Jumat, 30 Desember 2011

[Boyfriend] ~~~Be My Girlfriend~~~ part 1


Genre  : Romance
Cast     :
·         Shin Aerie as you
·         Kang Hye Won as Aerie’s friend
·         No Min Woo
·         Jo Young Min
·         Jo Kwang Min


~~~~Aerie’s POV
Aku melihat wajah Hye Won memerah saking ia semangat meneriaki tim basket yang begitu diidolakannya. Ok, bukan tim-nya, tapi salah seorang di antara mereka yang bernama Young Min. Dari tadi kuperhatikan, ia seperti kebakaran jenggot tiap kali Young Min terdorong atau tersikut oleh lawan dan merintih seakan ia-lah yang barusan disikut. Sejak bertemu dengan Hye Won saat aku baru pindah dulu, aku tahu ia menyukai salah satu dari “Jo Twins” itu. Tapi aku tidak tahu ia sudah seakut ini.
“Bisakah kau diam, setidaknya sisakan tenagamu! Berteriak tak akan membuat mereka menang!” aku mencoba memperingatkannya. Tapi Hye Won malah jadi makin semangat meneriaki begitu aksi kolaborasi “Jo Twins” menambah angka bagi tim-nya.
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Kalau sampai nanti dia pingsan, aku tak mau menggotongnya ke UKS. Aku pun ada di sini hanya karena aku menjadi petugas medis. Di acara turnamen tahunan sekolah ini pasti ada saja kan yang terluka?
Kedudukan sekarang imbang, dan waktu hampir habis. Aku sebenarnya tidak mengerti aturan mainnya, jadi rasanya tidak seru. Aku lebih suka sepakbola.
Pertandingan makin sengit, dan tiba-tiba saja dua orang pemain bertabrakan di udara. Salah seorang dari mereka jatuh dengan posisi yang salah, membuat kakinya terkilir, sedangkan yang satunya bisa mendarat dengan sempurna. Penonton langsung ribut, pendukung tim saling menyuraki. Entah siapa yang salah karena aku hanya melamun dari tadi.
Tiba-tiba Hye Won menarik lenganku dengan ganas, membuatku terseok-seok mengikutinya dengan kotak P3K di tangan.
“Aduh.....!! sabar sedikit kenapa? Kau bahkan bukan petugas medis!” sungutku. Tapi ia makin mempercepat langkahnya menuju ke pinggir lapangan. Namja  yang tadi teluka itu sekarang sudah terbaring di pinggir lapangan dan pertandingan dihentikan sementara. Semua anggota tim itu tampak kalut dan berteriak memanggil petugas medis, membuatku akhirnya mempercepat langkahku. Inilah sulitnya jadi petugas medis yang bertugas sendirian. Harus rela lari-lari!
Omona.....Min Woo-oppa...!!” desis Hye Won begitu kami sampai dan melihat  namja itu terbaring sambil menutupi wajahnya dengan lengan. Aku segera menyeruak kerumunan dan berlutut di dekat kakinya. Wah, ia benar-benar terkilir selain itu lututnya juga lecet dan mengeluarkan darah. Dengan telaten dan secepat kilat aku memperban kakinya, tak peduli rintihan kesakitan namja itu yang membuat anggota tim lainnya bergidik ngeri.
Sekilas aku menatap Hye Won yang malah terkagum-kagum dengan Young Min yang ikut berlutut di dekat kepala Min Woo. Aishhh....anak ini, tak mengerti situasi kondisi apa? Padahal aku sendiri sudah mau muntah berada di sini dengan cowok-cowok berkeringat yang bau mengelilingi kami. Arggghhhh...........aku paling tidak tahan bau seperti ini!!!
Wasit sudah tidak bisa lagi menunda pertandingan dan akhirnya tim itu pun maju dengan 4 orang tanpa Min Woo. Entah apa mereka tidak memiliki pemain cadangan. Setelah perban itu terlilit rapi, Min Woo dipapah oleh namja yang entah siapa namanya untuk pindah ke kursi. Aku mengikuti mereka sambil membawa kotak P3K karena lututnya belum kuobati. Sedangkan Hye Won yang berjalan mundur agar tetap bisa melihat Young Min sudah asik beteriak-teriak lagi.
Aku langsung berlutut di hadapannya tanpa sekalipun menatapnya. Sedangkan Min Woo sendiri tengah serius menyaksikan pertandingan. Aku pun mulai bekerja karena setelah pertandingan selesai aku boleh pulang. Kubersihkan lukanya dan kuberi obat merah setelah itu kututup dengan kain kasa. Tepat ketika aku selesai, aku mendengar suara sorakan yang menandakan usainya pertandingan. Dan tiba-tiba saja Min Woo bangkit dari kursinya, melonjak kegirangan dan berteriak heboh, sepertinya ia lupa dengan kakinya. Tapi lututnya membentur dahiku dengan kerasnya membuatku jatuh terduduk dengan mata berkunang-kunang.
Omona!!!! Aerie-ssi!” Hye Won jerit. Sepertinya ia melihatnya. Aduh, rasanya akan jadi benjol nih.
“Hei, dia kenapa?” tanya salah seorang anggota tim yang tau-tau sudah ada di sini. Sebelum menyadari ada aku yang terduduk pasrah di sini mereka masih bersorak-sorak. Min Woo yang sama terkejutnya dengan teman-temannya kemudian membungkuk dihadapanku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya. Dari suaranya sepertinya ia merasa bersalah. Tapi aku langsung berdiri, masih mengusap-usap dahiku.
Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung meraih kotak P3K-ku lalu pergi. Tak lupa juga menyeret Hye Won yang sempat-sempatnya menjeprat-jepretkan kameranya ke arah Young Min. Aishhhh.....anak ini membuatku makin kesal saja. Aku terluka parah (?) tapi dia malah sibuk memenuhi hasrat terdalamnya untuk memiliki album foto Young Min ver.-nya sendiri.
Aku menyeret langkahku menuju UKS. Disana ada krim yang setidaknya membuat dahiku bisa lebih baik. Hye Won dari tadi menggerutu dan sepertinya belum akan berakhir juga. Sedangkan kepalaku mulai terasa pusing.
Sambil memeriksa hasil jepretannya, Hye Won tidur-tiduran di atas salah satu ranjang di UKS. Sedangkan aku sibuk mengolesi krim itu di dahiku. Sekilas aku melihat cermin tadi, sepertinya sudah cukup parah. Aduh, kepalaku cenat-cenut~~

~~~~Min Woo’s POV
Aku begitu senangnya ketika akhirnya tim basketku menang setelah Kwang Min mencetak angka di saat-saat terakhir. Aku bahkan melupakan rasa sakit di kakiku dan melonjak kegirangan. Tapi tanpa sengaja lututku membentur dahi petugas medis yang sedang mengobatiku. Gadis itu langsung jatuh teduduk dan tangannya secara refleks menahan tubuhnya. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Ketika teman-temanku datang dengan euforia kemenangannya aku mencoba belutut di dekat gadis itu.
“Hei dia kenapa?” tanya Jin Young yang sadar akan keberadaan gadis itu diikuti yang lain.
Aku akhirnya hanya bisa membungkuk agar jarak kami tak terlalu jauh, aku merasa sangat bersalah. Ia sudah mengobatiku tapi aku malah melukainya. Aku ini cowok macam apa sih?
“Kau baik-baik saja?” tanyaku. Semoga ia tidak terluka parah. Lututku tadi sudah membentur dahinya dengan keras sekali.
Tapi gadis itu hanya diam dan tiba-tiba saja ia pergi setelah menyambar kotak P3K-nya. Ia juga menarik pergi temannya yang tampak lucu dengan kamera di tangan dan sibuk mengarahkannya ke Young Min.
“Kau apakan gadis itu? Sepertinya ia marah.” Kata Kwang Min sambil menatap punggung gadis itu yang hilang di tikungan.
“Kau ini memang parah sekali dalam urusan perempuan.” Cibir Young Min sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mata-mata yang menatapku seakan aku telah melakukan hal yang begitu buruk pada gadis itu membuatku kesal sekaligus malu. Terlebih Young Min yang terkenal playboy. Bisa-bisanya ia mengejekku begitu hanya karena aku tak se’eksis’ dia dalam percintaan. Begini-begini aku memiliki banyak fans!
“Sudah-sudah! Jangan membuatku makin merasa bersalah dong!”
“Memang kamu yang salah.” Sahut Kwang Min yang berhadiah jitakan di kepalanya.
“Sebaiknya aku pergi meminta maaf.” Ucapku pada mereka. Orang-orang masih sibuk mengucapkan selamat pada kami karena memenangkan turnamen olah raga sekolah kami pada cabang bola basket.
“Kenapa kamu menatap kami seperti itu?” tanya Young Min sambil mengangkat alis kirinya. Yah, aku memang sengaja memasang wajah aegyo-ku dengan maksud, tentunya.
“Antarkan aku ke tempat cewek itu.”
“Aku tahu kamu pasti ada maunya.” Gerutu Young Min. Pasrah.
Sedangkan aku tersenyum lebar. Menang.
***
“Min Woo...kau, sebaiknya diet.” Gumam Kwang Min sambil terus memapahku. Sedangkan Young Min yang ada di sebelah kiriku tak berkata apa-apa. Tapi keringat yang membasahi dahinya menunjukkan ia capek berat. Untuk sampai ke markas tim medis yaitu UKS, kami terpaksa naik ke lantai dua. Dan hampir saja kami bertiga jatuh berguling di tangga tadi.
Ketika kami berdiri di hadapan pintu ruang UKS, kami bisa mendengar suara cewek. Salah satu di antaranya sibuk jejeritan yang isinya memuji-muji Young Min yang tampak keren di pertandingan basket tadi. Sedangkan suara yang satunya hanya bergumam “oh” saja.
Kwang Min membukakan pintu dan kami pun masuk. Di dalam ruangan yang serba putih itu aku melihat petugas medis itu sedang berdiri memunggungi kami.
“Ehm...permisi,” kataku akhirnya. Tapi cewek itu masih sibuk membereskan peralatnnya sedangkan temannya yang duduk di atas ranjang melongo menatap Young Min.
“Aerie-ssi.....li, lihat siapa yang datang!” seru temannya sambil turun dari ranjang dan membalikkan tubuh cewek itu. Siapa tadi namanya? Aerie?
Gadis itu berbalik dan kini aku bisa menatapnya dengan jelas. Rambutnya sekarang di jepit agar tidak jatuh di atas dahinya. Aku bisa melihat dahinya memar. Ya ampun, benar-benar deh aku ini. Tapi selain lukanya yang lebih menyita perhatianku adalah wajah cantik gadis itu. Ah maksudku Aerie-ssi.
Kulitnya putih, lebih putih dan bersih dari temannya. Matanya yang bulat menatap kami datar, tapi justru itu yang menarik. Sebelumnya semua cewek selalu menatap kami kagum, seperti temannya itu.
“Ada perlu apa?” tanya Aerie  dingin. Tapi tetap membuat dia kelihatan cantik (ya ampun Min Woo....kenapa kamu begitu mudahnya tersepona sih?).
“Yang tadi...maaf  sekali, aku tidak sengaja.” Ucapku gugup, masalahnya Aerie menatapku terus sih. Aku bisa mendengar Jo Twins mengikik di balik punggungku. Ini pertama kalinya aku menjadi begitu gugup di depan cewek. Tapi Aerie banar-benar membuatku grogi dengan tatapannya.
“Ya.” Jawabnya.
Ya? Hanya itu? Tidak ada lagi? Tuhan kenapa Engkau ciptakan perasaan malu??? Karena sekarang aku malu beraaaaaat. Aerie sih sepertinya orang yang sangat serius. Aduh, apalagi yang harus aku ucapkan?
“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku pamit.” Katanya tiba-tiba dengan ransel berwarna cokelat yang sudah ada di  punggungnya. Dan ia pergi. Sedangkan kami diam saja. Ya ampun, apa sih yang barusan terjadi? Kenapa kami semua seakan membeku?
Yeoja itu kenapa sih? Dan kau!” Young Min menudingku dengan telunjuknya, “kenapa tadi kau seperti orang bodoh? Aku malu menyebutmu sebagai temanku! Sekarang kau harus mentraktir kami minum!”
Loh? Kok begitu?
Tadinya aku mau protes seperti itu tapi apalah daya, aku memang berhutang pada mereka.
Teman Aerie yang masih berdiri  menatap pintu keluar membuatku sadar bukan hanya aku saja yang kaget di perlakukan begitu.
“Hai...em,, Ireumi mwoyeyo?” kataku. Sebenarnya aku berniat mengorek informasi dari temannya ini tentang Aerie.
Ia tampak gugup sekali.
Jeo neun Kang Hye Won ieyo....” ia juga tampak lucu dengan rambut kepang sampingnya. Menurutku ia lebih cantik dari pacar-pacar Young Min sebelumnya. Kenapa Young Min tidak sama yang ini saja ya? Hye Won sepertinya naksir berat pada Young Min karena sejak tadi ia terus menatap Young Min, juga saat di lapangan tadi. Ia bahkan membawa-bawa kamera!
Setelah sedikit basa-basi aku memaksanya ikut ke basecamp kami. Sebenarnya ini masih dalam rangka mengorek informasi, karena aku masih penasaran dengan Aerie. Entah mengapa, tapi Aerie sukses membuatku jadi begini. Padahal sebelumnya cewek-cewek-lah yang menggilaiku. Hm, sepertinya ini jadi menarik....

~~~~Author’s POV
Mereka mengelilingi meja yang penuh dengan snack dan minuman. Satu-satunya perempuan yang ada di sana terus saja menjawab pertanyaan (sebenarnya ia gak sadar sedang di interogasi) dari trio paling populer di sekolahnya. Terdiri dari cowok-cowok tajir yang sangat sangat sangat ganteng. Si cewek – Hye Won – naksir berat pada Young Min yang memiliki rambut berwarna pirang. Dari tadi ia selalu antusias menjawab setiap pertanyaan, tak peduli dengan maksud tersembunyi trio itu asalkan ia bisa terus bicara dengan mereka. Ia juga senang sekali karena tak percaya sudah diajak ke basecamp mereka yang bahkan dalam mimpi pun tak pernah ia alami. Dalam hati ia berteriak-teriak, karena ia tak mau merusak image-nya di depan Young Min.
Tak terasa hari mulai gelap. Dan berkat ‘ancaman’ dari Min Woo akhirnya Young Min mengantar Hye Won pulang. Ini, kata Min Woo, akan membuat Hye Won tetap jadi informannya karena ada Young Min. Pasti ia tak akan menolak.

~~~~Aerie’s POV
Sudah hampir 5 menit lebih aku terpaksa mendengarkan cerita Hye Won tentang pengalamannya kemarin. Mau kuhentikan, tapi gak tega. Ya sudahlah. Toh, hanya mendengarkan.
“....lalu, lalu Young Min-oppa nganterin aku pulang. Aku seneng banget!!!” Hye Won histeris.
“iyah...” sahutku sambil membolak-balik brosur beasiswa yang di berikan oleh Bu Hye Na tadi pagi.
“Ih....seneng banget!!!” pekik Hye Won lagi.
“Iyah...” sahutku dengan penuh kesabaran. Tapi tiba-tiba Hye Won mencengkram bahuku dan menatapku dengan matanya yang terbelalak.
“AKU SENENG BANGEEETTTTTT......!!!” Hye Won jerit.
“IYA!”  aku balas jerit dan memelototinya.
“Hehehe, maaf...abisnya seneng bang....et.”
Ucapan Hye Won yang menggantung sambil menatap ke belakangku membuatku ikut melihat ke arah yang sama. Dan di sana, tampak cowok s****n yang kemarin membuat dahiku benjol dengan dua temannya yang telah membuat cewek-cewek kelas 2 histeris. Ngapain mereka ke lantai 2? Kelas tiga biasanya tidak keliaran di area kelas dua. Ah, mereka sepertinya berjalan ke arah kami.
Annyonghaseo....” sapa salah seorang namja kembar yang berambut hitam dengan ceria. Entah siapa namanya. Sedangkan dua yang lain hanya tersenyum dan sukses membuat Hye Won melongo. Aishhh....anak ini, di mana pun dan kapan pun selalu saja begini jika ada cowok itu.
Malas deh meladeni mereka. Ngapain juga ke sini? Brosur beasiswa ini jadi jauuuh lebih menarik dari sebelumnya.
Sunbae...kenapa ke sini?” tanya Hye Won. Wah, ia berani juga. Padahal dulu ia cuma berani memandangi mereka dari jauh saja. Bahkan untuk menyapa mereka saja dulu hanya dalam mimpi.
Ani...hanya ingin main saja.” Jawabnya. Yakin cuma ‘ingin’ main aja nih?
“Ah, Aerie-ah bisakah kau ikut mendampingi tim basket kami di kejuaraan antar sekolah nanti sebagai tim medis?” tanya namja s****n itu. Masih berani dia mengajakku ngobrol? Bahkan dahiku masih sakit.
“Tidak.” Jawabku cepat agar mereka cepat pergi.
Waeyo?”
“Malas.”
”Kami akan membayarmu.”
Aku akhirnya mendongak dari brosurku.
“T.I.D.A.K.”
Hening.
“Kalau begitu biar aku saja....!” kata Hye Won dengan semangat.
“Ya, ya...” kataku acuh, kembali menekuni brosur beasiswa itu.
Padahal Hye Won sama sekali tidak tahu tentang prosedur P3K. Ia ikut tes petugas medis bersamaku kemarin tapi gagal. Dan jujur saja, ia sangat parah dalam hal ini. Paling-paling para namja itu akan jadi mumi jika terkilir nanti.
“Yakin tidak mau?” tanya namja itu lagi.
Aku diam. Akhirnya mereka pamit dan pergi. Ketika mereka sudah benar-benar pergi Hye Won menatapku tajam.
“Kau itu kenapa sih? Sepertinya alergi sekali dengan mereka.”
“Yah, kira-kira begitu.” Jawabku asal.
“Padahal kalau kamu ikut aku jadi bisa nemenin Young Min-oppa!! Kenapa gak ikut aja sih?”
“Kalau mau ikut ya sana...”
“Hissshhh....kau menyebalkan!”
“o”

~~~~Author’s POV
Sejak penolakan itu, Min Woo tidak juga menyerah. Ia bahkan sekarang nekat memperalat Young Min. Ia menyuruh temannya yang playboy itu untuk mengorek informasi dari Hye Won. Seperti sekarang ini.
@kantin
“Jadi, dia itu murid pindahan ya? Pantas aku tak pernah melihatnya.” Young Min mengaduk minumannya. Saat ini hanya ada mereka di kantin karena sekarang sudah jam pulang sekolah.
“Iya...tapi ia tidak terlalu suka membicarakan sekolah lamanya.” Hye Won menyeruput Vanilla latte-nya.
“Rumahnya di mana? Apa kamu pernah main ke sana?”
“Belum.  Katanya rumahnya cukup jauh, makanya ia selalu pulang setelah sekolah usai.”
“Dia sudah punya pacar?”
Hye Won menatap Yong Min sejenak. Untuk menjawab pertanyaan  yang satu ini, ia sedikit curiga. Dan lagi, kenapa mereka harus membicarakan Aerie? Padahal sekarang sudah berduaan, tapi malah ngobrolin yang lain. Menyebalkan.
“Sepertinya belum.”
“Benarkah? Baguslah kalau begitu!”
Oppa, kenapa kau mengajakku ke sini?” desis Hye Won. Ucapan Young Min barusan begitu menohoknya. Padahal ia tahu, tapi ia ingin terus berpura-pura kalau Yong Min yang ia idolakan mengajaknya ngobrol setiap hari karena tertarik padanya. Memang Aerie jauh lebih cantik darinya, juga lebih pintar, tapi kenapa harus melalui dirinya? Kenapa ia harus jadi ‘jembatan’ mereka? Hye Won rasa, ia akan menangis sebentar lagi. Menyukai orang yang menyukai orang lain sungguh sangat melelahkan.
“Tentu untuk mengajakmu minum?”
“Atau mencoba PDKT dengan Aerie lewat aku?”
Mwo?”
“Sudahlah sunbae, tidak usah berpura-pura lagi. Aku mengerti.” Kata Hye Won sambil bangkit dari kursinya dan segera berlari meninggalkan kantin karena air matanya sudah tak lagi dapat dibendung.

~~~~Min Woo’s POV
“Ada apa?” tanyaku pada Young Min yang tampak lesu pagi ini.
“Mungkin ada yeoja yang baru menolaknya.” Kata Kwang Min asal sambil meletakkan tas di atas mejanya.
“Tentu saja bukan!” sahut Young Min cepat.
“Lalu?” tanyaku heran. Sudah pasti ini bukan masalah perempuan karena Young Min paling hebat dalam menggaet pacar.
“Ini semua gara-gara kamu!” ia menudingku.
“Apanya?”
“Gara-gara kepengecutanmu itu aku jadi membuat yeoja menangis!”
“Bisa langsung ke inti ga? Aku gak ngerti nih?” sela Kwang Min.
“Padahal kamu tahu Hye Won menyukaiku tapi kau malah menyuruhku bertanya tentang Aerie padanya, tentu saja hatinya jadi terluka!”
“Memangnya kamu suka dia?” sela Kwang Min lagi.
“Aku hanya tidak mau membuat yeoja menangis!” wajah Young Min tampak memerah.
“Kurasa tidak begitu.” Kata Kwang Min sambil menahan tawanya.
“Ah, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ia sangat menyukaimu. Kupikir ia akan suka setidaknya mengobrol denganmu tiap pulang sekolah adalah kesempatan langka.” Aku ngeles.
BABO!!!!” Young Min membanting tasnya kesal lalu pergi ke luar kelas.
“Oow...ada yang marah heiii...” Kwang Min bersenandung sambil mengikuti Young Min, “Maaf Min Woo, sepertinya hyung-ku marah sekali. Aku harus menenangkannya, takut dia nanti jedot-jedotin kepalanya ke tembok. Bye.” Katanya ceria lalu berlari menyusul Young Min.
Arghhh...........!!!
Kenapa hanya untuk tahu tentang seorang yeoja saja jadi rumit begini???
Apa aku harus datang sendiri?
Argh...., aku bisa beku jika bertatapan dengannya!
Aa~~~ ottokhae???
Tiba-tiba hp-ku bergetar, hah?? Eomma?
Ne...yeoboseo?”
“Ah, Min Woo bisakah kamu langsung pulang setelah sekolah usai?”
Waeyo?
“Kita harus datang ke pesta peresmian perusahaan teman appa-mu. Jadi jangan terlambat ya? Ini acara yang penting dan kamu harus ikut! Arra?”
“Ne...arayo.”
Ya sudah, awas jangan terlambat ya!”
Neee...!”
Telepon diputus. Inilah sulitnya menjadi anak tunggal. Appa yang memiliki perusahaan di bidang konstruksi bersikeras aku harus ikut berkecimpung di dunianya mulai dari sekarang. Ampun deh.

~~~~Author’s POV
Acara peresmian yang dirayakan di hotel bintang lima itu ramai didatangi oleh para pengusaha dan orang kaya lainnya. Termasuk keluarga No. Diantara kerumunan para tamu, Min Woo yakin hanya ia-lah satu-satunya remaja di tempat itu. Sungguh sangat sangat membosankan.
Tapi tiba-tiba seorang yeoja melintas di hadapannya. Rambutnya yang hitam ikal tergerai bebas. Tampak cantik sekali dengan dress berbahu terbuka dan yang mengejutkannya adalah ia mengenalinya. O.M.G.
Aerie-ssi versi girly! (kalau di sekolah ia selalu mengenakan  rok selutut, padahal kebanyakan siswi roknya di atas lutut).
Segera ia mengejar Aerie yang berjalan ke arah tempat minum. Beberapa kali ia menabrak orang saking buru-burunya. Ketika tepat berdiri di belakangnya, Min Woo berhenti sebentar. Biasalah, mempersiapkan mental. Dan kali ini ia bertekad untuk tidak bersikap memalukan lagi. Harus gentle dan manly!
“Apa ada yang terluka di  sini sampai kau harus datang?”
Berhasil. Gadis itu menoleh ke belakang, menatap Min Woo yang sudah memasang wajah charming-nya. Dan saat itulah Min Woo sadar betapa cantiknya Aerie.
Dengan make up berkesan girly Aerie tampak seperti manekin bergerak, gaun yang dikenakannya juga sangat manis. Tapi, anehnya Aerie memiliki sorot mata yang berbeda dari biasanya. Membuatnya tidak seperti dirinya.
“Siapa ya?” tanya Aerie.
Mwo??? Tega sekali kau! Aku ini seniormu! Kalau kau memang tidak suka padaku, tidak usah pura-pura tak kenal begitu.”
Sesaat Aerie menatap Min Woo, lalu tersenyum tipis yang sukses membuat jantung Min Woo berpacu lebih cepat.
“Aku bercanda.” Katanya sambil tertawa kecil. Ya ampun, serangan tawanya  membuat Min Woo keringat dingin. Sebelumnya ia tak pernah melihat Aerie tersenyum apalagi tertawa. Dan jujur saja, ia tampak sangat cantik.
“Jadi sedang apa kau di sini?”
“Berpesta?” jawab Aerie polos.
“Kau ini! Kalau itu aku tak perlu tanya.”
Oppa sendiri sedang apa?”
What??? Oppa? O-P-P-A dia bilang? Kata Min Woo dalam hati. Bukannya tak sadar, ia tahu pasti wajahnya sudah memerah. Kupingnya serasa dimanjakan dengan panggilan itu.
“Orang tuaku menculikku kemari.” Katanya sok cool.
“Oh...Kalau begitu kita sama ya oppa!” kata Aerie ceria. Ada apa sih dengannya? Apa ia salah makan? Apa dia baru saja minum soju? Min Woo makin bingung dengan perubahan drastis Aerie. Dan sekali lagi ia memanggilnya oppa, jadi yang tadi juga bukan kerena lidahnya keseleo.
“Kau tampil agak lain dari biasanya.” Kata Min Woo.
“Ahahaha....aku tak mungkin hanya pakai jeans kan?” jawabnya, “apa aku tampak cantik?”
Blush! Wajah Min Woo langsung merah padam ditanya seperti itu. Lalu, ia harus jawab apa? Memang sangat cantik sih, tapi apa ia berani mengatakannya?
Cham yebbeoyo...ah, ya menurutku begitu.” Min Woo jadi salah tingkah. Aerie tersenyum lantas menarik tangan Min Woo dan mengajaknya berdansa.
“Ayo kita berdansa sampai tengah malam!”
Dan mereka benar-benar berdansa sampai lagu terakhir dimainkan oleh orkestra yang di sewa untuk memeriahkan acara. Malam itu, Min Woo merasa seperti charming prince yang sangat beruntung karena bisa berdansa dengan putri cantik yang sudah menghipnotisnya dengan keluwesan tubuhnya.  Min Woo berharap ia bisa selamanya seperti ini.

Bersambung....

| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar