Senin, 27 Agustus 2012

The DJ Series


The DJ ::: 1st Kiss
Author            : CherryMintAzzule
Cast                 :
·         Ahn Daniel
·         Han Jeany
Genre              : Romance
Rating              : T
Length             : Oneshoot.

            Jeany menatap Niel yang tampak serius dengan Tablet-nya, bahkan sejak Jeany masuk ke dalam mobil, Niel sama sekali tidak menegurnya. Niel hanya menatapnya sekilas lalu kembali sibuk dengan Tablet-nya.
Jeany tahu, Niel memang sangat serius saat bekerja. Tapi, apa dia tidak bisa mengucapkan sapaan singkat padanya? Menyebalkan sekali. Kesal diperlakukan begitu, akhirnya Jeany memutuskan untuk membalas Niel dengan mendiamkannya juga. Ia bersumpah tak akan mengacuhkannya. Jadi, Jeany mengeluarkan IPod-nya dan mulai mendengarkan lagu.
“Jeany-ah.”
Jeany asik melihat ke luar jendela, hari ini sangat cerah dan ia tidak mau merusak suasana hatinya hanya karena sikap Niel yang menyebalkan. Tapi yang ada ia jadi teringat dengan kejadian musim dingin 2 tahun lalu saat ia dan Niel akhirnya menyatakan perasaan masing-masing dan ‘benar-benar’ berpacaran. Saat itu, ia sangat senang, amat sangat senang.
Sejak saat itu, Niel selalu ada saat ia butuh, Niel selalu di sisinya saat ia ingin. Tapi Jeany sadar, Niel bukan suaminya dan tidak berkeharusan untuk terus berada di sisinya. Jadi saat Niel harus sibuk dengan tugas kuliahnya atau tugas kantor yang dilimpahkan oleh ayahnya, Jeany terpaksa merelakan Niel pergi. Ia tidak mau disebut egois. Tapi setelah itu, Niel pasti akan membayarnya dengan mengajaknya makan di luar atau jalan-jalan atau bahkan diam di rumah seharian penuh. Dan bagi Jeany, ia tidak bisa lebih senang lagi dari pada itu.
Seseorang mencopot headseat-nya, membuatnya kaget dan reflex menoleh. Ternyata Niel sedang menatapnya dengan ‘evil sight’-nya. Bahkan setelah 2 tahun pacaran, Niel masih juga kaku dan pemaksa. Dan ‘evil sight’ selalu ia gunakan untuk mendapatkan keinginannya.
Waeyo?” Jeany menarik kembali headset-nya dengan kasar dari tangan Niel. Ia masih kesal dan sekarang saatnya untuk membalas perlakuan Niel tadi.
Niel menghela napas, “Berhenti!” ia menarik headset dan IPod Jeany dan melemparkannya ke sisi lain kursi mobil.
Jeany agak kaget, tapi setelah itu gelombang amarah menghantamnya.
“Kembalikan!” Jeany mencoba meraih IPod-nya tapi Niel menghalanginya.
Niel menangkap pergelangan tangan Jeany dan memaksanya untuk menatap Niel, “Aku harus pergi.” Kata Niel.
Jeany sebenarnya sangat kaget dan penasaran dengan kelanjutan kata-kata Niel, tapi ia mencoba untuk tidak peduli.
Tapi, ia gagal.
“Pergi? Seperti kunjungan kerja?” Niel mengangguk, langsung saja Jeany merasa mual. “Tapi, kau baru saja pulang. Kau baru seminggu pulang, tapi sudah mau pergi lagi?!” Jeany menatap Niel tidak percaya.
“Ada masalah di kantor cabang Macau. Ayah ingin aku ke sana.” Jelas Niel dengan wajah datar.
“Apa tidak ada orang lain yang bisa melakukannya? Lagipula kau kan harus kuliah!” Jeany menarik tangannya, ia tahu ia akan mulai menangis. Dan akhirnya air matanya jatuh juga. Bukannya ia gadis yang cengeng, tapi ia benar-benar kesal. Niel baru saja pulang setelah 2 minggu pergi ke Jeju, dan seminggu ini mereka bahkan baru bertemu muka 2 kali. Dan lagi Niel sudah janji akhir pekan ini mereka akan pergi main.
Niel memerintahkan Sopir untuk menepikan mobil. Niel bukannya tidak tahu apa reaksi yang akan diberikan Jeany, ia mengerti sekali yeojachingu-nya itu. Jeany hanya akan memberikan 2 reaksi : marah atau mendiamkannya. Tapi, menangis?
Chagi-ya.... uljima,” Niel menyelipkan beberapa helai rambut Jeany ke belakang telinga. Jeany sekuat tenaga mengerem tangisnya, tapi air matanya tidak mau berhenti turun. Di awal mereka pacaran, selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan, Niel tidak pernah meninggalkannya begini sering. Ia mencoba untuk biasa, tapi ia tahu ia tidak akan pernah terbiasa. Ia ingin Niel selalu ada di dekatnya, di tempat ia bisa melihatnya, mendengar suaranya.
Niel menarik Jeany ke dalam pelukannya, dan Jeany tidak bisa menolak, atau tepatnya, tidak mau menolak. Ia malah menangis makin keras.
Niel menepuk-nepuk punggung Jeany. Bukannya ia tidak sedih harus pergi meninggalkan Jeany. Ia sangat sedih malah. Dan sekarang ditambah dengan Jeany yang menangis, ia jadih tambah sedih dan mengutuk pabriknya yang bermasalah itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa menjadi namjachingu paling kejam.
Uljima Jeany-ah.....” dan ia hanya bisa membujuk agar Jeany berhenti menangis. Namja macam apa dia ini? Yang bisa-bisanya membuat yeoja-nya menangis?
“Jeany....”
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berhari-hari di neraka bagi Niel, Jeany mulai berhenti menangis meski masih sesenggukan sekali-kali. Dan Niel tidak yakin ingin mengatakan hal yang tadinya akan dikatakannya. Tapi, itu tidak mungkin.
“Kapan kau pergi?” tanya Jeany dengan suara serak. Niel mengeratkan pelukannya, bentuk antisipasi dengan reksi Jeany nanti.
“Hari ini.”
Jeany mendorong dada Niel agar ia melepaskannya dan Niel terpaksa melepaskannya.
“Masalahnya sangat mendesak, aku tidak punya pilihan lain.” Niel mencoba menjelaskan dan sepertinya Jeany sudah kembali menjadi Jeany yang biasanya. Tapi Niel bisa melihat Jeany sekuat tenaga menahan diri. Niel tersenyum tipis dan memeluk Jeany lagi.
“Aku akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan segera pulang.” Kata Niel sambil mencium puncak kepala Jeany. Niel menghirup aroma tubuh Jeany, memenuhi tiap relung dadanya dengan aroma itu. Entah kapan ia bisa menghirupnya lagi.
“Janji?” tanya Jeany. Niel nyaris tertawa, Jeany tidak pernah bertingkah begini. Tapi tidak apa-apa. Ini membuatnya makin manis.
“Janji.” Niel melonggarkan pelukannya dan menunduk, lalu memerikan ciuman singkat di atas pipi Jeany yang terasa lengket. Ia bisa merasakan asin di bibirnya.
Lalu mobil pun mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
***
Agassi, kenapa anda cemberut?” goda Tn. Park, sopir pribadi Niel yang sekarang menjadi sopir sementara Jeany yang mengantar-jemputnya sebagai ganti karena Niel tidak bisa melakukannya sendiri.
Ahjussi, aku sedang benar-benar kesal.” Jeany melipat kedua tangannya di depan dada.
Waeyo? Cerita saja pada saya,” tawar Tn. Park. Tn. Park memang sangat baik pada Jeany, seperti semua anggota keluarga dan staff di rumah Niel. Semuanya sangat menyayangi calon nyonya besar Ahn ini.
“Tadi, ada orang yang menyebalkan sekali!” Jeany mulai bercerita. “Waktu aku dan Ji Ni sedang makan di kantin, tiba-tiba saja ada bola basket menghantam kepalaku. Ternyata itu ulah namja jelek, sombong, dan tidak tahu diri. Bukannya minta maaf, dia malah tertawa. Menyebalkan sekali kan?” Jeany menghela napas kuat-kuat.
Aigoo... anda baik-baik saja Agassi?” Tn. Park menatap Jeany khawatir lewat kaca spion depan.
Gwenchana...” sahut Jeany. “Aku tidak mau bertemu yang begitu lagi.” Tn. Park tertawa mendengarnya.
Niel baru pergi 2 hari, tapi Jeany merasa sudah tidak bertemu selama 2 bulan. Ia sangat merindukan Niel. Baik senyuman yang jarang ditampakkan Niel, sampai ‘evil sight’-nya yang selalu mempan mendiamkannya. Hal yang sangat menyenangkan soal sopir antar-jemput ini adalah, karena di mobil ini Jeany bisa mencium aroma parfum Niel yang seakan lekat dengan mobil ini. Membuatnya merasa tenang dan nyaman karena terselubungi aroma itu.
“Aku kangen Niel.” Gumam Jeany, tapi cukup jelas terdengar.
“Saya tahu Agassi, saya tahu.” Sahut Tn. Park.
***
Lewat tengah malam, Jeany masih duduk di depan komputernya. Mungkin ini sudah kelewat larut, tapi ia masih segar dan semangat. Kenapa? Karena ia akan chatting dengan Niel.
Alasan mereka chattingan selarut ini adalah karena Niel harus meeting sampai pukul 10 malam dan baru  benar-benar bebas tugas setelah pukul 11 lewat. Tapi Jeany bisa terima itu. Ia akhirnya bisa melihat wajah Niel setelah 2 hari hanya bisa melihat fotonya.
Tak berapa lama, akhirnya Niel on line juga. Dan akhirnya... Jeany bisa melihat wajah namjachingu-nya lagi. Kelihatan tenang dan dingin seperti biasanya dengan memakai polo shirt warna pastel.
Oppa...” Jeany pikir ia akan menangis lagi saking bahagianya.
Uljima...” kata Niel di seberang sana.
Ne...” Jeany menyeka matanya dan tersenyum.
Niel balas tersenyum dan untuk beberapa saat mereka hanya saling bertatapan sampai akhirnya Niel berbicara.
“Kata Tn. Park ada orang yang mengganggumu?” Tanya Niel dengan nada otoriter. Bahkan dengan jarak yang terpisah sejauh ini, Jeany bisa merasakan aura protektif-Niel.
“Rambutmu terlihat agak gelap, apa basah? Kau baru mandi?” tanya Jeany.
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Tegur Niel.
Ani, aku serius! Mandi semalam ini, kau bisa sakit!” Jeany merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Niel barusan meski tidak semuanya salah. “Kau tahu? Sepanjang hari aku terus memikirkanmu. Dengan jadwal rapat yang padat begitu, aku berpikir apa kau bisa istirahat cukup dan makan dengan baik...”
Niel segera menyadari kesalahannya dan menatap Jeany lekat-lekat di layar laptopnya. “Mianhae....uljima, ne, chagi?” Jeany lagi-lagi menyeka matanya. Akhir-akhir ini ia jadi begitu sensitif.
“Aku berada begini jauh darimu, dan tidak bisa menamin keselamatanmu dengan tanganku sendiri.” Kata Niel. “Mendengar laporan Tn. Park membuatku ingin segera terbang kesana dan menghajarnya. Tapi, aku tidak bisa, ya kan? Itu sangat sulit.”
Mianhae....” gumam  Jeany. “Aku ini egois ya?”
“Iya.” Tukas Niel. Jeany mendelik.
“Kau ini...” Jeany menggembungkan pipinya.
“Tolong jangan lakukan itu.”
“Lakukan apa?” bingung Jeany.
“Itu, “ Niel menunjuk, “jangan pasang wajah seperti itu, karena aku tidak bisa mencubitmu dari sini.”
Jeany tersenyum mencibir, “kau tahu, aku baik-baik saja. Karena aku tahu, sejauh apapun kau berada, kau akan selalu ada untukku.” Kata Jeany. “Tapi aku ingin kau segera pulang.”
Niel menatap Jeany tanpa ekspresi, tapi Jeany tahu, saat ini Niel sedang berpikir keras. Memang seperti itu wajahnya jika sedang berpikir. Tapi, apa sebenarnya yang ia pikirkan?
“Aku...” Niel menggantung kata-katanya, sepertinya ia tak ingin mengatakannya. “Sepertinya tidak akan kembali dalam waktu dekat.”
Hati Jeany mencelos. Setiap kali Niel berkata ‘tidak akan kembali dalam waktu dekat’ itu berarti ‘lama’ dan ‘lama’-nya itu tidak tentu. Terakhir kali Niel bicara begitu, Jeany tidak bisa bertemu dengannya selama 2 bulan.
“Jeany-ah?”
Jeany mendongak, dan melihat Niel yang tampak ‘sedikit’ khawatir hingga tidak terlihat sama sekali. Pandangannya buram oleh air mata dan Jeany menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar tidak terisak.
“Aku.. tidak apa-apa.” Bisik Jeany. “ Kau bekerja saja dengan benar, tidak usah pikirkan aku.”
Niel selalu kesal saat-saat seperti ini. Ketika Jeany menangis di hadapannya dan tak ada yang bisa dilakukannya. Oh ya, dia lupa. Dia bisa melakukan satu hal, yaitu segera menyelesaikan tugasnya di sini dan kembali ke sisi Jeany secepatnya. Tapi bagaimana bisa, jika tiap kali menatap lembaran kerja atau proposal, yang terbayang olehnya hanya wajah Jeany? Keadaannya juga tidak lebih baik di sini. Ia sangat merindukan Jeany, dan nyaris gila padahal mereka baru berpisah 2 hari.
Jeany menyentuh layar komputernya, menatap Niel dalam diam.
Bogoshipeo.”
“Na do, Jeany-ah. Na do.”
***
Ji Ni sudah bosan melihat tingkah Jeany yang makin tidak karuan. Ia seperti zombie. Tiap kali dosen menjelaskan, ia tidak pernah memperhatikan, dan dia makan lebih sedikit sekarang. Padahal dia baru seminggu ditinggal Niel.
“Kau tidak mengerti apa yang kurasakan.”
Itu adalah kata-kata pembelaan paling jitu yang selalu dikatakan Jeany tiap kali Ji Ni komentar soal kondisinya. Seperti yang dikatakannya kali ini, saat mereka sedang makan siang.
“Aku tahu. Chunji memang tidak pernah meninggalkanku karena harus mengurus perusahaan appa-nya. Tapi Jeany.... kau benar-benar kacau.” Ji Ni menatap temannya itu penuh simpati. Jeany hanya mengaduk-aduk minuman di hadapannya tanpa niat. Ji Ni tidak habis pikir, Jeany yang dulu cuek dan anti-Niel sekarang benar-benar dilibas rindu pada namjachingu-nya itu. Padahal dulu boro-boro kangen, inget sama Niel aja nggak.
“Ini sudah seminggu. Dan Niel belum beri kabar lagi.” Desah Jeany sambil bertopang dagu.
Tiba-tiba, Ji Ni mendapat ide bagus.
“Kau tahu? Kurasa yang kau butuhkan cuma satu.” Ji Ni tersenyum penuh arti.
“Iya benar. Niel.” Balas Jeany. “Bisa kau bawa dia ke sini?”
Ji Ni mencibir, “Bukan itu. Tapi, pengalih perhatian.”
Mwoya?”
Ji Ni menggeser duduknya agar lebih dekat, “iya, pengalih perhatian. Kau tahu? Seperti mencari kesibukan lain agar kau berhenti memikirkan Niel. Bagaimana?”
Jeany berdecak kesal. “Aku sudah mencoba mengalihkan perhatian dengan serius memperhatikan kuliah matematik, tapi tetap saja pikiranku melantur. Padahal Heo seonsangnim bisa menelanku bulat-bulat kalau tahu!”
Babo! Carinya yang seru dong!” dasar kelewat teladan, tambah Ji Ni dalam hati.
Arra...arra,” Jeany akhirnya menyerah. Ia juga capek terus nelangsa begini. Mungkin ga ada salahnya dia ikutin saran Ji Ni.
“Kita kerja part-time, otte?” mata Ji Ni berbinar.
“Kau gila?! Jika Niel tahu, aku bisa digantung!” tukas Jeany langsung.
Niel, meski kelihatannya dingin, sebenarnya orangnya sangat protektif. Ia melabas semua namja yang berani mendekati Jeany (bukti nyata : Yeon Jae). Jika ada namja yang menegurnya saja, sudah pasti masuk black list. Pernah, Jeany kerja part-time di sebuah restoran, dan begitu Niel tahu ia bekerja di sana dan sering digoda oleh sesama pelayan, ia marah besar dan menghukum Jeany dengan melarangnya pergi keluar selama sebulan (jangan tanya nasib namja-namja yang menggodanya). Kalau ia mau pergi, harus bareng Niel atau diantar Tn. Park. Jeany gak keberatan sih, tapi kasihan sama Niel karena nambahin kerjaan namja-nya itu. Padahal Niel kan sibuk sekali.
Aisshhh... Niel tidak perlu tahu! Lagipula kita kerjanya hanya sampai ia pulang saja. Ok?”
“Hm... ok deh. Tapi awas ya kalau gak berhasil!” ancam Jeany.
“Sipp!!”

-TBC-

| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar