh ya, dia lupa. Dia bisa
melakukan satu hal, yaitu segera menyelesaikan tugasnya di sini dan kembali ke
sisi Jeany secepatnya. Tapi bagaimana bisa, jika tiap kali menatap lembaran
kerja atau proposal, yang terbayang olehnya hanya wajah Jeany? Keadaannya juga
tidak lebih baik di sini. Ia sangat merindukan Jeany, dan nyaris gila padahal
mereka baru berpisah 2 hari.
Jeany menyentuh layar komputernya, menatap Niel dalam diam.
“Bogoshipeo.”
“Na do, Jeany-ah. Na do.”
***
Ji Ni sudah bosan melihat tingkah Jeany yang makin tidak karuan. Ia
seperti zombie. Tiap kali dosen menjelaskan, ia tidak pernah memperhatikan, dan
dia makan lebih sedikit sekarang. Padahal dia baru seminggu ditinggal Niel.
“Kau tidak mengerti apa yang kurasakan.”
Itu adalah kata-kata pembelaan paling jitu yang selalu dikatakan Jeany
tiap kali Ji Ni komentar soal kondisinya. Seperti yang dikatakannya kali ini,
saat mereka sedang makan siang.
“Aku tahu. Chunji memang tidak pernah meninggalkanku karena harus mengurus
perusahaan appa-nya. Tapi Jeany....
kau benar-benar kacau.” Ji Ni menatap temannya itu penuh simpati. Jeany hanya
mengaduk-aduk minuman di hadapannya tanpa niat. Ji Ni tidak habis pikir, Jeany
yang dulu cuek dan anti-Niel sekarang benar-benar dilibas rindu pada namjachingu-nya itu. Padahal dulu
boro-boro kangen, inget sama Niel aja nggak.
“Ini sudah seminggu. Dan Niel belum beri kabar lagi.” Desah Jeany sambil
bertopang dagu.
Tiba-tiba, Ji Ni mendapat ide bagus.
“Kau tahu? Kurasa yang kau butuhkan cuma satu.” Ji Ni tersenyum penuh
arti.
“Iya benar. Niel.” Balas Jeany. “Bisa kau bawa dia ke sini?”
Ji Ni mencibir, “Bukan itu. Tapi, pengalih perhatian.”
“Mwoya?”
Ji Ni menggeser duduknya agar lebih dekat, “iya, pengalih perhatian. Kau
tahu? Seperti mencari kesibukan lain agar kau berhenti memikirkan Niel.
Bagaimana?”
Jeany berdecak kesal. “Aku sudah mencoba mengalihkan perhatian dengan
serius memperhatikan kuliah matematik, tapi tetap saja pikiranku melantur.
Padahal Heo seonsangnim bisa
menelanku bulat-bulat kalau tahu!”
“Babo! Carinya yang seru dong!”
dasar kelewat teladan, tambah Ji Ni dalam hati.
“Arra...arra,” Jeany akhirnya
menyerah. Ia juga capek terus nelangsa begini. Mungkin ga ada salahnya dia
ikutin saran Ji Ni.
“Kita kerja part-time, otte?”
mata Ji Ni berbinar.
“Kau gila?! Jika Niel tahu, aku bisa digantung!” tukas Jeany langsung.
Niel, meski kelihatannya dingin, sebenarnya orangnya sangat protektif. Ia
melabas semua namja yang berani
mendekati Jeany (bukti nyata : Yeon Jae). Jika ada namja yang menegurnya saja, sudah pasti masuk black list. Pernah,
Jeany kerja part-time di sebuah restoran, dan begitu Niel tahu ia bekerja di
sana dan sering digoda oleh sesama pelayan, ia marah besar dan menghukum Jeany
dengan melarangnya pergi keluar selama sebulan (jangan tanya nasib namja-namja yang menggodanya). Kalau ia
mau pergi, harus bareng Niel atau diantar Tn. Park. Jeany gak keberatan sih,
tapi kasihan sama Niel karena nambahin kerjaan namja-nya itu. Padahal Niel kan sibuk sekali.
“Aisshhh... Niel tidak perlu
tahu! Lagipula kita kerjanya hanya sampai ia pulang saja. Ok?”
“Hm... ok deh. Tapi awas ya kalau gak berhasil!” ancam Jeany.
“Sipp!!”
-TBC-