Genre : Romance
Cast :
·
Shin Aerie as you
·
Kang Hye Won as Aerie’s friend
·
No Min Woo
·
Jo Young Min
·
Jo Kwang Min
~~~~Aerie’s POV
Aku melihat wajah Hye Won memerah saking ia semangat
meneriaki tim basket yang begitu diidolakannya. Ok, bukan tim-nya, tapi salah
seorang di antara mereka yang bernama Young Min. Dari tadi kuperhatikan, ia
seperti kebakaran jenggot tiap kali Young Min terdorong atau tersikut oleh
lawan dan merintih seakan ia-lah yang barusan disikut. Sejak bertemu dengan Hye
Won saat aku baru pindah dulu, aku tahu ia menyukai salah satu dari “Jo Twins”
itu. Tapi aku tidak tahu ia sudah seakut ini.
“Bisakah kau diam, setidaknya sisakan tenagamu! Berteriak
tak akan membuat mereka menang!” aku mencoba memperingatkannya. Tapi Hye Won
malah jadi makin semangat meneriaki begitu aksi kolaborasi “Jo Twins” menambah
angka bagi tim-nya.
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Kalau sampai nanti
dia pingsan, aku tak mau menggotongnya ke UKS. Aku pun ada di sini hanya karena
aku menjadi petugas medis. Di acara turnamen tahunan sekolah ini pasti ada saja
kan yang terluka?
Kedudukan sekarang imbang, dan waktu hampir habis. Aku
sebenarnya tidak mengerti aturan mainnya, jadi rasanya tidak seru. Aku lebih
suka sepakbola.
Pertandingan makin sengit, dan tiba-tiba saja dua orang
pemain bertabrakan di udara. Salah seorang dari mereka jatuh dengan posisi yang
salah, membuat kakinya terkilir, sedangkan yang satunya bisa mendarat dengan
sempurna. Penonton langsung ribut, pendukung tim saling menyuraki. Entah siapa
yang salah karena aku hanya melamun dari tadi.
Tiba-tiba Hye Won menarik lenganku dengan ganas,
membuatku terseok-seok mengikutinya dengan kotak P3K di tangan.
“Aduh.....!! sabar sedikit kenapa? Kau bahkan bukan
petugas medis!” sungutku. Tapi ia makin mempercepat langkahnya menuju ke
pinggir lapangan. Namja yang tadi teluka itu sekarang sudah terbaring
di pinggir lapangan dan pertandingan dihentikan sementara. Semua anggota tim
itu tampak kalut dan berteriak memanggil petugas medis, membuatku akhirnya
mempercepat langkahku. Inilah sulitnya jadi petugas medis yang bertugas
sendirian. Harus rela lari-lari!
“Omona.....Min
Woo-oppa...!!” desis Hye Won begitu
kami sampai dan melihat namja itu terbaring sambil menutupi
wajahnya dengan lengan. Aku segera menyeruak kerumunan dan berlutut di dekat
kakinya. Wah, ia benar-benar terkilir selain itu lututnya juga lecet dan
mengeluarkan darah. Dengan telaten dan secepat kilat aku memperban kakinya, tak
peduli rintihan kesakitan namja itu
yang membuat anggota tim lainnya bergidik ngeri.
Sekilas aku menatap Hye Won yang malah terkagum-kagum
dengan Young Min yang ikut berlutut di dekat kepala Min Woo. Aishhh....anak ini, tak mengerti situasi
kondisi apa? Padahal aku sendiri sudah mau muntah berada di sini dengan
cowok-cowok berkeringat yang bau mengelilingi kami. Arggghhhh...........aku
paling tidak tahan bau seperti ini!!!
Wasit sudah tidak bisa lagi menunda pertandingan dan
akhirnya tim itu pun maju dengan 4 orang tanpa Min Woo. Entah apa mereka tidak
memiliki pemain cadangan. Setelah perban itu terlilit rapi, Min Woo dipapah
oleh namja yang entah siapa namanya
untuk pindah ke kursi. Aku mengikuti mereka sambil membawa kotak P3K karena
lututnya belum kuobati. Sedangkan Hye Won yang berjalan mundur agar tetap bisa
melihat Young Min sudah asik beteriak-teriak lagi.
Aku langsung berlutut di hadapannya tanpa sekalipun
menatapnya. Sedangkan Min Woo sendiri tengah serius menyaksikan pertandingan.
Aku pun mulai bekerja karena setelah pertandingan selesai aku boleh pulang.
Kubersihkan lukanya dan kuberi obat merah setelah itu kututup dengan kain kasa.
Tepat ketika aku selesai, aku mendengar suara sorakan yang menandakan usainya
pertandingan. Dan tiba-tiba saja Min Woo bangkit dari kursinya, melonjak
kegirangan dan berteriak heboh, sepertinya ia lupa dengan kakinya. Tapi
lututnya membentur dahiku dengan kerasnya membuatku jatuh terduduk dengan mata
berkunang-kunang.
”Omona!!!! Aerie-ssi!”
Hye Won jerit. Sepertinya ia melihatnya. Aduh, rasanya akan jadi benjol nih.
“Hei, dia kenapa?” tanya salah seorang anggota tim yang
tau-tau sudah ada di sini. Sebelum menyadari ada aku yang terduduk pasrah di
sini mereka masih bersorak-sorak. Min Woo yang sama terkejutnya dengan
teman-temannya kemudian membungkuk dihadapanku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya. Dari suaranya sepertinya
ia merasa bersalah. Tapi aku langsung berdiri, masih mengusap-usap dahiku.
Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung meraih kotak P3K-ku lalu
pergi. Tak lupa juga menyeret Hye Won yang sempat-sempatnya menjeprat-jepretkan
kameranya ke arah Young Min. Aishhhh.....anak
ini membuatku makin kesal saja. Aku terluka parah (?) tapi dia malah sibuk
memenuhi hasrat terdalamnya untuk memiliki album foto Young Min ver.-nya
sendiri.
Aku menyeret langkahku menuju UKS. Disana ada krim yang
setidaknya membuat dahiku bisa lebih baik. Hye Won dari tadi menggerutu dan
sepertinya belum akan berakhir juga. Sedangkan kepalaku mulai terasa pusing.
Sambil memeriksa hasil jepretannya, Hye Won tidur-tiduran
di atas salah satu ranjang di UKS. Sedangkan aku sibuk mengolesi krim itu di
dahiku. Sekilas aku melihat cermin tadi, sepertinya sudah cukup parah. Aduh,
kepalaku cenat-cenut~~
~~~~Min Woo’s
POV
Aku begitu
senangnya ketika akhirnya tim basketku menang setelah Kwang Min mencetak angka
di saat-saat terakhir. Aku bahkan melupakan rasa sakit di kakiku dan melonjak
kegirangan. Tapi tanpa sengaja lututku membentur dahi petugas medis yang sedang
mengobatiku. Gadis itu langsung jatuh teduduk dan tangannya secara refleks
menahan tubuhnya. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya sehingga aku tidak
bisa melihat wajahnya. Ketika teman-temanku datang dengan euforia kemenangannya
aku mencoba belutut di dekat gadis itu.
“Hei dia
kenapa?” tanya Jin Young yang sadar akan keberadaan gadis itu diikuti yang
lain.
Aku akhirnya
hanya bisa membungkuk agar jarak kami tak terlalu jauh, aku merasa sangat
bersalah. Ia sudah mengobatiku tapi aku malah melukainya. Aku ini cowok macam
apa sih?
“Kau baik-baik
saja?” tanyaku. Semoga ia tidak terluka parah. Lututku tadi sudah membentur
dahinya dengan keras sekali.
Tapi gadis itu
hanya diam dan tiba-tiba saja ia pergi setelah menyambar kotak P3K-nya. Ia juga
menarik pergi temannya yang tampak lucu dengan kamera di tangan dan sibuk
mengarahkannya ke Young Min.
“Kau apakan
gadis itu? Sepertinya ia marah.” Kata Kwang Min sambil menatap punggung gadis
itu yang hilang di tikungan.
“Kau ini memang
parah sekali dalam urusan perempuan.” Cibir Young Min sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
Mata-mata yang
menatapku seakan aku telah melakukan hal yang begitu buruk pada gadis itu
membuatku kesal sekaligus malu. Terlebih Young Min yang terkenal playboy.
Bisa-bisanya ia mengejekku begitu hanya karena aku tak se’eksis’ dia dalam
percintaan. Begini-begini aku memiliki banyak fans!
“Sudah-sudah!
Jangan membuatku makin merasa bersalah dong!”
“Memang kamu
yang salah.” Sahut Kwang Min yang berhadiah jitakan di kepalanya.
“Sebaiknya aku
pergi meminta maaf.” Ucapku pada mereka. Orang-orang masih sibuk mengucapkan
selamat pada kami karena memenangkan turnamen olah raga sekolah kami pada
cabang bola basket.
“Kenapa kamu
menatap kami seperti itu?” tanya Young Min sambil mengangkat alis kirinya. Yah,
aku memang sengaja memasang wajah aegyo-ku
dengan maksud, tentunya.
“Antarkan aku
ke tempat cewek itu.”
“Aku tahu kamu
pasti ada maunya.” Gerutu Young Min. Pasrah.
Sedangkan aku
tersenyum lebar. Menang.
***
“Min Woo...kau, sebaiknya diet.” Gumam
Kwang Min sambil terus memapahku. Sedangkan Young Min yang ada di sebelah
kiriku tak berkata apa-apa. Tapi keringat yang membasahi dahinya menunjukkan ia
capek berat. Untuk sampai ke markas tim medis yaitu UKS, kami terpaksa naik ke
lantai dua. Dan hampir saja kami bertiga jatuh berguling di tangga tadi.
Ketika kami berdiri di hadapan pintu
ruang UKS, kami bisa mendengar suara cewek. Salah satu di antaranya sibuk
jejeritan yang isinya memuji-muji Young Min yang tampak keren di pertandingan
basket tadi. Sedangkan suara yang satunya hanya bergumam “oh” saja.
Kwang Min membukakan pintu dan kami
pun masuk. Di dalam ruangan yang serba putih itu aku melihat petugas medis itu
sedang berdiri memunggungi kami.
“Ehm...permisi,” kataku akhirnya. Tapi
cewek itu masih sibuk membereskan peralatnnya sedangkan temannya yang duduk di
atas ranjang melongo menatap Young Min.
“Aerie-ssi.....li, lihat siapa yang
datang!” seru temannya sambil turun dari ranjang dan membalikkan tubuh cewek
itu. Siapa tadi namanya? Aerie?
Gadis itu berbalik dan kini aku bisa
menatapnya dengan jelas. Rambutnya sekarang di jepit agar tidak jatuh di atas
dahinya. Aku bisa melihat dahinya memar. Ya ampun, benar-benar deh aku ini.
Tapi selain lukanya yang lebih menyita perhatianku adalah wajah cantik gadis
itu. Ah maksudku Aerie-ssi.
Kulitnya putih, lebih putih dan bersih
dari temannya. Matanya yang bulat menatap kami datar, tapi justru itu yang
menarik. Sebelumnya semua cewek selalu menatap kami kagum, seperti temannya
itu.
“Ada perlu apa?” tanya Aerie dingin. Tapi tetap membuat dia kelihatan
cantik (ya ampun Min Woo....kenapa kamu begitu mudahnya tersepona sih?).
“Yang tadi...maaf sekali, aku tidak sengaja.” Ucapku gugup,
masalahnya Aerie menatapku terus sih. Aku bisa mendengar Jo Twins mengikik di
balik punggungku. Ini pertama kalinya aku menjadi begitu gugup di depan cewek.
Tapi Aerie banar-benar membuatku grogi dengan tatapannya.
“Ya.” Jawabnya.
Ya? Hanya itu? Tidak ada lagi? Tuhan
kenapa Engkau ciptakan perasaan malu??? Karena sekarang aku malu beraaaaaat.
Aerie sih sepertinya orang yang sangat serius. Aduh, apalagi yang harus aku
ucapkan?
“Kalau tidak ada lagi yang perlu
dibicarakan, aku pamit.” Katanya tiba-tiba dengan ransel berwarna cokelat yang
sudah ada di punggungnya. Dan ia pergi.
Sedangkan kami diam saja. Ya ampun, apa sih yang barusan terjadi? Kenapa kami
semua seakan membeku?
“Yeoja
itu kenapa sih? Dan kau!” Young Min menudingku dengan telunjuknya, “kenapa
tadi kau seperti orang bodoh? Aku malu menyebutmu sebagai temanku! Sekarang kau
harus mentraktir kami minum!”
Loh? Kok begitu?
Tadinya aku mau protes seperti itu
tapi apalah daya, aku memang berhutang pada mereka.
Teman Aerie yang masih berdiri menatap pintu keluar membuatku sadar bukan
hanya aku saja yang kaget di perlakukan begitu.
“Hai...em,, Ireumi mwoyeyo?” kataku. Sebenarnya aku berniat mengorek informasi dari
temannya ini tentang Aerie.
Ia tampak gugup sekali.
“Jeo neun Kang Hye Won ieyo....”
ia juga tampak lucu dengan rambut kepang sampingnya. Menurutku ia lebih cantik
dari pacar-pacar Young Min sebelumnya. Kenapa Young Min tidak sama yang ini
saja ya? Hye Won sepertinya naksir berat pada Young Min karena sejak tadi ia
terus menatap Young Min, juga saat di lapangan tadi. Ia bahkan membawa-bawa
kamera!
Setelah sedikit basa-basi aku
memaksanya ikut ke basecamp kami. Sebenarnya ini masih dalam rangka mengorek
informasi, karena aku masih penasaran dengan Aerie. Entah mengapa, tapi Aerie
sukses membuatku jadi begini. Padahal sebelumnya cewek-cewek-lah yang
menggilaiku. Hm, sepertinya ini jadi menarik....
~~~~Author’s
POV
Mereka
mengelilingi meja yang penuh dengan snack dan minuman. Satu-satunya perempuan
yang ada di sana terus saja menjawab pertanyaan (sebenarnya ia gak sadar sedang
di interogasi) dari trio paling populer di sekolahnya. Terdiri dari cowok-cowok
tajir yang sangat sangat sangat ganteng. Si cewek – Hye Won – naksir berat pada
Young Min yang memiliki rambut berwarna pirang. Dari tadi ia selalu antusias
menjawab setiap pertanyaan, tak peduli dengan maksud tersembunyi trio itu
asalkan ia bisa terus bicara dengan mereka. Ia juga senang sekali karena tak
percaya sudah diajak ke basecamp mereka yang bahkan dalam mimpi pun tak pernah
ia alami. Dalam hati ia berteriak-teriak, karena ia tak mau merusak image-nya
di depan Young Min.
Tak terasa
hari mulai gelap. Dan berkat ‘ancaman’ dari Min Woo akhirnya Young Min
mengantar Hye Won pulang. Ini, kata Min Woo, akan membuat Hye Won tetap jadi
informannya karena ada Young Min. Pasti ia tak akan menolak.
~~~~Aerie’s POV
Sudah hampir 5 menit lebih aku terpaksa mendengarkan cerita Hye Won tentang
pengalamannya kemarin. Mau kuhentikan, tapi gak tega. Ya sudahlah. Toh, hanya
mendengarkan.
“....lalu, lalu Young Min-oppa nganterin
aku pulang. Aku seneng banget!!!” Hye Won histeris.
“iyah...” sahutku sambil membolak-balik brosur beasiswa yang di berikan
oleh Bu Hye Na tadi pagi.
“Ih....seneng banget!!!” pekik Hye Won lagi.
“Iyah...” sahutku dengan penuh kesabaran. Tapi tiba-tiba Hye Won
mencengkram bahuku dan menatapku dengan matanya yang terbelalak.
“AKU SENENG BANGEEETTTTTT......!!!” Hye Won jerit.
“IYA!” aku balas jerit dan
memelototinya.
“Hehehe, maaf...abisnya seneng bang....et.”
Ucapan Hye Won yang menggantung sambil menatap ke belakangku membuatku ikut
melihat ke arah yang sama. Dan di sana, tampak cowok s****n yang kemarin
membuat dahiku benjol dengan dua temannya yang telah membuat cewek-cewek kelas
2 histeris. Ngapain mereka ke lantai 2? Kelas tiga biasanya tidak keliaran di
area kelas dua. Ah, mereka sepertinya berjalan ke arah kami.
“Annyonghaseo....” sapa salah
seorang namja kembar yang berambut
hitam dengan ceria. Entah siapa namanya. Sedangkan dua yang lain hanya
tersenyum dan sukses membuat Hye Won melongo. Aishhh....anak ini, di mana pun dan kapan pun selalu saja begini
jika ada cowok itu.
Malas deh meladeni mereka. Ngapain juga ke sini? Brosur beasiswa ini jadi
jauuuh lebih menarik dari sebelumnya.
“Sunbae...kenapa ke sini?” tanya
Hye Won. Wah, ia berani juga. Padahal dulu ia cuma berani memandangi mereka
dari jauh saja. Bahkan untuk menyapa mereka saja dulu hanya dalam mimpi.
“Ani...hanya ingin main saja.”
Jawabnya. Yakin cuma ‘ingin’ main aja nih?
“Ah, Aerie-ah bisakah kau ikut
mendampingi tim basket kami di kejuaraan antar sekolah nanti sebagai tim
medis?” tanya namja s****n itu. Masih
berani dia mengajakku ngobrol? Bahkan dahiku masih sakit.
“Tidak.” Jawabku cepat agar mereka cepat pergi.
“Waeyo?”
“Malas.”
”Kami akan membayarmu.”
Aku akhirnya mendongak dari brosurku.
“T.I.D.A.K.”
Hening.
“Kalau begitu biar aku saja....!” kata Hye Won dengan semangat.
“Ya, ya...” kataku acuh, kembali menekuni brosur beasiswa itu.
Padahal Hye Won sama sekali tidak tahu tentang prosedur P3K. Ia ikut tes
petugas medis bersamaku kemarin tapi gagal. Dan jujur saja, ia sangat parah dalam
hal ini. Paling-paling para namja itu
akan jadi mumi jika terkilir nanti.
“Yakin tidak mau?” tanya namja itu
lagi.
Aku diam. Akhirnya mereka pamit dan pergi. Ketika mereka sudah benar-benar
pergi Hye Won menatapku tajam.
“Kau itu kenapa sih? Sepertinya alergi sekali dengan mereka.”
“Yah, kira-kira begitu.” Jawabku asal.
“Padahal kalau kamu ikut aku jadi bisa nemenin Young Min-oppa!! Kenapa gak ikut aja sih?”
“Kalau mau ikut ya sana...”
“Hissshhh....kau menyebalkan!”
“o”
~~~~Author’s
POV
Sejak penolakan
itu, Min Woo tidak juga menyerah. Ia bahkan sekarang nekat memperalat Young
Min. Ia menyuruh temannya yang playboy itu untuk mengorek informasi dari Hye
Won. Seperti sekarang ini.
@kantin
“Jadi, dia
itu murid pindahan ya? Pantas aku tak pernah melihatnya.” Young Min mengaduk
minumannya. Saat ini hanya ada mereka di kantin karena sekarang sudah jam
pulang sekolah.
“Iya...tapi
ia tidak terlalu suka membicarakan sekolah lamanya.” Hye Won menyeruput Vanilla
latte-nya.
“Rumahnya di
mana? Apa kamu pernah main ke sana?”
“Belum. Katanya rumahnya cukup jauh, makanya ia
selalu pulang setelah sekolah usai.”
“Dia sudah
punya pacar?”
Hye Won
menatap Yong Min sejenak. Untuk menjawab pertanyaan yang satu ini, ia sedikit curiga. Dan lagi,
kenapa mereka harus membicarakan Aerie? Padahal sekarang sudah berduaan, tapi
malah ngobrolin yang lain. Menyebalkan.
“Sepertinya
belum.”
“Benarkah?
Baguslah kalau begitu!”
“Oppa, kenapa kau mengajakku ke sini?”
desis Hye Won. Ucapan Young Min barusan begitu menohoknya. Padahal ia tahu,
tapi ia ingin terus berpura-pura kalau Yong Min yang ia idolakan mengajaknya
ngobrol setiap hari karena tertarik padanya. Memang Aerie jauh lebih cantik
darinya, juga lebih pintar, tapi kenapa harus melalui dirinya? Kenapa ia harus
jadi ‘jembatan’ mereka? Hye Won rasa, ia akan menangis sebentar lagi. Menyukai
orang yang menyukai orang lain sungguh sangat melelahkan.
“Tentu untuk
mengajakmu minum?”
“Atau
mencoba PDKT dengan Aerie lewat aku?”
“Mwo?”
“Sudahlah sunbae, tidak usah berpura-pura lagi.
Aku mengerti.” Kata Hye Won sambil bangkit dari kursinya dan segera berlari
meninggalkan kantin karena air matanya sudah tak lagi dapat dibendung.
~~~~Min Woo’s POV
“Ada apa?” tanyaku pada Young Min yang tampak lesu pagi ini.
“Mungkin ada yeoja yang baru
menolaknya.” Kata Kwang Min asal sambil meletakkan tas di atas mejanya.
“Tentu saja bukan!” sahut Young Min cepat.
“Lalu?” tanyaku heran. Sudah pasti ini bukan masalah perempuan karena Young
Min paling hebat dalam menggaet pacar.
“Ini semua gara-gara kamu!” ia menudingku.
“Apanya?”
“Gara-gara kepengecutanmu itu aku jadi membuat yeoja menangis!”
“Bisa langsung ke inti ga? Aku gak ngerti nih?” sela Kwang Min.
“Padahal kamu tahu Hye Won menyukaiku tapi kau malah menyuruhku bertanya
tentang Aerie padanya, tentu saja hatinya jadi terluka!”
“Memangnya kamu suka dia?” sela Kwang Min lagi.
“Aku hanya tidak mau membuat yeoja menangis!”
wajah Young Min tampak memerah.
“Kurasa tidak begitu.” Kata Kwang Min sambil menahan tawanya.
“Ah, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ia sangat menyukaimu. Kupikir ia
akan suka setidaknya mengobrol denganmu tiap pulang sekolah adalah kesempatan
langka.” Aku ngeles.
“BABO!!!!” Young Min membanting tasnya kesal
lalu pergi ke luar kelas.
“Oow...ada yang marah heiii...” Kwang Min bersenandung sambil mengikuti
Young Min, “Maaf Min Woo, sepertinya hyung-ku
marah sekali. Aku harus menenangkannya, takut dia nanti jedot-jedotin kepalanya
ke tembok. Bye.” Katanya ceria lalu berlari menyusul Young Min.
Arghhh...........!!!
Kenapa hanya untuk tahu tentang seorang yeoja
saja jadi rumit begini???
Apa aku harus datang sendiri?
Argh...., aku bisa beku jika bertatapan dengannya!
Aa~~~ ottokhae???
Tiba-tiba hp-ku bergetar, hah?? Eomma?
“Ne...yeoboseo?”
“Ah, Min Woo bisakah kamu langsung pulang
setelah sekolah usai?”
“Waeyo?”
“Kita harus datang ke pesta peresmian perusahaan teman appa-mu. Jadi jangan terlambat ya? Ini acara yang penting dan kamu
harus ikut! Arra?”
“Ne...arayo.”
“Ya sudah, awas jangan terlambat ya!”
“Neee...!”
Telepon diputus. Inilah sulitnya menjadi anak tunggal. Appa yang memiliki perusahaan di bidang konstruksi bersikeras aku
harus ikut berkecimpung di dunianya mulai dari sekarang. Ampun deh.
~~~~Author’s
POV
Acara
peresmian yang dirayakan di hotel bintang lima itu ramai didatangi oleh para
pengusaha dan orang kaya lainnya. Termasuk keluarga No. Diantara kerumunan para
tamu, Min Woo yakin hanya ia-lah satu-satunya remaja di tempat itu. Sungguh
sangat sangat membosankan.
Tapi
tiba-tiba seorang yeoja melintas di
hadapannya. Rambutnya yang hitam ikal tergerai bebas. Tampak cantik sekali
dengan dress berbahu terbuka dan yang mengejutkannya adalah ia mengenalinya.
O.M.G.
Aerie-ssi
versi girly! (kalau di sekolah ia selalu mengenakan rok selutut, padahal kebanyakan siswi roknya
di atas lutut).
Segera ia
mengejar Aerie yang berjalan ke arah tempat minum. Beberapa kali ia menabrak
orang saking buru-burunya. Ketika tepat berdiri di belakangnya, Min Woo
berhenti sebentar. Biasalah, mempersiapkan mental. Dan kali ini ia bertekad
untuk tidak bersikap memalukan lagi. Harus gentle dan manly!
“Apa ada
yang terluka di sini sampai kau harus
datang?”
Berhasil.
Gadis itu menoleh ke belakang, menatap Min Woo yang sudah memasang wajah
charming-nya. Dan saat itulah Min Woo sadar betapa cantiknya Aerie.
Dengan make
up berkesan girly Aerie tampak seperti manekin bergerak, gaun yang dikenakannya
juga sangat manis. Tapi, anehnya Aerie memiliki sorot mata yang berbeda dari
biasanya. Membuatnya tidak seperti dirinya.
“Siapa ya?”
tanya Aerie.
“Mwo??? Tega sekali kau! Aku ini
seniormu! Kalau kau memang tidak suka padaku, tidak usah pura-pura tak kenal
begitu.”
Sesaat Aerie
menatap Min Woo, lalu tersenyum tipis yang sukses membuat jantung Min Woo
berpacu lebih cepat.
“Aku
bercanda.” Katanya sambil tertawa kecil. Ya ampun, serangan tawanya membuat Min Woo keringat dingin. Sebelumnya
ia tak pernah melihat Aerie tersenyum apalagi tertawa. Dan jujur saja, ia
tampak sangat cantik.
“Jadi sedang
apa kau di sini?”
“Berpesta?”
jawab Aerie polos.
“Kau ini!
Kalau itu aku tak perlu tanya.”
“Oppa sendiri sedang apa?”
What??? Oppa? O-P-P-A dia bilang? Kata Min Woo
dalam hati. Bukannya tak sadar, ia tahu pasti wajahnya sudah memerah. Kupingnya
serasa dimanjakan dengan panggilan itu.
“Orang tuaku
menculikku kemari.” Katanya sok cool.
“Oh...Kalau
begitu kita sama ya oppa!” kata Aerie
ceria. Ada apa sih dengannya? Apa ia salah makan? Apa dia baru saja minum soju? Min Woo makin bingung dengan
perubahan drastis Aerie. Dan sekali lagi ia memanggilnya oppa, jadi yang tadi juga bukan kerena lidahnya keseleo.
“Kau tampil
agak lain dari biasanya.” Kata Min Woo.
“Ahahaha....aku
tak mungkin hanya pakai jeans kan?” jawabnya, “apa aku tampak cantik?”
Blush! Wajah
Min Woo langsung merah padam ditanya seperti itu. Lalu, ia harus jawab apa?
Memang sangat cantik sih, tapi apa ia berani mengatakannya?
“Cham yebbeoyo...ah, ya menurutku begitu.” Min
Woo jadi salah tingkah. Aerie tersenyum lantas menarik tangan Min Woo dan
mengajaknya berdansa.
“Ayo kita berdansa sampai tengah malam!”
Dan mereka benar-benar berdansa sampai lagu terakhir dimainkan oleh
orkestra yang di sewa untuk memeriahkan acara. Malam itu, Min Woo merasa
seperti charming prince yang sangat beruntung karena bisa berdansa dengan putri
cantik yang sudah menghipnotisnya dengan keluwesan tubuhnya. Min Woo berharap ia bisa selamanya seperti
ini.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar