Senin, 27 Agustus 2012

The DJ Series


The DJ ::: 1st Kiss
Author            : CherryMintAzzule
Cast                 :
·         Ahn Daniel
·         Han Jeany
Genre              : Romance
Rating              : T
Length             : Oneshoot.

            Jeany menatap Niel yang tampak serius dengan Tablet-nya, bahkan sejak Jeany masuk ke dalam mobil, Niel sama sekali tidak menegurnya. Niel hanya menatapnya sekilas lalu kembali sibuk dengan Tablet-nya.
Jeany tahu, Niel memang sangat serius saat bekerja. Tapi, apa dia tidak bisa mengucapkan sapaan singkat padanya? Menyebalkan sekali. Kesal diperlakukan begitu, akhirnya Jeany memutuskan untuk membalas Niel dengan mendiamkannya juga. Ia bersumpah tak akan mengacuhkannya. Jadi, Jeany mengeluarkan IPod-nya dan mulai mendengarkan lagu.
“Jeany-ah.”
Jeany asik melihat ke luar jendela, hari ini sangat cerah dan ia tidak mau merusak suasana hatinya hanya karena sikap Niel yang menyebalkan. Tapi yang ada ia jadi teringat dengan kejadian musim dingin 2 tahun lalu saat ia dan Niel akhirnya menyatakan perasaan masing-masing dan ‘benar-benar’ berpacaran. Saat itu, ia sangat senang, amat sangat senang.
Sejak saat itu, Niel selalu ada saat ia butuh, Niel selalu di sisinya saat ia ingin. Tapi Jeany sadar, Niel bukan suaminya dan tidak berkeharusan untuk terus berada di sisinya. Jadi saat Niel harus sibuk dengan tugas kuliahnya atau tugas kantor yang dilimpahkan oleh ayahnya, Jeany terpaksa merelakan Niel pergi. Ia tidak mau disebut egois. Tapi setelah itu, Niel pasti akan membayarnya dengan mengajaknya makan di luar atau jalan-jalan atau bahkan diam di rumah seharian penuh. Dan bagi Jeany, ia tidak bisa lebih senang lagi dari pada itu.
Seseorang mencopot headseat-nya, membuatnya kaget dan reflex menoleh. Ternyata Niel sedang menatapnya dengan ‘evil sight’-nya. Bahkan setelah 2 tahun pacaran, Niel masih juga kaku dan pemaksa. Dan ‘evil sight’ selalu ia gunakan untuk mendapatkan keinginannya.
Waeyo?” Jeany menarik kembali headset-nya dengan kasar dari tangan Niel. Ia masih kesal dan sekarang saatnya untuk membalas perlakuan Niel tadi.
Niel menghela napas, “Berhenti!” ia menarik headset dan IPod Jeany dan melemparkannya ke sisi lain kursi mobil.
Jeany agak kaget, tapi setelah itu gelombang amarah menghantamnya.
“Kembalikan!” Jeany mencoba meraih IPod-nya tapi Niel menghalanginya.
Niel menangkap pergelangan tangan Jeany dan memaksanya untuk menatap Niel, “Aku harus pergi.” Kata Niel.
Jeany sebenarnya sangat kaget dan penasaran dengan kelanjutan kata-kata Niel, tapi ia mencoba untuk tidak peduli.
Tapi, ia gagal.
“Pergi? Seperti kunjungan kerja?” Niel mengangguk, langsung saja Jeany merasa mual. “Tapi, kau baru saja pulang. Kau baru seminggu pulang, tapi sudah mau pergi lagi?!” Jeany menatap Niel tidak percaya.
“Ada masalah di kantor cabang Macau. Ayah ingin aku ke sana.” Jelas Niel dengan wajah datar.
“Apa tidak ada orang lain yang bisa melakukannya? Lagipula kau kan harus kuliah!” Jeany menarik tangannya, ia tahu ia akan mulai menangis. Dan akhirnya air matanya jatuh juga. Bukannya ia gadis yang cengeng, tapi ia benar-benar kesal. Niel baru saja pulang setelah 2 minggu pergi ke Jeju, dan seminggu ini mereka bahkan baru bertemu muka 2 kali. Dan lagi Niel sudah janji akhir pekan ini mereka akan pergi main.
Niel memerintahkan Sopir untuk menepikan mobil. Niel bukannya tidak tahu apa reaksi yang akan diberikan Jeany, ia mengerti sekali yeojachingu-nya itu. Jeany hanya akan memberikan 2 reaksi : marah atau mendiamkannya. Tapi, menangis?
Chagi-ya.... uljima,” Niel menyelipkan beberapa helai rambut Jeany ke belakang telinga. Jeany sekuat tenaga mengerem tangisnya, tapi air matanya tidak mau berhenti turun. Di awal mereka pacaran, selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan, Niel tidak pernah meninggalkannya begini sering. Ia mencoba untuk biasa, tapi ia tahu ia tidak akan pernah terbiasa. Ia ingin Niel selalu ada di dekatnya, di tempat ia bisa melihatnya, mendengar suaranya.
Niel menarik Jeany ke dalam pelukannya, dan Jeany tidak bisa menolak, atau tepatnya, tidak mau menolak. Ia malah menangis makin keras.
Niel menepuk-nepuk punggung Jeany. Bukannya ia tidak sedih harus pergi meninggalkan Jeany. Ia sangat sedih malah. Dan sekarang ditambah dengan Jeany yang menangis, ia jadih tambah sedih dan mengutuk pabriknya yang bermasalah itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa menjadi namjachingu paling kejam.
Uljima Jeany-ah.....” dan ia hanya bisa membujuk agar Jeany berhenti menangis. Namja macam apa dia ini? Yang bisa-bisanya membuat yeoja-nya menangis?
“Jeany....”
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berhari-hari di neraka bagi Niel, Jeany mulai berhenti menangis meski masih sesenggukan sekali-kali. Dan Niel tidak yakin ingin mengatakan hal yang tadinya akan dikatakannya. Tapi, itu tidak mungkin.
“Kapan kau pergi?” tanya Jeany dengan suara serak. Niel mengeratkan pelukannya, bentuk antisipasi dengan reksi Jeany nanti.
“Hari ini.”
Jeany mendorong dada Niel agar ia melepaskannya dan Niel terpaksa melepaskannya.
“Masalahnya sangat mendesak, aku tidak punya pilihan lain.” Niel mencoba menjelaskan dan sepertinya Jeany sudah kembali menjadi Jeany yang biasanya. Tapi Niel bisa melihat Jeany sekuat tenaga menahan diri. Niel tersenyum tipis dan memeluk Jeany lagi.
“Aku akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan segera pulang.” Kata Niel sambil mencium puncak kepala Jeany. Niel menghirup aroma tubuh Jeany, memenuhi tiap relung dadanya dengan aroma itu. Entah kapan ia bisa menghirupnya lagi.
“Janji?” tanya Jeany. Niel nyaris tertawa, Jeany tidak pernah bertingkah begini. Tapi tidak apa-apa. Ini membuatnya makin manis.
“Janji.” Niel melonggarkan pelukannya dan menunduk, lalu memerikan ciuman singkat di atas pipi Jeany yang terasa lengket. Ia bisa merasakan asin di bibirnya.
Lalu mobil pun mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
***
Agassi, kenapa anda cemberut?” goda Tn. Park, sopir pribadi Niel yang sekarang menjadi sopir sementara Jeany yang mengantar-jemputnya sebagai ganti karena Niel tidak bisa melakukannya sendiri.
Ahjussi, aku sedang benar-benar kesal.” Jeany melipat kedua tangannya di depan dada.
Waeyo? Cerita saja pada saya,” tawar Tn. Park. Tn. Park memang sangat baik pada Jeany, seperti semua anggota keluarga dan staff di rumah Niel. Semuanya sangat menyayangi calon nyonya besar Ahn ini.
“Tadi, ada orang yang menyebalkan sekali!” Jeany mulai bercerita. “Waktu aku dan Ji Ni sedang makan di kantin, tiba-tiba saja ada bola basket menghantam kepalaku. Ternyata itu ulah namja jelek, sombong, dan tidak tahu diri. Bukannya minta maaf, dia malah tertawa. Menyebalkan sekali kan?” Jeany menghela napas kuat-kuat.
Aigoo... anda baik-baik saja Agassi?” Tn. Park menatap Jeany khawatir lewat kaca spion depan.
Gwenchana...” sahut Jeany. “Aku tidak mau bertemu yang begitu lagi.” Tn. Park tertawa mendengarnya.
Niel baru pergi 2 hari, tapi Jeany merasa sudah tidak bertemu selama 2 bulan. Ia sangat merindukan Niel. Baik senyuman yang jarang ditampakkan Niel, sampai ‘evil sight’-nya yang selalu mempan mendiamkannya. Hal yang sangat menyenangkan soal sopir antar-jemput ini adalah, karena di mobil ini Jeany bisa mencium aroma parfum Niel yang seakan lekat dengan mobil ini. Membuatnya merasa tenang dan nyaman karena terselubungi aroma itu.
“Aku kangen Niel.” Gumam Jeany, tapi cukup jelas terdengar.
“Saya tahu Agassi, saya tahu.” Sahut Tn. Park.
***
Lewat tengah malam, Jeany masih duduk di depan komputernya. Mungkin ini sudah kelewat larut, tapi ia masih segar dan semangat. Kenapa? Karena ia akan chatting dengan Niel.
Alasan mereka chattingan selarut ini adalah karena Niel harus meeting sampai pukul 10 malam dan baru  benar-benar bebas tugas setelah pukul 11 lewat. Tapi Jeany bisa terima itu. Ia akhirnya bisa melihat wajah Niel setelah 2 hari hanya bisa melihat fotonya.
Tak berapa lama, akhirnya Niel on line juga. Dan akhirnya... Jeany bisa melihat wajah namjachingu-nya lagi. Kelihatan tenang dan dingin seperti biasanya dengan memakai polo shirt warna pastel.
Oppa...” Jeany pikir ia akan menangis lagi saking bahagianya.
Uljima...” kata Niel di seberang sana.
Ne...” Jeany menyeka matanya dan tersenyum.
Niel balas tersenyum dan untuk beberapa saat mereka hanya saling bertatapan sampai akhirnya Niel berbicara.
“Kata Tn. Park ada orang yang mengganggumu?” Tanya Niel dengan nada otoriter. Bahkan dengan jarak yang terpisah sejauh ini, Jeany bisa merasakan aura protektif-Niel.
“Rambutmu terlihat agak gelap, apa basah? Kau baru mandi?” tanya Jeany.
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Tegur Niel.
Ani, aku serius! Mandi semalam ini, kau bisa sakit!” Jeany merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Niel barusan meski tidak semuanya salah. “Kau tahu? Sepanjang hari aku terus memikirkanmu. Dengan jadwal rapat yang padat begitu, aku berpikir apa kau bisa istirahat cukup dan makan dengan baik...”
Niel segera menyadari kesalahannya dan menatap Jeany lekat-lekat di layar laptopnya. “Mianhae....uljima, ne, chagi?” Jeany lagi-lagi menyeka matanya. Akhir-akhir ini ia jadi begitu sensitif.
“Aku berada begini jauh darimu, dan tidak bisa menamin keselamatanmu dengan tanganku sendiri.” Kata Niel. “Mendengar laporan Tn. Park membuatku ingin segera terbang kesana dan menghajarnya. Tapi, aku tidak bisa, ya kan? Itu sangat sulit.”
Mianhae....” gumam  Jeany. “Aku ini egois ya?”
“Iya.” Tukas Niel. Jeany mendelik.
“Kau ini...” Jeany menggembungkan pipinya.
“Tolong jangan lakukan itu.”
“Lakukan apa?” bingung Jeany.
“Itu, “ Niel menunjuk, “jangan pasang wajah seperti itu, karena aku tidak bisa mencubitmu dari sini.”
Jeany tersenyum mencibir, “kau tahu, aku baik-baik saja. Karena aku tahu, sejauh apapun kau berada, kau akan selalu ada untukku.” Kata Jeany. “Tapi aku ingin kau segera pulang.”
Niel menatap Jeany tanpa ekspresi, tapi Jeany tahu, saat ini Niel sedang berpikir keras. Memang seperti itu wajahnya jika sedang berpikir. Tapi, apa sebenarnya yang ia pikirkan?
“Aku...” Niel menggantung kata-katanya, sepertinya ia tak ingin mengatakannya. “Sepertinya tidak akan kembali dalam waktu dekat.”
Hati Jeany mencelos. Setiap kali Niel berkata ‘tidak akan kembali dalam waktu dekat’ itu berarti ‘lama’ dan ‘lama’-nya itu tidak tentu. Terakhir kali Niel bicara begitu, Jeany tidak bisa bertemu dengannya selama 2 bulan.
“Jeany-ah?”
Jeany mendongak, dan melihat Niel yang tampak ‘sedikit’ khawatir hingga tidak terlihat sama sekali. Pandangannya buram oleh air mata dan Jeany menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar tidak terisak.
“Aku.. tidak apa-apa.” Bisik Jeany. “ Kau bekerja saja dengan benar, tidak usah pikirkan aku.”
Niel selalu kesal saat-saat seperti ini. Ketika Jeany menangis di hadapannya dan tak ada yang bisa dilakukannya. Oh ya, dia lupa. Dia bisa melakukan satu hal, yaitu segera menyelesaikan tugasnya di sini dan kembali ke sisi Jeany secepatnya. Tapi bagaimana bisa, jika tiap kali menatap lembaran kerja atau proposal, yang terbayang olehnya hanya wajah Jeany? Keadaannya juga tidak lebih baik di sini. Ia sangat merindukan Jeany, dan nyaris gila padahal mereka baru berpisah 2 hari.
Jeany menyentuh layar komputernya, menatap Niel dalam diam.
Bogoshipeo.”
“Na do, Jeany-ah. Na do.”
***
Ji Ni sudah bosan melihat tingkah Jeany yang makin tidak karuan. Ia seperti zombie. Tiap kali dosen menjelaskan, ia tidak pernah memperhatikan, dan dia makan lebih sedikit sekarang. Padahal dia baru seminggu ditinggal Niel.
“Kau tidak mengerti apa yang kurasakan.”
Itu adalah kata-kata pembelaan paling jitu yang selalu dikatakan Jeany tiap kali Ji Ni komentar soal kondisinya. Seperti yang dikatakannya kali ini, saat mereka sedang makan siang.
“Aku tahu. Chunji memang tidak pernah meninggalkanku karena harus mengurus perusahaan appa-nya. Tapi Jeany.... kau benar-benar kacau.” Ji Ni menatap temannya itu penuh simpati. Jeany hanya mengaduk-aduk minuman di hadapannya tanpa niat. Ji Ni tidak habis pikir, Jeany yang dulu cuek dan anti-Niel sekarang benar-benar dilibas rindu pada namjachingu-nya itu. Padahal dulu boro-boro kangen, inget sama Niel aja nggak.
“Ini sudah seminggu. Dan Niel belum beri kabar lagi.” Desah Jeany sambil bertopang dagu.
Tiba-tiba, Ji Ni mendapat ide bagus.
“Kau tahu? Kurasa yang kau butuhkan cuma satu.” Ji Ni tersenyum penuh arti.
“Iya benar. Niel.” Balas Jeany. “Bisa kau bawa dia ke sini?”
Ji Ni mencibir, “Bukan itu. Tapi, pengalih perhatian.”
Mwoya?”
Ji Ni menggeser duduknya agar lebih dekat, “iya, pengalih perhatian. Kau tahu? Seperti mencari kesibukan lain agar kau berhenti memikirkan Niel. Bagaimana?”
Jeany berdecak kesal. “Aku sudah mencoba mengalihkan perhatian dengan serius memperhatikan kuliah matematik, tapi tetap saja pikiranku melantur. Padahal Heo seonsangnim bisa menelanku bulat-bulat kalau tahu!”
Babo! Carinya yang seru dong!” dasar kelewat teladan, tambah Ji Ni dalam hati.
Arra...arra,” Jeany akhirnya menyerah. Ia juga capek terus nelangsa begini. Mungkin ga ada salahnya dia ikutin saran Ji Ni.
“Kita kerja part-time, otte?” mata Ji Ni berbinar.
“Kau gila?! Jika Niel tahu, aku bisa digantung!” tukas Jeany langsung.
Niel, meski kelihatannya dingin, sebenarnya orangnya sangat protektif. Ia melabas semua namja yang berani mendekati Jeany (bukti nyata : Yeon Jae). Jika ada namja yang menegurnya saja, sudah pasti masuk black list. Pernah, Jeany kerja part-time di sebuah restoran, dan begitu Niel tahu ia bekerja di sana dan sering digoda oleh sesama pelayan, ia marah besar dan menghukum Jeany dengan melarangnya pergi keluar selama sebulan (jangan tanya nasib namja-namja yang menggodanya). Kalau ia mau pergi, harus bareng Niel atau diantar Tn. Park. Jeany gak keberatan sih, tapi kasihan sama Niel karena nambahin kerjaan namja-nya itu. Padahal Niel kan sibuk sekali.
Aisshhh... Niel tidak perlu tahu! Lagipula kita kerjanya hanya sampai ia pulang saja. Ok?”
“Hm... ok deh. Tapi awas ya kalau gak berhasil!” ancam Jeany.
“Sipp!!”

-TBC-
Read More..

Destiny - Part one


Destiny
Author            : CherryMintAzzule.
Cast                 :
·         Sophia Amanda
·         C.A.P a.k.a Bang Min Soo
·         L.Joe a.k.a Lee Byung Hun
Genre              : Romance.
Rating             : T.
Length                        : Oneshoot.

:: Sophia’s POV ::
            Namaku Sophia Amanda. Alasanku berada di Korea adalah untuk menemukan jati diriku. Terdengar sedikit alay ya? Dan dengan tekad ’45 khas pejuang Indonesia aku nekat berangkat ke Seoul. Now...i’m here!
            “Hello...my name is Sophia Amanda, but you can call me Sophia. I’m an exchange student from Jakarta and i’ll be your classmate for next 6 months. Nice to meet you!” aku memperkenalkan diri di depan kelas dengan bahasa inggris. Jujur, hanya dengan modal tekad tidak akan bisa membuatku tiba-tiba lancar bicara bahasa Korea dalam waktu 7 jam Jakarta-Seoul.
            Mereka semua membalasku dengan antusias. Beberapa yang lain bahkan bersiul nakal, juga diikuti gemuruh tepuk tangan.
            “Ok...it’s enough. Now, Sophia, you can sit over there...” kata guru bahasa inggris sekaligus wali kelasku sambil menunjuk meja di samping jendela.
            Kelas pun dimulai. Semoga saja semua berjalan lancar...Tuhan, bantulah aku!!
            Yooshhh....!! Semangat Sophia!!

:: Author’s POV ::
            Gadis itu berjalan menyusuri lorong. Sesekali ia menarik rok seragamnya yang ia rasa terlalu pendek dan merapatkan blazernya. Rambutnya yang hitam ikal hanya dihiasi jepit rambut untuk menahan poninya dan dengan wajahnya yang semi-chinese tidak akan ada yang menduga kalau ia adalah orang Indonesia.
            Ia masuk ke dalam perpustakaan dan memilih meja di dekat jendela kemudian ia mulai menekuni bukunya. Ada banyak yang harus ia pelajari, terutama bahasa Korea.
            “Iya Sophia, ayahmu masih hidup.” Ucap ibunya datar.
            “Kenapa? Kenapa mama tidak pernah cerita? Dimana dia sekarang?” desak Sophia.
            “Tidak akan ada yang berubah sekalipun kau menemuinya.”
            “Ma...dia ayahku!” rintih Sophia. “Ayah yang ingin kutemui sejak dulu, Ayah yang kupikir sudah mati!”
            “Dia memang sudah mati!” bentak ibunya lantas pergi meninggalkannya menangis sendirian.
            Sophia tersadar dari lamunannya lantas melepas kalung yang ada di lehernya. Menatapnya dalam siraman cahaya matahari sore.
            Kalung pemberian ayahnya ini tidak akan pernah sampai di tangannya kalau saja ia tidak iseng menggerataki lemari ibunya. Ia juga jadi tahu siapa nama ayahnya. Lee Shin. Jadi itulah alasan kenapa wajahnya terlalu chinese. Selain nama, ia tidak tahu apa-apa lagi tentang ayahnya selain kalau ayahnya tinggal di Seoul. Wajahnya apalagi.
            Petugas perpus menepuk bahunya pelan, ternyata sudah waktunya tutup. Sophia segera merapikan bukunya, tapi sial, kalungnya terlempar ke luar jendela.
            “Mati dah gue....!!” Sophia langsung berlari meninggalkan Perpus dan petugasnya yang keheranan.

:: C.A.P POV ::
            Aku menyeka darah di sudut bibir. Ternyata si manja boleh juga, ia lebih kuat dari yang kuduga rupanya.
            “Hei, apa ini cukup? Apa kau sekarang bisa menerimaku?” tanyanya. Ia tak kalah berantakan dariku. Kancing bajunya ada yang copot, bajunya robek dan kotor, wajahnya membiru dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
            Ani...” ujarku. “Tapi kurasa ada sedikit harapan.”
            Ia cemberut dan mengerucutkan bibirnya, persis seperti sorang yeoja yang sedang merajuk, “Hyung...apa ini terlalu sulit untukmu? Awalnya aku juga tidak suka, tapi bukannya ini sudah takdir?”
            “Takdir?”
            Jadi aku menderita selama ini karena takdir? Kehilangan keluargaku juga takdir? Dan sekarang tiba-tiba menjadi anak tiri orang kaya itu juga takdir? Memilikimu sebagai adik tiri juga takdir??
            “Iya...semua orang yang Hyung temui, hal yang hyung alami setiap hari....semuanya itu takdir.” Ia bersikeras, “jadi terima saja kalau sekarang kita adalah keluarga.”
            Aku bangkit dan mengambil tas yang tadi kulempar ke dekat semak. Loh? Apa ini?
            Hyung...nanti kita bilang apa pada umma dan appa? Kita lebam-lebam begini.” Ia ikut bangkit dan menepis debu dari seragamnya.
            Tiba-tiba seorang yeoja muncul sepertinya sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang aku yakin adalah benda yang sedang kugenggam. Tapi begitu melihat kami, ia langsung mematung dan perlahan membalik badan.
            Ya! Kemari kau!” teriakku. Yeoja itu terlonjak kaget, wajahnya memerah. Aku jadi ingin tertawa melihatnya. Perlahan dengan langkah ragu ia mendekat ke arah kami.
            Ireumi mwoyeyo?” selidikku. Bahaya kalau gosip tentang kami berkelahi tersebar luas. Lagipula dengan penampilan begini, siapa yang tidak akan menduga kami baru saja mencoba saling bunuh?
            “Sophia Amanda...” jawabnya gugup.
            Hah? Nama macam apa itu? Ah, sudahlah.
            “Kuperingatkan kau, kalau aku mendengar ada gosip tentang ini, neo jugeo!” desisku penuh penekanan. Yeoja itu mengangguk cepat lantas berbalik dan berlari.

:: Sophia’s POV ::
            O  M  G  !!!!!!!
            Ini baru hari pertama dan aku sudah harus ketemu sama yang begituan??? Untuuuung aja tadi gak diapa-apain!!! Selamet!! Selameeettt!!!
            Aduh....halte jauh amat sih, mana udah gelap lagi....hiks, nasib jelek amat sih. Bagaimana kalau aku sampe...
            “Hai...sweetie, eodiga?”
            MAMPUS DAH GUE!
            LARI SOPHIA!!!!
            Ya!!!”
            HUWAAANNGG.....SESEORANG TOLONG AKU!!!!
            “Cepat naik.”
            Seorang pengendara motor berhenti tepat di sampingku, oow, ternyata cowok berdarah-darah yang tadi. Eh, tadi dia ngomong apa?
            Ya! Noona, kenapa kau lari?” teriak para preman itu, aku takut....
            Ia mengulurkan helm, “Cepat naik.”
            Ahhh....!! yang penting cari aman dulu!
            Aku menyambar helm itu, memakainya, lantas melompat ke atas motor dan cowok itu langsung tancap gas membuatku tersentak dan refleks memeluk pinggangnya.
***
            Kata temanku, cowok Korea itu romantis dan manis. Tapi ternyata itu hanya simpulan dari efek samping nonton drama Korea. Contohnya? Ya cowok ini!! Dengan santainya ia makan (Super rakus kalau ada yang mau tanya pendapatku) sedangkan seisi restoran menatapnya curiga sambil berbisik-bisik. Gimana enggak? Wajah lebam, seragam robek trus banyak noda darahnya lagi. Sangar banget, udah mirip preman Tanah Abang aja ni cowok! Amit-amit punya cowok kayak gini!
            “Kau gak pesan makanan?” katanya dengan mulut penuh.
            Ini dia NGOMONG APA??? Gak jelas banget sih, tadi aja pas dia bentak-bentak masih ga tau artinya apa.
            “Sorry?” mending jawab aja deh, daripada diem, ntar digampar lagi!
            Meokgeo.”
            Nah, ini aku tahu. Pendek. Jelas. Meokgeo = Makan ^^v, yeeii aku tahu!
            “No, thank’s.” Aku menggelengkan kepala. Jujur, pernah aku sekali nyoba masakan Korea dan buat aku, rasanya ANEH banget. Mending kelaperan deh daripada muntah-muntah.
            Yah...ni cowok, makannya tambah rakus.
            Setelah ngabisin 5 piring makanan yang aku gak mau tahu apa, ia berjalan ke luar  restoran.
            “Dimana rumahmu? Biar kuantar.” Katanya sambil naik ke atas motor dan mengulurkan helm.
            Sekali lagi, DIA NGOMONG APA SIH?
            Jip.”
            Jip = rumah....ya kan?
            Oh...mau nganterin pulang toh....eh, ni cowok sehat gak ya? Ntar yang ada nyawaku melayang lagi. Tapi, tadi kan dia udah nolongin. Hmmm....aman kali ya? Iya kali deh! Jam segini rawan banget kalo pulang sendiri. Lagipula, kalau dari sini aku gak tahu harus naik bis yang mana.
            Oke deh, anggep aja pengiritan biaya ongkos. Hahahai!

:: Author’s POV ::
            Namanya Sophia Amanda, exchange student dari Indonesia. Dia gak bisa bicara dalam bahasa Korea tapi dia bisa mengerti jika kita ngomongnya pelan-pelan.” Lapor L.Joe (nama keren pemberian C.A.P karena dia gak sudi manggil nama aslinya) pada C.A.P.
            “Hanya itu?”
            L.Joe menggembungkan pipinya, “Wae? Hyung gak berharap aku tanya nomer sepatu atau branya kan?”
            Ani...”
            Hyung?”
            Hmmnh?”
            “Kemarin Hyung mengantarnya pulang ya? Dia bilang terima kasih.”
            O...” C.A.P mengingat kembali malam itu.
            “Thank’s” ucapnya saat menyerahkan kembali helm-nya, “for helping  me.”
            Saat itu C.A.P sedikit menyesal karena selalu bolos tiap pelajaran bahasa inggris. Malam itu, mereka hanya bicara sedikit. Sophia tidak  mengerti ucapannya dan sebaliknya.
            Hyung suka yeoja itu ya?” tanya L.Joe polos.
            “Siapa juga?!” salak C.A.P.
            “Oh, yasudah...buatku saja deh, boleh? Tapi dia cantik sekali loh, hyung gak nyesel? Dia juga sopan. Kalau hyung mau, aku bisa jadi penerjemah pribadi hyung.” Goda L.Joe. ia memang pintar dan paham dengan bahasa Inggris. Oleh karena itulah ia ditunjuk sebagai murid pendamping bagi exchange student yang datang.
            “Cih, diam kau!” C.A.P melemparnya dengan bantal sofa. Entah kenapa ia kesal sekali mendengarnya.
            Hya! Hyung! Appoyo!” L.Joe mengelus kepalanya lantas pergi sambil ngedumel sendiri.
            Tinggalah C.A.P sendiri.
            Sebenarnya C.A.P merasa ada yang aneh dengan yeoja itu. Entah apa. Tapi auranya membuat C.A.P ingin selalu ada di sisinya untuk menjaganya seperti yang ia lakukan malam itu. Jujur, kemarin suasana hatinya sedang buruk, bahkan berkelahi dengan L.Joe saja tidak membuatnya lebih baik. Tapi saat melihat mata yeoja itu atau saat tangan kecil itu melingkari pinggangnya ia merasa sangat nyaman. Perasaannya langsung berubah tenang. Perasaan yang aneh... apakah cinta?

:: C.A.P’s POV ::
            Bolos lagi...
            Hm..kira-kira anak itu sedang apa ya? Hei, kenapa aku senyum-senyum sendiri begini? Aisshh...babo!Michilgeotgatha!!
            Aku bahkan sampai membayangkannya sedang bermain di semak di bawah pohon tempatku bersembunyi.
            HEI! Ini bukan imajinasiku! Itu benar-benar Sophia! Kenapa dia di sini?
            Nan mwo hae?”
            Ia mendongak dan matanya membulat. Aish...ekspresi macam apa itu? Memangnya aku ini hantu?
            Aku melompat turun dari dahan pohon. Dan dilihat dari dekat, ia tampak lebih cantik. Hei, hei, hei.... berhenti memikirkan itu!
            Nan mwo hae?” tanyaku lagi.
            “No..thing. Ehm, i think i should go...” ia tampak gugup lantas berbalik dan berjalan perlahan meninggalkanku, lalu berlari.
            Aku semenakutkan itukah baginya? Padahal aku sudah senang tadi. Cih, menyebalkan.

:: Sophia’s POV ::
            Yah, gak jadi nyari kalungnya deh. Kenapa tuh orang di situ sih? Pasti bolos ya...
            Sebenarnya kalau aku tidak ingat kata-kata teman perempuan sekelasku tentangnya mungkin aku sudah memaksanya membantuku mencari kalungku.
            ‘Dia itu preman sekolah. Yang berani menentang omongannya langsung dikubur! Guru-guru juga tidak ada yang berani menentangnya.’
            Wah, sehebat itukah dia?
            Tapi, aku merasa dia sebenarnya orang yang baik.
            Nah, sekarang aku harus bilang apa pada guru? Menghilang lebih dari 15 menit?? Ayo Sophia, pikirkan alasannya!!

:: Author’s POV ::
            Lagi-lagi hal sama terulang. Keesokan harinya C.A.P yang sedang melakukan rutinitasnya dikejutkan oleh kemunculan Sophia. Kali ini yeoja itu hanya melambai sekilas sebelum akhirnya berlari secepat-cepatnya. Dan selama seminggu itu hal yang sama terus terjadi.
            C.A.P yakin, Sophia pasti mencari kalungnya. Hm, apa dia kembalikan saja?
            Sunbae...” panggil seseorang. C.A.P menunduk. Eh, SOPHIA?
            BRUUKKK....
            “Yaampun!” Sophia menghindari tubuh C.A.P yang jatuh tiba-tiba. “Are you okay?”
            Sambil memasang sikap cool-nya, C.A.P bangkit dan menatap Sophia dengan tatapan penuh intimidasi. Tapi sepertinya kurang berhasil.
            Mwoya?” tanyanya.
            “Ehm...that day, when you’re here with Lee sunbae... did you see my necklake?” tanya Sophia pada C.A.P sambil menunjuk lehernya dan memeragakan kalung dengan jarinya.
            C.A.P diam, sambil meremas sesuatu di kantong celananya. Apa, yang harus dilakukannya sekarang? mengembalikannya atau...
            Aniyo...”
            Wajah Sophia langsung berubah mendung. Setelah menggumamkan terima kasih yeoja itu berbalik dan pergi.
            Mianhae.... aku pasti akan mengembalikannya. Tapi tidak sekarang.

:: C.A.P’s POV ::
            Hei, itukan Sophia dan.... si bocah manja?
            Aisshh....anak itu melambai kemari. Hei, dia berani menggodaku! Awas kau ya LEE BYUNG HUN!! Neo jugeo!!
            BIP
            ‘aku mau mengajaknya jalan-jalan. Dia sedang sedih sepertinya. Tidak papa kan hyung? Tenang saja, aku akan menjaganya. Dah...!!’
            Ijja shigi!!!
           
:: Sophia’s POV ::
            “Jadi kau sedih karena kalungmu hilang?” tanya Lee sunbae padaku dalam bahasa inggris yang fasih.
            “Iya...”
            “Apa sangat penting untukmu? Pemberian seseorang ya? Apa pacarmu?” ia menyeringai jail.
            “Bukan begitu sunbae..., ah, bagaimana ya menjelaskannya?” aku bingung sendiri. Apa aku cerita saja ya? Mungkin dia bisa bantu.
            Akhirnya aku cerita juga tentang betapa berartinya kalung itu dan tujuanku datang kemari.
            “Kau...sungguh berani. Pasti ini sulit kan?” tanyanya penuh simpati begitu aku selesai cerita. “Nama ayahmu Lee Shin? Tapi, ada ratusan Lee Shin di sini. Apa kau tidak punya petunjuk lain?”
            Aku menggeleng, “tadinya ada kalung itu, tapi sekarang hilang.”
            “Oke, kalau gitu sekarang kita ke perpustakaan kota.” Lee sunbae bangkit.
            “Mau apa?” tanyaku, tapi ia keburu menarikku pergi.

:: Author’s POV ::
            Selama 4 bulan, dengan diselingi kegiatan belajar dan les bahasa Korea, L.Joe dan Sophia sibuk mencari informasi mengenai ayah Sophia. Mereka akan mendatangi kantor catatan sipil atau apapun untuk mengumpulkan informasi. Tapi hasilnya masih buram. Kalau sudah stress begini biasanya mereka menghibur diri dengan bermain ke tempat-tempat menarik atau sekedar nonton film. Kegiatan ini membuat keduanya makin dekat.
            C.A.P yang tahu mengenai pencarian kalung itu hanya bisa diam. Memang terkadang ia ingin mengembalikannya tapi, apa yang harus diucapkannya? Saat itu ia bilang tidak tahu... dan lagi, kedekatan kedua makhluk itu entah mengapa membuatnya kesal sendiri.
            Tiap hari, L.Joe pasti akan mengoceh tentang apa yang terjadi dengannya dan Sophia. Nyaris C.A.P menonjok wajahnya. Tapi sepertinya L.Joe sendiri tidak sadar dengan perasaan kakak tirinya. Seperti pagi ini.
            Hyung, kemarin saat kami pulang dari taman kota hampir saja kami tertabrak mobil. Untung saja selamat, tapi sepertinya kaki Sophia terkilir. Aku tahu itu, sekalipun dia tidak bilang.” Cerita L.Joe sambil mengunyah sarapannya.
            C.A.P diam saja. Padahal ia sebenarnya khawatir. Ia pernah mengantar Sophia pulang jadi ia tahu kalau jaraknya cukup jauh ke sekolah. Ingin rasanya ia langsung pergi ke rumahnya sekarang juga.
            Hyung?”
            “Hyung!!!”
            “Mwoya?!” bentak C.A.P.
            “Jangan melamun terus, nanti makanannya keburu dingin.” Ujar L.Joe kalem seakan tidak mendengar bentakan kakaknya tadi.
            Saat C.A.P hendak ke garasi untuk mengeluarkan motornya, tiba-tiba saja L.Joe menahannya. Wajahnya serius.
            Hyung, mianhae. Sepertinya aku benar-benar telah jatuh cinta pada Sophia.”
            Hening.
Read More..