Destiny
Author : CherryMintAzzule.
Cast :
·
Sophia
Amanda
·
C.A.P a.k.a
Bang Min Soo
·
L.Joe a.k.a
Lee Byung Hun
Genre : Romance.
Rating : T.
Length : Oneshoot.
:: Sophia’s POV ::
Namaku Sophia Amanda. Alasanku berada di Korea adalah
untuk menemukan jati diriku. Terdengar sedikit alay ya? Dan dengan tekad ’45
khas pejuang Indonesia aku nekat berangkat ke Seoul. Now...i’m here!
“Hello...my name is Sophia Amanda,
but you can call me Sophia. I’m an exchange student from Jakarta and i’ll be
your classmate for next 6 months. Nice to meet you!” aku memperkenalkan diri di
depan kelas dengan bahasa inggris. Jujur, hanya dengan modal tekad tidak akan
bisa membuatku tiba-tiba lancar bicara bahasa Korea dalam waktu 7 jam
Jakarta-Seoul.
Mereka semua membalasku dengan
antusias. Beberapa yang lain bahkan bersiul nakal, juga diikuti gemuruh tepuk
tangan.
“Ok...it’s enough. Now, Sophia, you
can sit over there...” kata guru bahasa inggris sekaligus wali kelasku sambil
menunjuk meja di samping jendela.
Kelas pun dimulai. Semoga saja semua
berjalan lancar...Tuhan, bantulah aku!!
Yooshhh....!!
Semangat Sophia!!
:: Author’s POV ::
Gadis itu berjalan menyusuri lorong. Sesekali ia menarik rok seragamnya
yang ia rasa terlalu pendek dan merapatkan blazernya. Rambutnya yang hitam ikal
hanya dihiasi jepit rambut untuk menahan poninya dan dengan wajahnya yang
semi-chinese tidak akan ada yang menduga kalau ia adalah orang Indonesia.
Ia masuk ke dalam perpustakaan dan memilih meja di dekat
jendela kemudian ia mulai menekuni bukunya. Ada banyak yang harus ia pelajari,
terutama bahasa Korea.
“Iya Sophia, ayahmu
masih hidup.” Ucap ibunya datar.
“Kenapa? Kenapa mama tidak
pernah cerita? Dimana dia sekarang?” desak Sophia.
“Tidak akan ada yang
berubah sekalipun kau menemuinya.”
“Ma...dia ayahku!” rintih
Sophia. “Ayah yang ingin kutemui sejak dulu, Ayah yang kupikir sudah mati!”
“Dia memang sudah mati!”
bentak ibunya lantas pergi meninggalkannya menangis sendirian.
Sophia tersadar dari lamunannya lantas melepas kalung yang ada di lehernya.
Menatapnya dalam siraman cahaya matahari sore.
Kalung pemberian ayahnya ini tidak akan pernah sampai di
tangannya kalau saja ia tidak iseng menggerataki lemari ibunya. Ia juga jadi
tahu siapa nama ayahnya. Lee Shin. Jadi itulah alasan kenapa wajahnya terlalu
chinese. Selain nama, ia tidak tahu apa-apa lagi tentang ayahnya selain kalau
ayahnya tinggal di Seoul. Wajahnya apalagi.
Petugas perpus menepuk bahunya pelan, ternyata sudah
waktunya tutup. Sophia segera merapikan bukunya, tapi sial, kalungnya terlempar
ke luar jendela.
“Mati dah gue....!!” Sophia langsung berlari meninggalkan
Perpus dan petugasnya yang keheranan.
:: C.A.P POV ::
Aku menyeka darah di sudut bibir. Ternyata si manja boleh
juga, ia lebih kuat dari yang kuduga rupanya.
“Hei, apa ini cukup? Apa kau
sekarang bisa menerimaku?” tanyanya. Ia tak kalah berantakan dariku. Kancing
bajunya ada yang copot, bajunya robek dan kotor, wajahnya membiru dan sudut
bibirnya mengeluarkan darah.
“Ani...”
ujarku. “Tapi kurasa ada sedikit harapan.”
Ia cemberut dan mengerucutkan
bibirnya, persis seperti sorang yeoja yang
sedang merajuk, “Hyung...apa ini
terlalu sulit untukmu? Awalnya aku juga tidak suka, tapi bukannya ini sudah
takdir?”
“Takdir?”
Jadi
aku menderita selama ini karena takdir? Kehilangan keluargaku juga takdir? Dan
sekarang tiba-tiba menjadi anak tiri orang kaya itu juga takdir? Memilikimu
sebagai adik tiri juga takdir??
“Iya...semua orang yang Hyung temui, hal yang hyung alami
setiap hari....semuanya itu takdir.” Ia bersikeras, “jadi terima saja kalau
sekarang kita adalah keluarga.”
Aku bangkit dan mengambil tas yang
tadi kulempar ke dekat semak. Loh? Apa ini?
“Hyung...nanti
kita bilang apa pada umma dan appa? Kita lebam-lebam begini.” Ia ikut
bangkit dan menepis debu dari seragamnya.
Tiba-tiba seorang yeoja muncul sepertinya sedang mencari
sesuatu. Sesuatu yang aku yakin adalah benda yang sedang kugenggam. Tapi begitu
melihat kami, ia langsung mematung dan perlahan membalik badan.
“Ya!
Kemari kau!” teriakku. Yeoja itu
terlonjak kaget, wajahnya memerah. Aku jadi ingin tertawa melihatnya. Perlahan
dengan langkah ragu ia mendekat ke arah kami.
“Ireumi
mwoyeyo?” selidikku. Bahaya kalau gosip tentang kami berkelahi tersebar
luas. Lagipula dengan penampilan begini, siapa yang tidak akan menduga kami
baru saja mencoba saling bunuh?
“Sophia Amanda...” jawabnya gugup.
Hah? Nama macam apa itu? Ah,
sudahlah.
“Kuperingatkan kau, kalau aku
mendengar ada gosip tentang ini, neo
jugeo!” desisku penuh penekanan. Yeoja
itu mengangguk cepat lantas berbalik dan berlari.
:: Sophia’s POV ::
O M
G !!!!!!!
Ini baru hari pertama dan aku sudah harus ketemu sama
yang begituan??? Untuuuung aja tadi gak diapa-apain!!! Selamet!! Selameeettt!!!
Aduh....halte jauh amat sih, mana
udah gelap lagi....hiks, nasib jelek amat sih. Bagaimana kalau aku sampe...
“Hai...sweetie, eodiga?”
MAMPUS DAH GUE!
LARI SOPHIA!!!!
“Ya!!!”
HUWAAANNGG.....SESEORANG TOLONG AKU!!!!
“Cepat naik.”
Seorang pengendara motor berhenti
tepat di sampingku, oow, ternyata cowok berdarah-darah yang tadi. Eh, tadi dia
ngomong apa?
“Ya!
Noona, kenapa kau lari?” teriak para preman itu, aku takut....
Ia mengulurkan helm, “Cepat naik.”
Ahhh....!! yang penting cari aman
dulu!
Aku menyambar helm itu, memakainya,
lantas melompat ke atas motor dan cowok itu langsung tancap gas membuatku
tersentak dan refleks memeluk pinggangnya.
***
Kata temanku, cowok Korea itu
romantis dan manis. Tapi ternyata itu hanya simpulan dari efek samping nonton
drama Korea. Contohnya? Ya cowok ini!! Dengan santainya ia makan (Super rakus
kalau ada yang mau tanya pendapatku) sedangkan seisi restoran menatapnya curiga
sambil berbisik-bisik. Gimana enggak? Wajah lebam, seragam robek trus banyak
noda darahnya lagi. Sangar banget, udah mirip preman Tanah Abang aja ni cowok!
Amit-amit punya cowok kayak gini!
“Kau gak pesan makanan?” katanya
dengan mulut penuh.
Ini dia NGOMONG APA??? Gak jelas
banget sih, tadi aja pas dia bentak-bentak masih ga tau artinya apa.
“Sorry?” mending jawab aja deh,
daripada diem, ntar digampar lagi!
“Meokgeo.”
Nah, ini aku tahu. Pendek. Jelas. Meokgeo = Makan ^^v, yeeii aku tahu!
“No, thank’s.” Aku menggelengkan
kepala. Jujur, pernah aku sekali nyoba masakan Korea dan buat aku, rasanya ANEH
banget. Mending kelaperan deh daripada muntah-muntah.
Yah...ni cowok, makannya tambah
rakus.
Setelah ngabisin 5 piring makanan
yang aku gak mau tahu apa, ia berjalan ke luar
restoran.
“Dimana rumahmu? Biar kuantar.”
Katanya sambil naik ke atas motor dan mengulurkan helm.
Sekali lagi, DIA NGOMONG APA SIH?
“Jip.”
Jip
= rumah....ya kan?
Oh...mau nganterin pulang toh....eh,
ni cowok sehat gak ya? Ntar yang ada nyawaku melayang lagi. Tapi, tadi kan dia
udah nolongin. Hmmm....aman kali ya? Iya kali deh! Jam segini rawan banget kalo
pulang sendiri. Lagipula, kalau dari sini aku gak tahu harus naik bis yang
mana.
Oke deh, anggep aja pengiritan biaya
ongkos. Hahahai!
:: Author’s POV ::
“Namanya Sophia Amanda, exchange student dari Indonesia. Dia gak bisa bicara
dalam bahasa Korea tapi dia bisa mengerti jika kita ngomongnya pelan-pelan.”
Lapor L.Joe (nama keren pemberian C.A.P karena dia gak sudi manggil nama
aslinya) pada C.A.P.
“Hanya itu?”
L.Joe menggembungkan pipinya, “Wae? Hyung gak berharap aku tanya nomer sepatu atau branya kan?”
“Ani...”
“Hyung?”
“Hmmnh?”
“Kemarin Hyung mengantarnya
pulang ya? Dia bilang terima kasih.”
“O...” C.A.P
mengingat kembali malam itu.
“Thank’s” ucapnya saat menyerahkan kembali helm-nya, “for
helping me.”
Saat itu C.A.P sedikit menyesal karena selalu bolos tiap
pelajaran bahasa inggris. Malam itu, mereka hanya bicara sedikit. Sophia
tidak mengerti ucapannya dan sebaliknya.
“Hyung suka yeoja itu ya?” tanya L.Joe polos.
“Siapa juga?!” salak C.A.P.
“Oh, yasudah...buatku saja deh, boleh? Tapi dia cantik
sekali loh, hyung gak nyesel? Dia
juga sopan. Kalau hyung mau, aku bisa
jadi penerjemah pribadi hyung.” Goda
L.Joe. ia memang pintar dan paham dengan bahasa Inggris. Oleh karena itulah ia
ditunjuk sebagai murid pendamping bagi exchange student yang datang.
“Cih, diam kau!” C.A.P melemparnya dengan bantal sofa.
Entah kenapa ia kesal sekali mendengarnya.
“Hya! Hyung!
Appoyo!” L.Joe mengelus kepalanya lantas pergi sambil ngedumel sendiri.
Tinggalah C.A.P sendiri.
Sebenarnya C.A.P merasa ada yang aneh dengan yeoja itu. Entah apa. Tapi auranya
membuat C.A.P ingin selalu ada di sisinya untuk menjaganya seperti yang ia
lakukan malam itu. Jujur, kemarin suasana hatinya sedang buruk, bahkan
berkelahi dengan L.Joe saja tidak membuatnya lebih baik. Tapi saat melihat mata
yeoja itu atau saat tangan kecil itu
melingkari pinggangnya ia merasa sangat nyaman. Perasaannya langsung berubah
tenang. Perasaan yang aneh... apakah cinta?
:: C.A.P’s POV ::
Bolos lagi...
Hm..kira-kira anak itu sedang apa
ya? Hei, kenapa aku senyum-senyum sendiri begini? Aisshh...babo!Michilgeotgatha!!
Aku bahkan sampai membayangkannya sedang bermain di semak
di bawah pohon tempatku bersembunyi.
HEI! Ini bukan imajinasiku! Itu
benar-benar Sophia! Kenapa dia di sini?
“Nan
mwo hae?”
Ia mendongak dan matanya membulat. Aish...ekspresi macam apa itu? Memangnya aku ini hantu?
Aku melompat turun dari dahan pohon.
Dan dilihat dari dekat, ia tampak lebih cantik. Hei, hei, hei.... berhenti
memikirkan itu!
“Nan
mwo hae?” tanyaku lagi.
“No..thing. Ehm, i think i should
go...” ia tampak gugup lantas berbalik dan berjalan perlahan meninggalkanku,
lalu berlari.
Aku semenakutkan itukah baginya?
Padahal aku sudah senang tadi. Cih, menyebalkan.
:: Sophia’s POV ::
Yah, gak jadi nyari kalungnya deh. Kenapa tuh orang di
situ sih? Pasti bolos ya...
Sebenarnya kalau aku tidak ingat
kata-kata teman perempuan sekelasku tentangnya mungkin aku sudah memaksanya membantuku
mencari kalungku.
‘Dia itu preman sekolah. Yang berani
menentang omongannya langsung dikubur! Guru-guru juga tidak ada yang berani
menentangnya.’
Wah, sehebat itukah dia?
Tapi, aku merasa dia sebenarnya
orang yang baik.
Nah, sekarang aku harus bilang apa
pada guru? Menghilang lebih dari 15 menit?? Ayo Sophia, pikirkan alasannya!!
:: Author’s POV ::
Lagi-lagi hal sama terulang. Keesokan harinya C.A.P yang sedang melakukan
rutinitasnya dikejutkan oleh kemunculan Sophia. Kali ini yeoja itu hanya melambai sekilas sebelum akhirnya berlari
secepat-cepatnya. Dan selama seminggu itu hal yang sama terus terjadi.
C.A.P yakin, Sophia pasti mencari kalungnya. Hm, apa dia
kembalikan saja?
“Sunbae...”
panggil seseorang. C.A.P menunduk. Eh, SOPHIA?
BRUUKKK....
“Yaampun!” Sophia menghindari tubuh C.A.P yang jatuh
tiba-tiba. “Are you okay?”
Sambil memasang sikap cool-nya, C.A.P bangkit dan menatap
Sophia dengan tatapan penuh intimidasi. Tapi sepertinya kurang berhasil.
“Mwoya?” tanyanya.
“Ehm...that day, when you’re here with Lee sunbae... did you see my necklake?”
tanya Sophia pada C.A.P sambil menunjuk lehernya dan memeragakan kalung dengan
jarinya.
C.A.P diam, sambil meremas sesuatu di kantong celananya.
Apa, yang harus dilakukannya sekarang? mengembalikannya atau...
“Aniyo...”
Wajah Sophia langsung berubah mendung. Setelah
menggumamkan terima kasih yeoja itu
berbalik dan pergi.
Mianhae.... aku
pasti akan mengembalikannya. Tapi tidak sekarang.
:: C.A.P’s POV ::
Hei, itukan Sophia dan.... si bocah
manja?
Aisshh....anak
itu melambai kemari. Hei, dia berani menggodaku! Awas kau ya LEE BYUNG HUN!! Neo jugeo!!
BIP
‘aku mau mengajaknya jalan-jalan.
Dia sedang sedih sepertinya. Tidak papa kan hyung?
Tenang saja, aku akan menjaganya. Dah...!!’
Ijja
shigi!!!
:: Sophia’s POV ::
“Jadi kau sedih karena kalungmu hilang?” tanya Lee sunbae padaku dalam bahasa inggris yang
fasih.
“Iya...”
“Apa sangat penting untukmu?
Pemberian seseorang ya? Apa pacarmu?” ia menyeringai jail.
“Bukan begitu sunbae..., ah, bagaimana ya menjelaskannya?” aku bingung sendiri.
Apa aku cerita saja ya? Mungkin dia bisa bantu.
Akhirnya aku cerita juga tentang
betapa berartinya kalung itu dan tujuanku datang kemari.
“Kau...sungguh berani. Pasti ini
sulit kan?” tanyanya penuh simpati begitu aku selesai cerita. “Nama ayahmu Lee
Shin? Tapi, ada ratusan Lee Shin di sini. Apa kau tidak punya petunjuk lain?”
Aku menggeleng, “tadinya ada kalung
itu, tapi sekarang hilang.”
“Oke, kalau gitu sekarang kita ke
perpustakaan kota.” Lee sunbae bangkit.
“Mau apa?” tanyaku, tapi ia keburu
menarikku pergi.
:: Author’s POV ::
Selama 4 bulan, dengan diselingi kegiatan belajar dan les
bahasa Korea, L.Joe dan Sophia sibuk mencari informasi mengenai ayah Sophia.
Mereka akan mendatangi kantor catatan sipil atau apapun untuk mengumpulkan
informasi. Tapi hasilnya masih buram. Kalau sudah stress begini biasanya mereka
menghibur diri dengan bermain ke tempat-tempat menarik atau sekedar nonton
film. Kegiatan ini membuat keduanya makin dekat.
C.A.P yang tahu mengenai pencarian kalung itu hanya bisa
diam. Memang terkadang ia ingin mengembalikannya tapi, apa yang harus
diucapkannya? Saat itu ia bilang tidak tahu... dan lagi, kedekatan kedua makhluk
itu entah mengapa membuatnya kesal sendiri.
Tiap hari, L.Joe pasti akan mengoceh tentang apa yang
terjadi dengannya dan Sophia. Nyaris C.A.P menonjok wajahnya. Tapi sepertinya
L.Joe sendiri tidak sadar dengan perasaan kakak tirinya. Seperti pagi ini.
“Hyung, kemarin
saat kami pulang dari taman kota hampir saja kami tertabrak mobil. Untung saja
selamat, tapi sepertinya kaki Sophia terkilir. Aku tahu itu, sekalipun dia
tidak bilang.” Cerita L.Joe sambil mengunyah sarapannya.
C.A.P diam saja. Padahal ia sebenarnya khawatir. Ia
pernah mengantar Sophia pulang jadi ia tahu kalau jaraknya cukup jauh ke
sekolah. Ingin rasanya ia langsung pergi ke rumahnya sekarang juga.
“Hyung?”
“Hyung!!!”
“Mwoya?!” bentak C.A.P.
“Jangan melamun terus, nanti makanannya keburu dingin.”
Ujar L.Joe kalem seakan tidak mendengar bentakan kakaknya tadi.
Saat C.A.P hendak ke garasi untuk mengeluarkan motornya,
tiba-tiba saja L.Joe menahannya. Wajahnya serius.
“Hyung, mianhae. Sepertinya
aku benar-benar telah jatuh cinta pada Sophia.”
Hening.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar